Menjelang azan Maghrib, halaman rumah Ketua DPRD Nganjuk berubah menjadi ruang kontemplasi yang tenang. Di antara pot kecil dan ranting-ranting hijau, Tatit Heru Tjahjono mengisi waktu ngabuburitnya dengan cara tak biasa, merawat dan membentuk bonsai.
Bagi Tatit, bonsai bukan sekadar tanaman hias. Setiap potongan ranting menjadi medium pelepas penat di tengah padatnya aktivitas politik, sekaligus karya seni hidup yang menuntut kesabaran, rasa, dan ketekunan.
Di halaman rumahnya, di Jalan Munginsidi, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk Kota, Tatit larut dalam kegemarannya merawat bonsai. Politikus senior itu dengan telaten mengamati, memotong, lalu membentuk ranting-ranting kecil pohon, menjadi karya bernilai seni tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tangannya, bonsai bukan sekadar tanaman. Melainkan kanvas hidup yang terus ia lukis dengan rasa. Hobi ini bukan hal baru bagi legislator PDI Perjuangan tersebut. Sejak 2016, ketertarikannya pada bonsai mulai tumbuh.
Berawal dari melihat sebuah pameran, ia merasa terpikat. Ada sensasi unik saat melihat pohon kecil yang dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk yang indah.
"Ini seperti melukis," ungkap Tatit ditemui detikJatim, Rabu (25/2/2026).
Dari sekadar melihat, ia mulai belajar teknik pemotongan hingga budidaya. Di tengah rutinitas sebagai politikus, Tatit mengakui ada titik jenuh yang tak bisa dihindari. Di situlah bonsai menjadi aktivitas yang menenangkan.
Ia lebih memilih membeli bahan mentah atau setengah jadi, lalu merawat dan membentuknya sendiri.
"Setiap penggemar bonsai mungkin berbeda-beda. Ada yang suka beli jadi. Tapi saya lebih suka beli mentah atau setengah jadi lalu saya garap sampai jadi. Justru di situlah letak nikmatnya," ujar Tatit.
Kini, Tatit sudah memiliki koleksi ratusan bonsai berbagai jenis. Mulai dari serut, asem, hingga pinus. Di Nganjuk, lanjutnya, serut menjadi primadona.
Tak hanya menjadi koleksi pribadi, bonsai-bonsai itu juga kerap diikutkan kontes hingga ke luar kota. Bahkan, salah satu karyanya pernah ditawar hingga Rp 30 juta, tapi tidak ia lepaskan.
Kecintaannya pada bonsai juga membawanya aktif di komunitas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PBI). Bersama para pecinta bonsai, termasuk mantan Pj Bupati Nganjuk Sri Handoko Taruna, ia sering "cangkrukan", bertukar cerita, hingga berbagi informasi soal tren dan teknik terbaru.
Bahkan, di masa kepemimpinan Sri Handoko, pameran bonsai sempat digelar di pendopo kabupaten, yang menjadi ruang apresiasi sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Lebih jauh, Tatit melihat bonsai bukan sekadar hobi, tetapi juga peluang ekonomi. Ia menyebut beberapa wilayah di Nganjuk seperti Berbek, Lengkong, hingga Jatikalen memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya bonsai.
Salah satu rekannya bahkan menyewa lahan khusus di Dusun Gerung, Desa Pehserut, Kecamatan Sukomoro untuk budidaya. Pasarnya pun sudah merambah Bali, dengan ongkos kirim mencapai puluhan juta rupiah per hari.
Menjelang Azan Maghrib, Tatit menyudahi aktivitasnya bersama bonsai kesayangan. Ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk bersiap berbuka puasa bersama keluarga.
"Besok sore kalau tidak ada agenda tugas DPRD, saya lanjut lagi potong-potong bonsai," pungkas Tatit.
(auh/hil)
