Tradisi Malam Selawe selalu menjadi salah satu momen yang paling dinantikan warga Gresik setiap Ramadan. Pada malam ke-25 Ramadan, ribuan warga biasanya memadati kawasan menuju Makam Sunan Giri untuk berziarah, berdoa, sekaligus merasakan suasana kebersamaan yang telah menjadi tradisi turun-temurun.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bersama panitia kembali menyiapkan rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Malam Selawe. Sebanyak 2.000 porsi nasi kebuli dan 500 kupat keteg disiapkan untuk dibagikan kepada jemaah yang hadir.
Pelaksanaan Malam Selawe dipusatkan di sepanjang kawasan depan Kantor Kecamatan Kebomas hingga area Makam Sunan Giri. Selain kegiatan religius, kawasan tersebut juga akan diramaikan bazar yang menghadirkan puluhan pelaku UMKM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Camat Kebomas Tri Joko Efendi mengatakan persiapan kegiatan saat ini hampir rampung. Panitia tinggal menyelesaikan penataan lokasi serta, pemasangan fasilitas pendukung kegiatan.
"Insyaallah untuk persiapan kegiatan sudah mencapai sekitar 90 persen. Hari Sabtu kemungkinan sudah dilakukan loading tenda untuk stan UMKM dan para pedagang sudah mulai berjualan," katanya, Jumat (13/3/2026).
Malam Selawe sendiri merupakan tradisi religius masyarakat Gresik yang telah berlangsung sejak lama. Pada malam tersebut, warga biasanya mendatangi Makam Sunan Giri untuk bermunajat bersama, memperbanyak dzikir, serta memanjatkan doa pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Rangkaian acara tahun ini akan diawali dengan munajat bersama serta pembacaan 1.000 surat Al-Ikhlas yang diikuti para jemaah. Setelah itu, panitia akan membagikan makanan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah Ramadan.
Salah satu hidangan yang disiapkan adalah nasi kebuli, kuliner berempah yang dikenal memiliki cita rasa gurih dan aroma khas. Nasi ini dimasak dengan campuran berbagai rempah seperti kapulaga, kayu manis, dan cengkeh, yang biasanya disajikan bersama daging kambing atau ayam.
Selain itu, panitia juga menyiapkan kupat keteg. Ketupat khas yang identik dengan tradisi Malam Selawe di Gresik. Ketupat ini biasanya digantung pada batang bambu atau kayu panjang sebelum dibagikan kepada jamaah yang datang. Cara penyajiannya yang digantung tersebut menjadi asal-usul penyebutan 'keteg'.
Tahun ini, Malam Selawe juga akan diramaikan 50 hingga 60 stan bazar UMKM yang menjajakan berbagai jajanan khas Gresik tempo dulu. Kehadiran bazar tersebut diharapkan tidak hanya memeriahkan acara, tetapi juga mengenalkan kembali kuliner tradisional kepada masyarakat.
"Kami ingin mengedukasi masyarakat agar memberikan makanan yang bergizi dan sehat. Harapannya anak-anak kita di masa depan bisa tumbuh sehat dan terhindar dari berbagai penyakit," jelas Tri Joko.
Pemerintah Kecamatan Kebomas juga mendorong setiap desa untuk mengembangkan produk unggulan melalui program satu desa satu produk. Dengan begitu, ketika wisatawan datang ke kawasan tersebut, mereka dapat mengenal berbagai produk khas dari desa-desa di Gresik.
"Ketika ada wisatawan datang, desa tersebut bisa memperkenalkan produk UMKM yang menjadi kekhasan wilayahnya," pungkasnya.
(ihc/dpe)











































