Umsura Gaungkan Pesan Damai Saat Konflik AS-Israel Vs Iran

Umsura Gaungkan Pesan Damai Saat Konflik AS-Israel Vs Iran

Esti Widiyana - detikJatim
Selasa, 03 Mar 2026 23:20 WIB
UMSURA Gaungkan Pesan Damai Saat Konflik AS-Israel Vs Iran
UMSURA Gaungkan Pesan Damai Saat Konflik AS-Israel Vs Iran. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Konflik antara AS-Israel dengan Iran masih memanas di Timur Tengah sejak Sabtu (28/2). Seruan perdamaian kian mendesak untuk digaungkan, seperti Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Fakultas Hukum (FH) Umsura menggelar kuliah tamu internasional bertajuk 'International Law, Islamic Civilization Cooperation, and Future Peace: A Comprehensive Dialogue Between Iran and Indonesia' menghadirkan akademisi asal Iran, Dr Amir Rezaei Panah. Kuliah tersebut membahas peran hukum internasional serta kerja sama peradaban Islam dalam mewujudkan perdamaian masa depan.

Selain forum diskusi akademik, juga melakukan aksi simbolik berupa penancapan bendera berbagai negara pada peta dunia sebagai lambang persatuan dan harapan akan perdamaian global. Baik Rektor Umsura Prof Mundakir, Amir Rezaei Panah, serta mahasiswa internasional dari Uzbekistan, Pakistan, Yaman, Mali, Sudan, Afghanistan, dan ratusan mahasiswa FK turut serta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rektor Umsura Prof Mundakir mengatakan, kuliah umum ini merupakan tindak lanjut kerja sama akademik yang telah terjalin sebelumnya. Dimana FH pernah melakukan kunjungan ke Iran dan kini mendapat kunjungan balasan dari akademisi Iran untuk memperkuat kolaborasi keilmuan.

"Tema hukum internasional dalam menciptakan perdamaian sangat relevan dengan situasi global saat ini. Sebagai masyarakat kampus yang menjunjung nilai kemanusiaan dan cinta damai, kami menyerukan pentingnya perdamaian global di tengah konflik yang terjadi," kata Mundakir kepada wartawan di kampus, Selasa (3/3/2026)

ADVERTISEMENT

Amir Rezaei Panah akademisi dari Shahid Beheshti University, Teheran, menekankan pentingnya kebangkitan kembali cara hidup Islami yang progresif dan berpusat pada iman. Menurutnya, gaya hidup Islami mengintegrasikan spiritualitas, etika, serta kemajuan teknologi dan pembangunan secara harmonis.

"Strategi utama untuk menghidupkan kembali cara hidup Islami adalah melalui pendekatan peradaban dan penguatan identitas. Masa depan harus dilihat melalui lensa budaya dan peradaban, dengan realisme dan pragmatisme, bukan terjebak pada perpecahan masa lalu," jelasnya.

Sementara Dekan FH Umsura Satria Unggul Wicaksana menilai, eskalasi konflik yang terjadi telah melampaui manuver politik dan mengarah pada realitas perang terbuka. Dia juga menyoroti dampak kemanusiaan yang ditimbulkan, termasuk jatuhnya korban sipil.

"Ketika diplomasi diabaikan dan digantikan oleh kekuatan militer, dunia tidak hanya kehilangan kedamaian, tetapi juga kehilangan akal sehat," ujarnya.

Menurutnya, di tengah situasi tersebut, Indonesia memiliki peran strategis melalui politik luar negeri Bebas-Aktif. "Berlandaskan amanat konstitusi untuk turut serta dalam menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, Indonesia dinilai dapat menjadi kekuatan lunak yang mendorong penyelesaian konflik secara damai," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads