Pengamat Imbau Masyarakat Tak Panik Sikapi Serangan AS ke Iran

Pengamat Imbau Masyarakat Tak Panik Sikapi Serangan AS ke Iran

Aprilia devi - detikJatim
Sabtu, 07 Mar 2026 08:30 WIB
Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Gigih Prihantono
Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Gigih Prihantono (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Meski begitu, masyarakat diminta tidak langsung panik karena pemerintah dinilai masih memiliki sejumlah langkah antisipasi.

Pengamat ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Gigih Prihantono mengatakan, salah satu dampak yang perlu diwaspadai dari konflik tersebut adalah terganggunya jalur distribusi minyak dunia, terutama jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu lama.

"Kita memang berharap supaya perang ini segera berakhir ya, termasuk Selat Hormuz segera dibuka," ujar Gigih saat dihubungi detikJatim, Jumat (6/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gigih menjelaskan, penutupan jalur strategis tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Namun menurutnya kondisi saat ini belum berada pada tahap yang terlalu ekstrem.

"Memang ada beberapa kekhawatiran. Yang pertama, pasokan minyak kita bisa turun. Tapi kalau kita lihat dari pemerintah sepertinya tidak seekstrem itu. Mungkin kita masih bisa safety mungkin di angka sekitar satu bulanan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Ia menuturkan, masyarakat tidak perlu langsung panik karena pasokan energi Indonesia tidak hanya bergantung pada Selat Hormuz. Meski demikian, dampak lanjutan yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga minyak dunia.

"Masyarakat sebenarnya tidak perlu panik karena memang suplainya kan enggak cuma dari Selat Hormuz saja. Yang kedua ya memang kita menjadi was-was terutama ikutannya adalah kenaikan harga minyak dunia," katanya.

Gigih menilai lonjakan harga minyak global berpotensi memberi tekanan pada perekonomian dalam negeri, terutama jika berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM). Karena itu pemerintah diminta mengantisipasi agar kenaikannya tidak terlalu tinggi.

"(Kenaikan harga BBM) itu perlu kita antisipasi kenaikan yang terlalu tinggi," tambahnya.

Selain langkah antisipasi di dalam negeri, Gigih juga menilai pemerintah perlu memperkuat jalur diplomasi dengan Iran untuk memastikan keamanan distribusi minyak bagi Indonesia. Menurutnya komunikasi diplomatik penting agar kapal tanker Indonesia tidak menjadi sasaran dan tetap bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman.

"Yang paling dekat ya harus diplomasi, harus segera melakukan negosiasi dengan Iran supaya tanker kita tidak menjadi sasaran dan bisa keluar dari Selat Hormuz dengan aman," bebernya.

Ia juga menilai pemerintah juga perlu mempertimbangkan kembali sejumlah kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan konflik tersebut, termasuk kemungkinan keluar dari Board of Peace (BoP) agar ruang negosiasi dengan Iran bisa lebih terbuka.

"Jadi salah satunya ya memang kita perlu untuk mempertimbangkan langkah-langkah apakah mungkin bisa keluar dari Board of Peace (BoP) misalnya. Itu harus ditimbang ulang supaya kita bisa melakukan negosiasi dengan pihak Iran," jelasnya.

Gigih kembali menegaskan masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap situasi tersebut. Ia menyarankan publik mengikuti informasi resmi dari pemerintah sambil menunggu perkembangan situasi global.

"Masyarakat tidak perlu panik karena kalau panik kita sendiri yang rugi," pungkasnya.

Diketahui, serangan AS dan Israel ke Iran dalam beberapa waktu terakhir memicu konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut juga berdampak pada penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran utama distribusi minyak dunia.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads