Sulap Limbah Jadi Pakan Maggot, Pemuda Ponorogo Hemat Biaya Ternak 65%

Sulap Limbah Jadi Pakan Maggot, Pemuda Ponorogo Hemat Biaya Ternak 65%

Charolin Pebrianti - detikJatim
Kamis, 26 Feb 2026 13:15 WIB
Buudidaya magot dan ayam pakai pakan limbah makanan
udidaya magot dan ayam pakai pakan limbah makanan/Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim
Ponorogo -

Seorang pemuda di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sukses membudidayakan ayam dengan memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai pakan alternatif. Limbah tersebut diolah menjadi pakan maggot yang kemudian diberikan kepada ayam ternaknya.

Pemuda itu adalah Ginanjar Brilianto, warga Jalan Merbabu, Kelurahan Nologaten, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo. Berawal dari keresahan melihat harga pakan unggas yang terus meroket, ia mencoba mencari solusi yang lebih hemat dan berkelanjutan.

"Awalnya kita pelihara ayam tapi terkendala pakan yang semakin mahal. Kita belajar ternyata ada alternatif pakan yang bagus untuk pertumbuhan ayam, yaitu menggunakan maggot," ujar Ginanjar saat ditemui di kandangnya, Kamis (26/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia memanfaatkan limbah rumah tangga seperti ampas kelapa dan sisa makanan yang diperoleh dari lingkungan sekitar rumahnya. Limbah tersebut difermentasi untuk kemudian dijadikan pakan maggot jenis Black Soldier Fly (BSF).

ADVERTISEMENT

Menurut Ginanjar, prosesnya cukup sederhana. Limbah rumah tangga dicampur lalu dimasukkan ke dalam wadah berisi air dan didiamkan selama tiga hingga empat hari hingga teksturnya lebih encer.

"Di lingkungan sini banyak produsen gulai kambing yang pakai santan. Ampas kelapanya biasanya dibuang, sekarang kita manfaatkan untuk pakan maggot, ini untuk menyuplai pakan ayam kita," jelasnya.

Setelah limbah terurai, bahan tersebut diberikan kepada larva lalat atau maggot yang dibudidayakan di dekat kandang ayam. Maggot berusia 10 hingga 20 hari kemudian dipanen untuk campuran pakan ratusan ayam miliknya.

Ia menyebut, maggot memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk pertumbuhan unggas. Hasilnya pun terlihat pada ayam jenis KUB 2 yang dipeliharanya.

"Alhamdulillah ayam lebih sehat. Sampai sekarang tidak ada yang sakit walaupun musim hujan biasanya banyak penyakit unggas. Hampir setiap hari bertelur," tambahnya.

Berkat ketelatenannya mengelola limbah menjadi pakan maggot, Ginanjar mengaku mampu menekan biaya pakan hingga 65 persen. Penghematan tersebut sangat membantu menjaga keberlangsungan usaha ternaknya di tengah naiknya harga pakan pabrikan.

Tak hanya fokus pada produksi telur, ia juga menetaskan telur ayam secara mandiri untuk memperluas populasi ternaknya. Ginanjar berharap metode ini bisa menginspirasi peternak lain agar lebih kreatif memanfaatkan limbah di sekitar mereka.

"Kalau limbah bisa dimanfaatkan, kenapa harus dibuang? Selain mengurangi sampah, juga bisa menambah nilai ekonomi," pungkasnya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads