Ahli Gizi Ingatkan Standar Menu MBG Selama Ramadan: Harus 700 Kalori

Ahli Gizi Ingatkan Standar Menu MBG Selama Ramadan: Harus 700 Kalori

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 27 Feb 2026 07:00 WIB
MBG menu kering yang dibagikan ke siswa sekolah di Surabaya.
MBG menu kering yang dibagikan ke siswa sekolah di Surabaya. (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah selama Ramadan harus tetap mengedepankan kecukupan gizi anak. Ada beberapa hal yang harus jadi prioritas utama, meski menu disesuaikan menjadi kering dan dibagikan untuk dibawa pulang.

Ahli Gizi dari Ottimmo International Surabaya, Dr. Heni Adhianata menegaskan, secara komposisi, menu basah maupun kering dalam MBG sejatinya memiliki standar yang sama.

Berbeda dengan menu basah yang biasanya sudah lengkap dalam satu ompreng berisi nasi, lauk, sayur, dan buah, menu kering tetap harus memenuhi prinsip gizi seimbang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi komponen gizi mulai dari kecukupan kalori, kemudian protein, lemak, karbohidrat dan juga serat. Dan pemberiannya itu kan satu kali satu hari, berarti kalau anak-anak kebutuhan kalori harian adalah sekitar 2.000, ya berarti per porsinya sekitar 700 kalori," ujar Heni saat dihubungi detikJatim, Kamis (26/2/2026).

Artinya, dalam satu paket MBG, anak tetap harus mendapatkan sekitar 700 kalori dengan komposisi seimbang. Misalnya, sumber karbohidrat kompleks seperti roti, protein bisa dari telur rebus, hingga tambahan serat dari sayur olahan kering maupun buah utuh.

ADVERTISEMENT

Namun, Heni mengingatkan menu kering memiliki tantangan tersendiri, terutama karena tidak selalu langsung dikonsumsi. Karena itu, faktor keamanan pangan menjadi krusial. Daya simpan makanan harus diperhitungkan agar tidak cepat basi atau rusak saat tersimpan selama berjam-jam.

"Unsur keamanan pangan harus diperhatikan, yaitu berupa umur simpan dari makanan paling tidak harus bisa tahan lebih dari 1 hari atau paling tidak 1-3 hari," bebernya.

Untuk menu kering, buah potong sebaiknya dihindari karena mudah rusak dan terkontaminasi. Sebagai alternatif, buah utuh seperti pisang, salak, atau jeruk lebih direkomendasikan karena bisa bertahan 1-3 hari dan tetap aman dikonsumsi.

Selain tahan simpan, makanan juga wajib dikemas higienis. Apalagi jika roti tawar atau lauk diporsikan ulang dari kemasan besar menjadi paket kecil untuk masing-masing anak. Kemasan tambahan harus tetap bersih dan aman.

Heni juga menyoroti potensi tingginya asupan gula. Menu seperti minuman tinggi gula atau kudapan terlalu manis sebaiknya dibatasi.

Ia pun menekankan aspek kepraktisan distribusi. Menu berkuah seperti kolak atau makanan dengan cairan tidak disarankan karena rawan tumpah dan cepat rusak.

Di sisi lain, Heni mengingatkan agar persoalan biaya tidak mengorbankan kualitas gizi. Transparansi dan kebijakan food cost perlu ditegaskan agar tak memunculkan persepsi perbedaan kualitas dalam MBG yang dibagikan hingga memicu keresahan masyarakat.

"Supaya masyarakat juga enggak menganggap dan membedakan di SPPG ini kok dapatnya ini, di SPPG ini kok dapatnya ini begitu," tuturnya.

Terakhir, ia menegaskan meski dalam beberapa sekolah atau wilayah pembagian MBG dilakukan secara dirapel selama Ramadan, variasi menu tetap wajib dijaga.

"Karena keseimbangan gizi itu tidak hanya dari angka kecukupan gizi, tapi juga varian dan jenis makanan yang diberikan, terlebih untuk anak-anak," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads