Serunya Ngabuburit di Surabaya Board Game Market 2026

Serunya Ngabuburit di Surabaya Board Game Market 2026

Chilyah Auliya - detikJatim
Rabu, 25 Feb 2026 17:00 WIB
Ngabuburit sambil main board game di Surabaya
Ngabuburit sambil main board game di Surabaya/Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim
Surabaya -

Bermain board game kini menjadi alternatif ngabuburit di Surabaya. Surabaya Board Game Market (Subogama) hadir dengan Edisi Ramadhan yang digelar di Lobby Kyo Society Apartment, Panjang Jiwo, Surabaya, Minggu (22/2/2026).

Event bulanan yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB ini tidak hanya menghadirkan keseruan bermain gratis, tapi juga menjadi wadah edukasi dan kompetisi reels bagi para pengunjung.

Charish, tim dari Apegamelab menjelaskan, banyak board game yang dipamerkan dan siap dimainkan maupun dibungkus pulang. Salah satunya adalah Panser yang memiliki visi serupa dengan Math Express milik Apegamelab, karena berfokus pada edukasi. Selain itu, ada Mika Miko yang fokus pada game simpel dan cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada juga pojok playtest. Jadi mahasiswa yang menyajikan berupa prototipe mentah atau hasil tugas akhir bisa ngetes game di sini. Biasanya kita sering dapat konsultasi juga," jelas Charish.

ADVERTISEMENT
Ngabuburit sambil main board game di SurabayaNgabuburit sambil main board game di Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Game Panser merupakan hasil inovasi Ihsan Nurkomar (Desainer) dan Zaki Apriminta (Asisten Ilustrator) yang jauh-jauh datang dari Jogja. Ihsan yang merupakan seorang entomologis (saintis) meriset game ini sejak 2019.

"Dulu awalnya hanya coret-coretan. Karena saya entomologis, saya lihat literasi publik buat serangga itu sedikit. Saya konsep sama istri karena mahasiswa sering malas di kelas kalau bahas pengendalian hama, jadi kita buat inovasi game ini," ungkap Ihsan.

Cara main Panser mirip Monopoli yakni kocok dadu, ada tantangan, kuis, info, hingga masuk penjara. Uniknya, pemain sering menggunakan Google Lens untuk mencari info lebih lanjut tentang serangga di kartu.

Istilah 'Panser Go Inter' ditambahkan oleh penjelasan Zaki bahwa game ini sudah punya versi bahasa Inggris lalu dimainkan di Italia, Jerman, Austria, hingga Jepang.

Ngabuburit sambil main board game di SurabayaNgabuburit sambil main board game di Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Di sisi lain, ada game Gagula dari Mika Miko yang dijelaskan oleh Hilmy, mengedukasi tentang bahaya gula. Cara mainnya, 3 orang masing-masing dapat 3 kartu. Pemain harus menepuk kartu, jika kembar berarti aman, jika beda sendiri harus balik kartu yang berisi jumlah sendok gula. Siapa yang mencapai 8 sendok gula duluan, dia kalah.

Selain Gagula yang memperlihatkan bonding kuat antara ayah dan anak, terdapat game Jari-Jari untuk party game yang melatih koordinasi jari jempol hingga kelingking sesuai perintah kartu. Hilmy menerangkan bahwa mayoritas di sini berawal dari hobi.

Chris, mahasiswa DKV Universitas Ciputra, mengaku datang ke Subogama untuk riset pasar sekaligus mencari inspirasi.

"Background saya desainer dan sedang mengembangkan board game yang lebih ke arah industri yang cepat dimainkan seperti Uno. Dan yang paling berkesan tadi si ketika main Panser, karena teman mainnya seru diajak bersosialisasi," kata Chris.

Bagi Chris, Subogama adalah salah satu wadah terbaik untuk berinteraksi dengan komunitas sembari meminta feedback soal gaya desain. "Harapan saya si semoga semakin banyak yang mau explore board game di tengah kencangnya arus game digital, dan semakin banyak papan permainan yang relatable untuk dicoba," tambahnya.

Ngabuburit sambil main board game di SurabayaNgabuburit sambil main board game di Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Board Game 'Waroong Wars' Mendunia hingga Jadi Kurikulum di Australia

Kabarnya, board game ini diadopsi sebagai alat peraga pendidikan di Australia dan diulas oleh para influencer internasional.

Adhicipta, desainer dari Apegamelab, mengungkapkan kebanggaannya melihat karya yang lahir dari tangan kreatif arek Suroboyo ini bisa diterima di pasar global. Meski produknya sudah melanglang buana, sang desainer tetap rendah hati dengan domisilinya.

"Ini sudah dilombakan di SPIEL Essen, Jerman, pameran permainan papan terbesar di dunia. Tapi desainernya di Surabaya, board game-nya yang terbang hehe," tuturnya penuh tawa.

Waroong Wars awalnya diterbitkan oleh Kompas Gramedia setelah menjuarai sebuah kompetisi. Setelah sukses cetak 1.000 eksemplar dan sold out hingga tiga kali cetak, lisensinya kini dikelola oleh Tabletoys, publisher asal Surabaya yang levelnya sudah internasional.

Proses evolusi game ini pun terbilang serius. Adhicipta menjelaskan, edisi terbaru Waroong Wars mengalami perombakan total dari segi visual, dari gaya kartun menjadi realis.

"Cetak pertama cuma butuh waktu 6 bulan. Tapi yang kedua ini hampir setahun lebih ngerjain ilustrasinya karena realis dan menunya banyak, jadi gambar kartu menunya harus sangat detail," jelas Adhicipta.

Dalam permainan ini, pemain diajak berkompetisi mengelola warung dengan menu otentik Surabaya seperti Rujak Cingur, Semanggi, Nasi Goreng, Soto Daging, Bebek Goreng, hingga Nasi Campur. Bahkan, kini mulai ekspansi ke menu lain seperti Nasi Kecap.

"Sistemnya kita war (perang) bahan masakan. Sesama penjual warung saingan belanja bahan, karena semakin banyak bahannya, makin mahal. Nanti kalau berhasil menjual satu menu, ada poin-poinnya," paparnya.

Strategi pemain makin diuji dengan adanya kartu security, influencer, hingga thief untuk mencuri bahan masakan pemain lain. Sehingga konsumen dikategorikan berdasarkan profesi.

Pemilihan tema kuliner Surabaya terbukti ampuh secara komersial karena sifatnya yang universal. Adhicipta mengaku sangat senang melihat orang luar negeri antusias khususnya dengan budaya lokal Surabaya.

"Ada sekolah di Australia yang punya kurikulum Bahasa Indonesia, mereka pakai Waroong Wars sebagai media belajar. Bahkan sampai direview influencer Amerika. Bayangin ya, orang bule ngomong 'Rujak Cingur' itu seru banget," ungkapnya.

Baginya, hadirnya wadah seperti Subogama sangat penting untuk menunjukkan sinergi komunitas kepada investor. "Kalau berdiri sendiri susah, jadi memang harus kolaborasi. Makin banyak pilihan, potensi pasarnya makin luas," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Day 3 Ngabuburit di Blok M, Ngapain Aja Ya?"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads