Masjid Baitul Hamdi di Sidoarjo Foto: Suparno/detikJatim |
Di tengah hamparan tanah retak dan genangan lumpur yang membeku di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, berdiri sebuah bangunan megah yang kini sunyi tanpa aktivitas ibadah. Itulah Masjid Baitul Hamdi, salah satu saksi bisu dahsyatnya bencana semburan lumpur Lapindo yang genap 20 tahun pada 2026.
Masjid yang berada tak jauh dari pusat semburan lumpur di kawasan Besuki ini tampak terbengkalai. Dindingnya kusam dan ditumbuhi tanaman liar, bagian dalam berdebu dan dipenuhi kotoran Kelelawar. Meski demikian, struktur utama bangunan masih berdiri kokoh di tengah kawasan yang sebagian besar telah ditinggalkan penghuninya.
Widodo (59), mantan warga Desa Besuki, mengatakan sebelum bencana lumpur pada 2006, masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu masjid ini ramai sekali. Selain salat lima waktu, juga dipakai pengajian dan kegiatan pondok pesantren yang ada di sebelahnya," kata Widodo saat ditemui detikJatim di sekitar lokasi, Senin (23/2/2026).
Menurut dia, setelah semburan lumpur meluas dan tanggul jebol pada 2008, warga mulai meninggalkan desa. Sejak saat itu, Masjid Baitul Hamdi praktis tak terawat.
"Warga mengungsi, tidak sempat lagi memikirkan masjid. Semua fokus menyelamatkan keluarga dan harta benda yang tersisa," ujarnya.
Hal senada disampaikan Sukarmanto (60), mantan warga Besuki lainnya. Ia mengenang kawasan sekitar masjid dahulu merupakan permukiman padat yang juga memiliki makam dan fasilitas pendidikan agama.
"Di depan masjid ada makam warga, di sampingnya pondok pesantren. Sekarang semuanya hilang tertutup lumpur. Yang tersisa hanya masjid ini," kata Sukarmanto.
Ia menambahkan, masjid sempat masih digunakan warga terdampak untuk salat Idul Fitri hingga beberapa tahun setelah bencana. Namun sejak pandemi Covid-19, kegiatan ibadah berjamaah berhenti total.
Kini, kawasan sekitar masjid berada dalam zona terdampak lumpur di tiga kecamatan, yakni Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Sedikitnya 12 desa tenggelam dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat bencana yang dipicu pengeboran gas di sumur Lumpur Lapindo tersebut.
Meski tidak lagi difungsikan, Masjid Baitul Hamdi masih kerap dikunjungi wisatawan yang datang ke tanggul lumpur untuk melihat sisa-sisa bencana. Bangunan masjid yang berdiri sendiri di tengah lanskap kosong menjadi simbol ingatan kolektif atas kampung yang pernah ada.
"Kalau sore banyak orang datang foto-foto, lihat matahari terbenam. Mereka mungkin tidak tahu, di sini dulu ada desa lengkap dengan kehidupan warganya," ujar Widodo.
Dua dekade berlalu, semburan lumpur Lapindo masih aktif hingga kini. Bagi para mantan warga Besuki, Masjid Baitul Hamdi bukan sekadar bangunan terbengkalai, melainkan penanda terakhir kampung halaman yang hilang.
(auh/hil)












































