Berpuasa di bulan Ramadan dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi tubuh. Namun, bagi penderita penyakit lambung dan gangguan ginjal, puasa bisa menjadi tantangan tersendiri.
Penderita kedua penyakit tersebut perlu menjaga kondisi tubuh agar tetap optimal selama menjalankan puasa Ramadan, baik dalam mengatur pola makan, asupan minuman, maupun konsumsi obat-obatan tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tips Puasa Untuk Lambung
Dokter spesialis penyakit dalam di RS Universitas Airlangga (Unair), dr Andi Ratna Maharani SpPD, membagikan tips puasa yang aman bagi penderita gangguan lambung.
dr Andi menjelaskan, penyakit maag atau dispepsia umumnya terjadi akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang baik. Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, serta produk olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko maag.
"Risiko semakin tinggi apabila pola makan tersebut disertai dengan konsumsi minuman berkafein dan bersoda," kata dr Andi, Kamis (19/2/2026).
Selain pola makan, faktor gaya hidup juga berperan memicu maag. Di antaranya stres, penggunaan obat antinyeri tanpa pengawasan dokter, kebiasaan merokok, langsung berbaring setelah makan, sering menunda waktu makan, makan dalam porsi berlebihan, hingga kurangnya aktivitas fisik.
Menurutnya, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tersebut sangat berpotensi mencegah sekaligus mempercepat proses penyembuhan maag. Ia juga mengingatkan penderita maag untuk peka terhadap kondisi tubuhnya dan mengetahui kapan harus membatalkan puasa.
"Apabila ada nyeri berat mendadak, muntah terus menerus, nyeri kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, muntah darah, dan BAB hitam perlu membatalkan puasa. Jika tidak membatalkan puasa, maka berisiko terjadi komplikasi yang lebih serius," jelasnya.
Tips Puasa Untuk Ginjal
Sementara itu, dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH turut membagikan tips bagi penderita gangguan ginjal yang ingin berpuasa. Ia menjelaskan, penyakit ginjal terbagi menjadi dua jenis, yakni ginjal akut yang terjadi secara tiba-tiba dan ginjal kronis yang menetap setidaknya selama tiga bulan.
Pada penyakit ginjal kronis, kondisi pasien diklasifikasikan ke dalam lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal.
Ia menegaskan, tidak semua pasien gangguan ginjal diperbolehkan berpuasa, mengingat perbedaan kondisi dan gejala pada setiap stadium.
"Bagi pasien stadium satu dan dua, karena hampir tidak ada masalah pembuangan air atau sampah tubuh maka sangat boleh berpuasa. Yang sudah masuk stadium 3a, ini sebaiknya tidak berpuasa, tetapi masih memungkinkan, sedangkan stadium 3b akan lebih sehat jika tidak berpuasa. Bagi pasien stadium empat dan lima, tepatnya ketika mereka belum cuci darah, tidak direkomendasikan karena dapat mempercepat kemungkinan untuk menjalani dialisis," kata dr Mutiara.
Pasien yang sedang menjalani terapi rutin juga dianjurkan untuk tidak berpuasa. Selain berisiko memperburuk kondisi tubuh, proses terapi dapat membatalkan puasa.
Namun, bagi pasien yang telah menjalani transplantasi ginjal, puasa diperbolehkan setelah satu tahun pascaoperasi.
Bagi pasien penyakit ginjal yang ingin berpuasa, ia menyarankan agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, mengingat gejala dan kondisi tiap pasien bisa berbeda.
"Bagi yang telah memutuskan berpuasa, ingat menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air secukupnya dan menghindari makanan tinggi fosfat serta kalium," pungkasnya. DO KOI
(ihc/ihc)











































