Tradisi Salat Tarawih kilat dengan durasi sekitar 13 menit tetap lestari di Ponpes Mambaul Hikam atau Pondok Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Sejak dicetuskan pada 1907 atau zaman kolonial sebelum Indonesia Merdeka, tarawih 23 rakaat itu masih rutin digelar dan selalu dipadati ratusan jemaah setiap Ramadan.
detikJatim mendatangi lokasi tarawih kilat tersebut pada Sabtu (21/2/2026). Sejak sebelum Salat Isya, rombongan jemaah sudah berdatangan. Area parkir kendaraan tampak penuh hingga ke gang masuk masjid, menandakan antusiasme jemaah yang tetap tinggi dari tahun ke tahun.
Pelaksanaan tarawih cepat didominasi jemaah laki-laki yang memadati pelataran atau halaman masjid. Sementara jemaah perempuan berada terpisah di Aula ponpes yang lokasinya tak jauh dari masjid utama. Meski berlangsung singkat, para jemaah terlihat sudah terbiasa mengikuti ritme salat yang cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai dengan sebutannya, Salat Tarawih kilat ini memang berlangsung cepat. Meski jumlah rakaatnya 23, durasinya hanya sekitar 13 menit. Namun demikian, Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya'uddin Azzamzami alias Gus Dliya' menegaskan bahwa pelaksanaan Tarawih tersebut tidak mengurangi rukun maupun kesunahan dalam salat.
"Ini yang perlu digarisbawahi, Tarawih di pondok mantenan ini meskipun cepat tidak mengurangi rukun dan tidak mengurangi kesunahan-kesunahan dalam salat. Standarnya biasanya 13 menit, kadang yang 15 menit. Tapi kalau imamnya pas muda bisa jadi lebih cepat lagi," kata Gus Dliya' saat ditemui detikJatim usai salat tarawih kilat, Sabtu (21/2/2026).
Gus Dliya' menjelaskan, tradisi Tarawih kilat tersebut telah berlangsung sejak awal berdirinya pondok. Salat Tarawih cepat dicetuskan oleh Mbah Yauqul Ghofur, kakek Gus Dliya', yang menjadi pendiri Ponpes Mambaul Hikam.
"Salat Tarawih ini dimulai dari Mbah Yauqul Ghofur, sejak berdirinya pondok ini. Beliau yang mencetuskan Tarawih cepat ini," terangnya.
Menurut Gus Dliya', pencetusan tarawih kilat dilatarbelakangi kondisi masyarakat sekitar ponpes pada masa itu yang mayoritas merupakan mualaf serta kaum pekerja dan buruh tani. Mereka dinilai tidak memiliki banyak waktu untuk mengikuti tarawih dengan durasi panjang.
"Akhirnya beliau memutuskan untuk mencetuskan Tarawih cepat seperti ini sebagai solusi pada umat supaya tetap mau Tarawih. Sebenarnya dulu juga Tarawih normal tapi hanya bertahan seminggu, setelah itu tidak ada jemaah. Setelah Tarawih cepat banyak yang antusias," jelasnya.
Hingga kini, Tarawih kilat tersebut masih diminati. Gus Dliya' mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah jemaah yang hadir setiap malam, namun antusiasme terlihat konsisten sepanjang Ramadan.
"Tidak tahu jumlahnya berapa, tapi mari meningkatkan ibadah di bulan suci Ramadan yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Saling menjaga kerukunan, menghargai perbedaan dan menjaga ukhuwah Islamiyah," terangnya.
Jemaah Tarawih kilat di Pondok Mantenan tak hanya berasal dari warga sekitar ponpes. Sejumlah jemaah juga datang dari daerah lain seperti Tulungagung dan Kediri. Setiap hari, ratusan jemaah mengikuti tarawih kilat tersebut selama bulan suci Ramadan.
Salah seorang jemaah asal Sambi, Kediri, Mutiah (50) mengaku sudah terbiasa mengikuti tarawih cepat di pondok tersebut sejak lama. Ia rutin datang bersama suaminya setiap Ramadan.
"Sudah terbiasa cepat, karena sudah ikut salat di sini sejak lama sekali. Jadi setiap Ramadan pasti salat Tarawih di sini, berangkat bersama suami yang kebetulan juga dulu kecil di sini," tandasnya.
Lebih dari seabad berjalan, tradisi tarawih kilat 23 rakaat berdurasi sekitar 13 menit di Pondok Mantenan tetap bertahan. Bagi para jemaah, tarawih cepat ini bukan sekadar soal singkatnya waktu, melainkan ikhtiar agar ibadah Ramadan tetap terjaga dan bisa dijalankan oleh semua kalangan.
(irb/hil)
