Penyintas Tanah Longsor Jombang Bertahan Hidup dengan Jualan Es

Penyintas Tanah Longsor Jombang Bertahan Hidup dengan Jualan Es

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Minggu, 01 Mar 2026 06:30 WIB
Widiyawati (44), penyintas longsor asal Desa Sambirejo, Wonosalam, Jombang
Widiyawati (44), penyintas longsor asal Desa Sambirejo, Wonosalam, Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Jombang -

Widiyawati (44) dan putranya, M Makruf (15) meniti hidup berdua setelah tanah longsor merenggut suami, putri dan harta bendanya. Penyintas asal Dusun Banturejo, Desa Sambirejo, Wonosalam, Jombang kini tinggal di rumah kontrakan sambil jualan es.

Widiyawati hidup layak di rumah berlantai 3 dari adik kandungnya yang bekerja di Hongkong. Rumah seluas 11x11 meter persegi ini ia huni bersama suami, Ducha Ismail (56) dan 2 anaknya. Yaitu Makruf dan Duwi ayu wandira atau Andin (9).

"Dulu saya jualan online, karpet bulu dan makanan," kata Widiyawati di rumah kontrakannya, Desa Mojounggul, Bareng, Jombang, Sabtu (28/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumah dan harta benda Widiyawati lenyap dalam sejekap karena tanah longsor setahun lalu. Begitu pula nyawa suami dan putrinya. Sebagai penyintas, ibu dua anak ini melanjutkan hidup sambil berjibaku dengan cedera.

Ya, tanah longsor mengakibatkan kedua kakinya luka parah. Widiyawati sempat tak bisa berjalan 3 bulan lebih. Begitu pula dengan Makruf yang memakan waktu 1 bulan lebih untuk pulih. Meski tak utuh lagi, mereka terus berjuang melanjutkan hidup.

ADVERTISEMENT

Sejak 7 Juni 2025, Widiyawati mengontrak rumah sederhana di Desa Mojounggul. Pertimbangannya agar lebih dekat dengan sekolah putranya. Makruf saat ini duduk di bangku kelas 3 MTs Negeri 11 Jombang, Desa/Kecamatan Bareng.

"Saya masuk sini masih pakai alat bantu jalan. Kontrak rumah 2 tahun dengan tarif Rp 3 juta/tahun," terangnya.

Masa awal hidup di rumah kontrakan dengan Makruf, lanjut Widiyawati, dirinya mengandalkan tabungan sekitar Rp 60 juta. Tabungan tersebut sebagian merupakan uang duka dari pemerintah. Ia memanfaatkan dengan baik tabungan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari maupun pengobatannya dengan putranya.

Sebab sepanjang Juni-November 2025, Widiyawati harus mengonsumsi vitamin tulang untuk memulihkan retakan halus pada tulang betis kanannya. Setiap bulannya ia menghabiskan Rp 500.000 untuk vitamin tulang. Saat ini, ia mampu berjalan dan mengendarai sepeda motor tanpa alat bantu.

"Saya sudah bisa naik motor, tapi pelan-pelan," ujarnya.

Sedangkan untuk menyambung hidup dengan putranya, Widiyawati jualan es di Pasar Bareng, Jombang. Bisnis yang berjalan 3 bulan ini cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Meski satu tahun berlalu, trauma masih menghantui Widiyawati dan Makruf. Ibu dan anak ini sampai takut melihat kembali bekas rumah mereka. Ia berharap pemerintah memberi ganti rugi atas rumah dan tersebut.

"Kalau bisa saya dapat ganti rumah, kalau boleh saya minta uang tunai saja biar saya beli sendiri. (Nilainya) Kalau kerugian materi sangat besar, tapi seikhlasnya saja," cetusnya.

Selain ganti rugi rumah, Widiyawati juga berharap pendidikan putranya gratis sepenuhnya. Saat ini, Makruf duduk di bangku kelas 3 MTs Negeri 11 Jombang, Desa/Kecamatan Bareng.

"Sekolah anak kalau bisa juga tidak bayar. Sekarang masih bayar sendiri untuk les di sekolah. Misalnya Bahasa Inggris itu Rp 30.000 per bulan," imbuhnya.

Supervisor Pusdalops BPBD Jombang Stevie Maria menuturkan, Widiyawati telah mendapatkan jatah huntara, uang duka dan layanan kesehatan gratis dari pemerintah. Ia menegaskan kalau pemerintah tak akan sanggup apabila diminta membayar ganti rugi senilai rumah dan tanah korban yang terkena tanah longsor.

"Kalau pun pemerintah memberikan hunian tetap (Huntap), dasarnya bukan ganti rugi sesuai nilai rumah. Ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah. Kalau diminta mengganti senilai itu, tentu pemerintah tidak sanggup. Apalagi di tengah efisiensi anggaran saat ini," tegasnya.

Sampai saat ini, lanjut Stevie, Pemkab Jombang sedang berproses memberikan huntap untuk Widiyawati. Apabila sesuai aturan, setidaknya ada 2 skema yang bisa diberikan kepada korban. Pertama, seperti tukar guling tanah yang pembangunan rumahnya dibebankan kepada korban.

Kedua, skema Hak Guna Bangunan (HGB). Artinya, pemerintah membangunkan rumah untuk Widiyawati di lokasi tertentu. Rumah ini bisa disewa oleh korban dengan tarif Rp 0 sampai kapan pun.

Lokasinya ditentukan melalui kajian risiko bencana oleh BPBD Jombang, serta kajian rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana oleh akademisi. Tentunya pemerintah berupaya lokasi yang dipilih sedekat mungkin dengan rumah asal Widiyawati.

"Kami berproses juga menuju ke sana (huntap). Apakah akan menggunakan metode pertama atau kedua, belum ditetapkan," tandasnya.

Tanah longsor terjadi pada 23 Januari 2015 sekitar pukul 05.55 WIB. Lebar kebun yang longsor sekitar 20 meter, tingginya sekitar 12 meter. Perkebunan yang longsor menimpa 4 rumah warga di bawahnya. Ketebalan material 5-10 meter, luas area terdampak sekitar 100 meter persegi.

Sedikitnya 5 orang tertimpa tanah longsor di rumah masing-masing. Dari jumlah itu, 3 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Sedangkan 2 orang dinyatakan hilang. Mereka adalah Ducha Ismail (56) dan putrinya, Duwi Ayu Wandira Ismail (9).

Nahas, Duwi ditemukan tewas sekitar pukul 11.20 WIB. Sedangkan Ismail ditemukan dalam kondisi yang sama keesokan harinya, 24 Januari 2025 sekitar pukul 16.00 WIB. Posisi jasadnya sekitar 10 meter di sebelah timur dari titik penemuan jasad putrinya.



(dpe/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads