Menggapai Malam Lailatul Qadar, Kapan Waktu Membaca Surat Al-Qadr?

Menggapai Malam Lailatul Qadar, Kapan Waktu Membaca Surat Al-Qadr?

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 04 Mar 2026 01:00 WIB
Ilustrasi malam Lailatul Qadar.
Ilustrasi malam Lailatul Qadar. Foto: Getty Images/iStockphoto/oxinoxi
Surabaya -

Di antara malam-malam di bulan suci Ramadhan, terdapat satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam tersebut dipenuhi kemuliaan, keberkahan, dan limpahan rahmat Allah SWT.

Malam agung tersebut diabadikan dalam surat Al-Qadr. Melalui lima ayat singkat namun sarat makna, Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam turunnya Al-Qur'an, serta kemuliaan yang menyertainya hingga terbit fajar.

Lantas, kapan waktu terbaik membaca surah Al-Qadr? Apakah hanya pada malam Lailatul Qadar, ataukah bisa diamalkan setiap saat? Pertanyaan ini kerap muncul, terutama ketika umat Islam memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan dan berlomba-lomba meraih keutamaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artikel ini akan mengulas makna, kandungan, serta waktu yang dianjurkan untuk membaca surat Al-Qadr, lengkap dengan penjelasan para ulama mengenai rahasia dan kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Surat Al-Qadr?

Surat Al-Qadr adalah surah Makiyyah yang terdiri dari 5 ayat, 30 kalimat, dan 121 huruf. Surah ini dinamakan Al-Qadr, yang memiliki arti keagungan dan kemuliaan karena pada malam itu Allah SWT menurunkan Al-Qur'an.

Surah ini tidak bermaksud untuk menentukan waktu kapan diturunkannya Al-Qur'an, melainkan menjadi pengingat kaum muslimin tentang wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad pada Perang Badar, tepatnya pada 17 Ramadhan.

Di dalam wahyu tersebut, berisikan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum perang, para malaikat, dan kemenangan. Perang Badar kemudian dinamakan hari Furqan yang artinya pembeda karena hari itu membedakan antara hak kebenaran dan kebatilan.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir (Damaskus: Darul Fikr, 1991: XXX/330) mengatakan, dalam surah Al-Alaq, Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk membaca Al-Qur'an dengan Nama Tuhan yang telah menciptakan dan dengan nama Dzat yang telah mengajarkan manusia mengenai hal yang belum dia ketahui.

Sedangkan dalam surah Al-Qadr ini, Allah SWT menjelaskan waktu awal turunnya Al-Qur'an, yaitu pada malam Lailatul Qadar, suatu malam yang penuh dengan kemuliaan dan keistimewaan karena Al-Qur'an turun pada malam tersebut.

Kandungan Surat Al-Qadar

NU Online menukil Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir (halaman 330), dikatakan bahwa surah Makkiyyah ini berbicara tentang sejarah awal turunnya Al-Qur'anul Karim serta keutamaan malam Lailatul Qadar dibandingkan dengan hari, malam, dan bulan lainnya karena para malaikat.

Termasuk Jibril turun ke bumi dengan membawa berbagai macam cahaya, keutamaan, keberkahan, dan kebaikan yang berasal dari Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan saleh. Terdapat beberapa pesan dan hukum yang terkandung dalam surat Al-Qadr menurut Syekh Wahbah sebagai berikut.

  • Permulaan turunnya Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar, salah satu malam di bulan Ramadhan yang penuh berkah.
  • Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan dan keagungan, serta malam penetapan dan takdir. Di malam itu, Allah SW'T menakdirkan segala perkara yang Dia kehendaki selama setahun ke depan, termasuk perkara kehidupan, rezeki, dan kematian. Setelah ketetapan ini ditentukan, Allah menyerahkannya kepada para malaikat yang bertugas menjalankannya, yaitu Israfil, Mika'il, Izra'il, dan Jibril.
  • Amal saleh di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amal saleh dalam seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar-nya. Di malam tersebut, banyak kebaikan dibagikan yang tidak akan didapati dalam seribu bulan.
  • Para malaikat turun ke bumi dari setiap penjuru langit dan Sidratul Muntaha, termasuk Jibril yang bertempat di antara langit dan Sidratul Muntaha. Mereka turun pada malam Lailatul Qadar atas perintah Allah karena setiap perkara yang telah ditakdirkan oleh Allah pada tahun tersebut hingga satu tahun ke depan dan mereka mengamini doa manusia hingga terbitnya fajar.
  • Malam tersebut adalah malam keamanan, keselamatan, kebaikan, dan keberkahan dari Allah SWT. Sementara itu, di malam-malam selainnya, Allah SWT menakdirkan keselamatan dan bencana.

Seluruh malam tersebut berisi kebaikan, tidak ada kejelekan hingga terbit fajar dan mencakup segala bentuk kebaikan, keberkahan, takdir, rezeki, manfaat agama, dan dunia. Sedangkan, setan tidak dapat melakukan kejahatan dan gangguan pada malam yang selamat dari pengaruh setan terhadap kaum mukminin ini.

Keutamaan Membaca Surah Al-Qadr

NU Online menukil Imam Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta'wil atau yang lebih terkenal dengan nama Tafsir Al-Baidhawi, mengatakan bahwa membaca surah Al-Qadr memiliki keutamaan sebagai berikut.

عن النبي ﷺ :من قرأ سورة القدر أعطي من الأجر كمن صام رمضان وأحيا ليلة القدر

Artinya: Dari Nabi Muhammad saw, "Barangsiapa membaca Surah Al-Qadr, maka ia akan diberi pahala layaknya orang yang berpuasa di bulan Ramadhan serta pahalanya orang yang menghidup-hidupkan malam Lailatul Qadar. (Imam Nasiruddin al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta'wil, [Beirut, Dar Ihya'it Turats Al-'Araby, 1418:V/327).

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan umat-umat lainnya adalah malam Lailatul Qadar, malam yang lebih utama daripada seribu bulan. Dalam kitab Ahkamul Qur'an, Ibnu 'Arabi (1165-1240 M) menjelaskan dengan mengutip pendapat Al-Qadli:

"Sungguh umat Muhammad saw telah mendapat anugerah yang tidak akan diberikan kepada umat lain selamanya. Yaitu: Pertama, melakukan shalat lima waktu dengan pahala sebesar shalat lima puluh waktu. Kedua, berpuasa bulan Ramadhan dibalas sebesar puasa selama satu tahun. Ketiga, zakatnya cukup seperempat dari sepersepuluh. Keempat, membaca akhir Surah al-Baqarah pahalanya seperti ibadah satu malam full. Kelima, shalat Subuh pahalanya seperti ibadah satu malam full. Keenam, shalat Isya pahalanya seperti menghidupkan separuh malam. Ketujuh, anugerah yang tidak ada tandingannya, yaitu malam Lailatul Qadar yang lebih utama daripada 1000 bulan." (Lihat Ahkamul Qur'an li Ibni 'Arabi, juz 4, hal. 428)

Ibnu 'Arabi juga mengutip penjelasan Imam malik dalam al-Muwattha, menyebutkan riwayat Ibnu Qasim dan yang lainnya:

سمعت من أثق به يقول: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أري أعمار الأمم قبله ، فكأنه تقاصر أعمار أمته ألا يبلغوا من العمل مثل ما بلغ غيرهم في طول العمر ، فأعطاه الله ليلة القدر ، وجعلها خيرا من ألف شهر.

Artinya: Aku mendengar seorang yang terpercaya berkata, "Sungguh, Rasulullah saw pernah diperlihatkan usia umat-umat terdahulu. (Melihat itu) Nabi pesimis bahwa usia umatnya tidak akan mampu untuk mencapai amal ibadah yang dilakukan umat-umat tersebut. Kemudian Allah swt memberikan Nabi (dan umatnya) malam Lailatul Qadar yang lebih utama dari seribu bulan. (Lihat Ahkamul Qur'an li Ibni 'Arabi, juz 4, hal. 428)

Dengan demikian, apa yang dijelaskan Ibnu 'Arabi di atas sudah sangat jelas, yaitu syari'at umat Nabi adalah syari'at yang begitu sempurna karena memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki umat-umat terdahulu. Salah satu di antaranya adalah malam Lailatul Qadar dengan keunggulannya yang tidak tertandingi.

Kapan Malam Lailatul Qadar?

Hingga saat ini, malam Lailatul Qadar tidak bisa dipastikan kapan persisnya karena memang Allah SWT merahasiakannya. Malam Lailatul Qadar masih bisa diprediksi melalui pendapat para ulama, salah satunya oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani (1372-1449 M), salah satu ulama hadis terkemuka dari mazhab Syafi'i.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan ada 45 pendapat mengenai ketetapan waktu malam Lailatul Qadar. Di antara 45 pendapat tersebut, Ibnu Hajar menyebut yang paling unggul (rajih) adalah pendapat yang mengatakan malam Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Dengan kata lain, malam Lailatul Qadar akan jatuh di malam yang berbeda setiap tahunnya. Dari tanggal-tanggal ganjil itu, yang paling potensial adalah tanggal 21 dan 23 Ramadhan.

Sebagaimana pendapat Imam Syafi'i. Sementara menurut mayoritas ulama adalah malam tanggal 27 Ramadhan. (Lihat Fathul Bari, juz 5, halaman 569) Adapun dalil-dalil yang mendasari argumen Ibnu Hajar di atas sebagai berikut.

ي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، ويقول: «تَحَرَّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ». متفقٌ عَلَيْهِ.

Artinya: Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: 'Carilah lailatul qadar itu dalam malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan." (Muttafaq 'alaih)

Dikerucutkan oleh hadis berikut.

وعنها رضي الله عنها: أنَّ رسولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ». رواه البخاري.

Artinya: Dari Aisyah ra pula, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: 'Carilah lailatul qadar itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan." (HR Bukhari)

Atas dasar dua hadits di atas, Ibnu Hajar mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Tepatnya pada malam-malam tanggal ganjil.

Berikutnya, pendapat yang mengatakan terjadi pada lama ke-23 bulan Ramadhan. Pendapat ini didukung oleh Imam Syafi'i. Dalam satu hadits dijelaskan, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Unais bertanya perihal malam Lailatul Qadar.

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ الْمُبَارَكَةَ

Artinya: Wahai Rasulullah, kapankah kami bisa memperoleh malam penuh berkah ini?

Rasulullah menjawab,

الْتَمِسُوهَا هَذِهِ اللَّيْلَةَ)وَقَالَ وَذَلِكَ مَسَاءَ لَيْلَةِ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ)

Artinya: Carilah pada malam ini (malam 23 Ramadhan)

Selanjutnya, pendapat yang mengatakan terjadi pada malam ke-27 bulan Ramadhan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama berdasarkan atsar Ubay bin Ka'ab sebagai berikut.

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: (وَاللَّهِ إِنِّي لأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Artinya: Dari Ubay bin Ka'ab: 'Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menegakkan salat padanya, yaitu malam ke-27." (HR Muslim)

Sementara pendapat yang mengatakan tidak menentu, dalam artian berpindah-pindah setiap tahunnya, bukan hanya tanggal 23 atau 27 saja, berdasarkan banyak riwayat. Di mana setiap riwayatnya ada yang mengatakan tanggal 21, 23, 27, dan 29.

Meski demikian, hikmah yang paling penting di balik dirahasiakannya malam Lailatul Qadar menurut Ibnu Hajar adalah supaya umat Islam bersungguh-sungguh dalam berusaha memperolehnya dengan kesungguhan ibadah. Berbeda halnya jika ditentukan pada tanggal sekian, khawatir kesungguhan ibadahnya hanya malam itu saja. (Lihat Fathul Bari, juz 5, hal. 155)

Surat Al-Qadr dan Artinya

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ۝٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ۝٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ۝٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ۝٥

Arab Latin: Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr, wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr, lailatul-qadri khairum min alfi syahr, tanazzalul-malâ'ikatu war-rûḫu fîhâ bi'idzni rabbihim, ming kulli amr, salâmun hiya ḫattâ mathla'il-fajr.

Artinya: (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar. (2) Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? (3) Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. (4) Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. (5) Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr: 1-5)

Sebagai penutup, meskipun waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak pernah diketahui secara pasti, demikian pula tidak ada ketentuan khusus mengenai waktu membaca surat Al-Qadr, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan berbagai amal ibadah.

Salah satunya adalah membaca surat Al-Qadr sebagai bentuk penghayatan terhadap kemuliaan malam turunnya Al-Qur'an. Dengan memperbanyak ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan ridha Allah SWT dan keberkahan Lailatul Qadar.

Terlebih lagi, membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan memiliki keutamaan pahala yang berlipat ganda, sehingga menjadi kesempatan berharga untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads