Tabuhan kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, menjelang waktu sahur.
Di antara ritme kayu yang dipukul berulang, sosok penari Topeng Malangan melangkah menyusuri gang sempit, membangunkan warga untuk sahur dengan cara yang tak biasa.
Itulah wajah berbeda Sahur On The Road (SOTR) yang dihadirkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika biasanya patroli sahur identik dengan pengeras suara atau sekadar arak-arakan, maka kali ini UMM mengawinkannya dengan sentuhan budaya lokal.
Kentongan dijadikan instrumen utama, sementara penari Topeng Malangan hadir sebagai simbol identitas kampung. Perpaduan ini membuat suasana sahur terasa lebih hidup sekaligus sarat makna tradisi.
Penggagas Kampung Budaya Polowijen Ki Demang menyebut, bahwa patroli sahur tak biasa ini tentunya membawa kesan berbeda bagi warga Polowijen di tengah menjalani ibadah puasa Ramadan tahun ini.
Baca juga: Jadwal Imsak Malang Raya 22 Februari 2026 |
"Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini. Ini pertama kalinya terjadi di sini," ujar Ki Demang kepada wartawan, Sabtu (21/2/2026).
Menurut Ki Demang, kolaborasi tersebut bukan sekadar meramaikan momen Ramadan, melainkan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap identitas budaya kampung.
Pihaknya menilai tradisi harus dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak hanya menjadi tontonan seremonial.
Setelah patroli keliling, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di salah satu titik kampung yang dikenal warga sebagai Pawon.
Gerakan khas dengan karakter topeng yang kuat menjadi puncak acara. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda setempat.
Ki Demang menambahkan bahwa Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang.
"Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, ini menjadi sumbangsih yang besar," tambah Ki Demang.
Baca juga: Lima Tradisi Sambut Ramadhan di Jawa Timur |
Di sisi lain, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan budaya.
Mahasiswa KKN didorong untuk membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, bukan hanya menjalankan agenda berbagi.
Tari Topeng Malangan sengaja diangkat pada momentum sahur, bukan sekadar memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu.
"Kentongan menjadi simbol solidaritas, sementara tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat," ujar Maharina terpisah.
Rangkaian sahur on the road ditutup dengan santap sahur bersama. Mahasiswa dan warga duduk berdampingan, menikmati hidangan setelah patroli dan pertunjukan usai.
Suasana hangat itu menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang mempererat relasi sosial.
"Melalui konsep ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Patroli sahur bukan lagi sekadar tradisi membangunkan warga, melainkan medium merawat identitas lokal," pungkas Maharina.
(auh/hil)











































