Masyarakat kian ramai berburu kue kering jelang Lebaran. Ada yang memilih berbelanja langsung di pasar maupun pusat perbelanjaan, tak sedikit pula yang melakukan pemesanan secara online.
Kue kering sendiri memang menjadi suguhan yang hampir selalu hadir saat Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari nastar, kastengel hingga putri salju biasanya tersaji di meja tamu. Namun di balik kelezatannya, masyarakat diimbau lebih cermat dalam memilih kue kering agar aman dan tetap baik dikonsumsi.
Ahli gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Mahmud Aditya Rifqi mengatakan, masyarakat perlu memahami penggunaan bahan tambahan pangan dalam produk kue kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, penggunaan pengawet, pemanis, maupun pewarna sebenarnya diperbolehkan oleh aturan selama masih sesuai jenis dan batas aman yang telah ditetapkan.
"Penggunaan bahan tambahan pangan diperbolehkan oleh undang-undang dan BPOM selama sesuai dengan jenis dan batas aman yang telah ditentukan," ujar Mahmud, Kamis (12/3/2026).
Namun, masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan penggunaan bahan tambahan yang tidak terdaftar oleh produsen nakal.
Selain itu, kualitas kue kering juga bisa dikenali dari tampilan fisiknya. Mahmud menyarankan konsumen memperhatikan warna dan aroma sebelum membeli.
"Jika warna kue tampak sangat mencolok atau tidak natural, sebaiknya dihindari. Selain itu jika saat dicicipi sudah muncul rasa atau aroma tengik, itu menandakan lemak dalam kue telah teroksidasi dan sebaiknya tidak dikonsumsi," terangnya.
Tak hanya dari bahan baku, kualitas kue kering juga ditentukan oleh cara pengemasannya. Konsumen disarankan selalu mengecek tanggal kedaluwarsa maupun keterangan pada label produk.
"Pastikan kemasan tidak bocor, pecah atau retak. Kebersihan segel juga penting, terutama untuk produk yang dijual di area terbuka yang rentan terpapar polusi," tambahnya.
Mahmud pun mengingatkan agar konsumen memperhatikan izin edar produk. Hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa produk telah melalui proses pengawasan keamanan pangan.
Bagi produk UMKM atau industri rumahan, ia menegaskan standar keamanan tetap harus diperhatikan. Wadah kue kering sebaiknya sudah tersegel rapat sejak dari produsen untuk mencegah kontaminasi dari luar.
Ia juga menambahkan, kue kering dengan isian krim atau lapisan cokelat cenderung lebih cepat rusak sehingga sebaiknya disimpan di tempat sejuk atau lemari es agar kualitasnya tetap terjaga
Selain memilih produk yang aman, masyarakat juga diimbau bijak dalam mengonsumsi kue kering selama Lebaran. Mahmud menyarankan penerapan prinsip 3J, yakni jenis, jumlah, dan jadwal.
Ia menjelaskan, kue kering sebaiknya hanya dikonsumsi sebagai makanan selingan dengan porsi sekitar 10-20 persen dari total kebutuhan kalori harian agar tidak memicu lonjakan gula darah setelah menjalani puasa Ramadan.
"Jika punya waktu luang, membuat kue sendiri dengan bahan rendah kalori bisa menjadi pilihan agar komposisi lebih terkontrol. Namun jika membeli di luar, kontrol diri menjadi kunci," pungkasnya.
(auh/hil)
