- Kultum Ramadhan untuk 10 Hari Pertama Puasa 1. Agar Puasa Tak Hanya Menjadi Rutinitas Tahunan 2. Jangan Lewatkan Waktu Terbaik untuk Kembali kepada Allah 3. Ramadhan Tiba, Saatnya Hati Bergembira dan Amal Dilipatgandakan 4. 2 Tanda Puasa Ramadhan Diterima Oleh Allah 5. Dua Perbuatan yang Paling Bermanfaat Selama Bulan Ramadhan 6. Mengenal Hikmah Disyariatkannya Puasa 7. Menghidupkan Hati dengan Tadarus Al-Qur'an 8. Bulan Puasa, Waktu Terbaik untuk Saling Memaafkan 9. Muhasabah Diri di Bulan Penuh Kemuliaan 10. Spirit Ramadhan Bagi Orang yang Beriman
Kultum Ramadhan menjadi salah satu sarana dakwah yang paling sering ditemui selama bulan suci. Lewat ceramah singkat 7-10 menit, pesan kebaikan bisa disampaikan secara padat, jelas, dan langsung menyentuh hati jamaah.
Materi kultum biasanya disampaikan sebelum atau sesudah sholat berjemaah, menjelang berbuka, hingga selepas sholat Tarawih. Meski durasinya singkat, penyusunannya tetap harus matang agar isi ceramah tidak melebar dan tetap fokus.
Kultum Ramadhan untuk 10 Hari Pertama Puasa
Penyertaan ayat Al-Qur'an maupun hadis akan membantu penceramah menyampaikan materi secara efektif. Dilansir dan dirangkum dari laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Online, berikut panduan sekaligus referensi materi Kultum Ramadhan 10 hari pertama puasa yang bisa menjadi inspirasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Agar Puasa Tak Hanya Menjadi Rutinitas Tahunan
Coba kita renungkan sejenak, sudah berapa kali Ramadhan datang lalu pergi meninggalkan kita? Setiap tahun kita menjalani puasa, menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, pertanyaannya, apa hasil yang benar-benar kita peroleh dari puasa tersebut?
Apakah ia telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bertakwa, ataukah ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang berarti dalam sikap dan perilaku kita?
Jangan-jangan, puasa yang selama ini kita laksanakan hanyalah rutinitas tahunan yang dikerjakan berulang-ulang, tetapi belum sungguh-sungguh menghadirkan nilai dan perubahan nyata dalam kehidupan kita.
Bahkan bisa jadi, yang kita peroleh dari puasa tersebut hanyalah rasa lapar dan dahaga semata, sebagaimana peringatan Rasulullah SAW:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya: Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia peroleh dari puasanya selain rasa lapar. (HR. Ahmad)
Padahal, tujuan utama puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan untuk menumbuhkan ketakwaan. Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Ayat tersebut bukan sekadar ayat perintah puasa Ramadhan, akan tetapi juga menjelaskan tujuan atau hikmah di balik disyariatkannya puasa. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Asyur dalam tafsirnya, at-Tahrir Wat Tanwir.
Menurut beliau frasa (لعل) pada kalimat (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ) agar kamu bertakwa merupakan mus'taarah yang mempunyai makna (كَي / agar) sebagai isti'arah tabi'iyyah, dan adakalanya merupakan tamtsiliyyah (penyerupaan), yaitu dengan menyerupakan keadaan Allah dalam menghendaki terwujudnya ketakwaan melalui pensyariatan puasa seperti orang yang berharap kepada orang lain agar melakukan suatu perbuatan.
Pengertian takwa menurut syariat adalah menjauhi perbuatan maksiat. Puasa menjadi sebab terhindar dari maksiat karena maksiat itu terbagi menjadi dua macam: Pertama, maksiat yang efektif dapat ditinggalkan dengan tafakur atau perenungan, seperti meminum khamar, judi, mencurian, dan merampas.
Meninggalkannya dapat terwujud dengan merenungkan janji pahala bagi yang meninggalkannya, ancaman siksa bagi pelakunya, serta nasihat untuk mengambil ibrah atau pelajaran dari keadaan orang lain.
Kedua, maksiat yang bersumber dari dorongan-dorongan tabiat, seperti perbuatan yang timbul dari amarah dan syahwat , yang terkadang sulit ditinggalkan hanya dengan perenungan atau tafakur semata. Maka puasa sebagai sarana untuk menghindarinya, karena puasa menyeimbangkan kekuatan-kekuatan tabi'at yang menjadi pendorong terjadinya maksiat-maksiat tersebut.
Dengan puasa, seorang Muslim derajatnya akan naik dari jurang keterjerumusan materi menuju puncak alam ruhani. Puasa menjadi sarana latihan diri dengan sifat-sifat malaikat dan kebangkitan dari debu kekeruhan sifat-sifat kebinatangan. (Muhammad at-Thahir Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, [Tunis, Dar-At-Tunisia: 1984 M], juz II, halaman 158).
Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa nilai puasa sejatinya terletak pada sejauh mana puasa tersebut mampu melahirkan ketakwaan dan membentuk perubahan akhlak, sehingga mengantarkan seorang Muslim menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan semakin dekat kepada Allah.
Tujuan mulia ini tidak akan terwujud apabila puasa hanya dikerjakan sebatas sah menurut fikih semata. Lebih dari itu, puasa perlu dihayati dan diamalkan secara menyeluruh dengan menjaga lahir dan batin.
Dalam hal ini, al-Imam al-Ghazali memberikan enam tuntunan penting agar puasa benar-benar bernilai dan membekas. Berikut kami ringkaskan enam poin tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab Mauizhatul Mu'minin min Ihya' 'Ulumid Din.
Pertama, menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang segala sesuatu yang tercela dan dibenci, serta dari segala hal yang dapat menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah Ta'ala.
Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, ucapan keji, sikap kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengarkan segala hal yang dibenci, karena setiap sesuatu yang diharamkan untuk diucapkan, haram pula untuk didengarkan.
Keempat, menahan seluruh anggota tubuh seperti tangan dan kaki dari perbuatan dosa dan hal-hal yang dibenci, serta menjaga perut dari perkara syubhat ketika berbuka.
Tidak ada artinya puasa, menahan diri dari makanan halal, lalu berbuka dengan yang haram. Perumpamaan orang yang seperti ini adalah orang yang membangun istana tetapi meruntuhkan sebuah kota.
Kelima, tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan halal saat berbuka hingga perut menjadi penuh. Bagaimana mungkin tujuan puasa yaitu menundukkan musuh Allah dan mematahkan syahwat dapat terwujud, jika seorang yang berpuasa justru mengganti seluruh kekurangan makannya di siang hari saat berbuka, bahkan menambahnya dengan beragam jenis hidangan? Padahal tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan melemahkan hawa nafsu, agar jiwa menjadi kuat dalam ketakwaan.
Keenam, setelah berbuka, hendaknya hatinya berada dalam keadaan gelisah, harap-harap cemas karena ia tidak mengetahui apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah, ataukah ditolak sehingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai.
Sikap seperti ini seharusnya menyertai setiap ibadah yang telah ia selesaikan. (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mauizhatul Mu'minin min Ihya' 'Ulumid Din, [Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah: 1995] halaman 61-62).
Dengan demikian, apabila puasa dilaksanakan dengan memenuhi syarat dan rukunnya serta disempurnakan dengan adab-adabnya, maka tujuan puasa yang hakiki, yaitu melahirkan ketakwaan, akan benar-benar terwujud.
Puasa menjadi sarana transformasi diri yang melatih manusia untuk mengendalikan nafsu terhadap perkara yang halal, agar lebih mampu menahan diri dari yang haram.
Dari sinilah tumbuh kemampuan mengontrol diri dan bersikap lurus meskipun tanpa pengawasan manusia, lebih menjaga lisan dan emosi, serta hidup sederhana dalam konsumsi tanpa berlebih-lebihan.
2. Jangan Lewatkan Waktu Terbaik untuk Kembali kepada Allah
Sebagai manusia, kesalahan dan dosa adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dosa kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan-Nya, meskipun bagi sebagian kalangan hal ini jarang terjadi.
Di sisi lain, hati manusia masih sering merasa tidak menerima ketentuan Allah, berprasangka buruk terhadap-Nya, merasa tidak puas atas pemberian-Nya, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menghapus kesalahan dan dosa dengan berbagai cara, seperti istighfar, berbuat baik, dan sebagainya.
Allah memahami kelemahan manusia dalam menghindari kesalahan dan dosa, sehingga Dia telah mempersiapkan ampunan yang begitu besar. Hal ini ditegaskan dalam surat Ali 'Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Syekh asy-Sya'rawi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya, atau sering disebut dengan Khawathirusy Sya'rawi, Juz 3, halaman 1752, bahwa menggapai ampunan Allah tidak bisa ditunda-tunda, karena manusia tidak dapat mengetahui apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah di hari esok atau tidak.
Manusia tidak tahu kapan ia akan meninggalkan dunia, sehingga harus mempersiapkan kehidupan setelah kematian agar mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di fase kehidupan berikutnya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan suci, mulia, penuh berkah, dan kebaikan. Salah satu kebaikan yang Allah berikan di bulan Ramadhan adalah ampunan-Nya. Oleh karena itu, bulan ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menggapai ampunan Allah.
Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, Juz 1, halaman 16:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keyakinan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Hadis ini menggambarkan betapa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Pemaaf, dengan memberikan ampunan terhadap seluruh dosa seseorang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keyakinan dan mengharapkan rida-Nya.
Dosa yang akan diampuni tidak disebutkan secara spesifik dalam hadis ini, sehingga beberapa ulama memahami bahwa kata dosa dalam hadis ini mencakup seluruh dosa seseorang.
Namun, mayoritas ulama berpendapat, berdasarkan dalil dan ketentuan agama lainnya, bahwa yang diampuni adalah dosa kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, Juz 4, halaman 116:
وَقَوْلُهُ مِنْ ذَنْبِهِ اسْمُ جِنْسٍ مُضَافٌ فَيَتَنَاوَلُ جَمِيعَ الذُّنُوبِ إِلَّا أَنَّهُ مَخْصُوصٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ
Artinya: Sabda Nabi 'dari dosanya' merupakan nama suatu jenis yang disandarkan pada seseorang, sehingga mencakup seluruh dosa, meskipun mayoritas ulama berpendapat bahwa hanya dosa-dosa tertentu yang dimaksud dalam hadis ini.
Dengan menahan makan, minum, dan berhubungan suami istri, yang merupakan rukun puasa, seseorang dapat mendapatkan ampunan Allah dari dosa-dosa kecil yang telah dilakukan, serta memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa besar.
Hal ini karena Allah melihat kebaikan manusia sebagai sesuatu yang perlu diapresiasi dengan yang lebih baik. Oleh karena itu, selain diberikan pahala karena melaksanakan ibadah puasa dengan baik, manusia juga diberikan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Allah menilai kebaikan manusia sebagai perwujudan tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga kesalahannya patut diampuni. Perbuatan baik dapat menghapus perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 114:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Artinya: Sesungguhnya kebaikan dapat menghapuskan kesalahan.
Seluruh amal ibadah yang dilakukan seorang hamba di bulan Ramadhan, seperti puasa, salat malam (Tarawih dan Witir), menghidupkan malam Lailatul Qadar, dan sebagainya, akan menghasilkan ampunan Allah.
Ada alasan kuat mengapa Allah memberikan ampunan melalui ibadah Ramadhan, yaitu bahwa ampunan merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Dalam hal ini, Imam Al-Mula 'Ali al-Qari mengutip pendapat Imam ath-Thibi dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, Juz 4, halaman 1362:
وَقَالَ الطِّيبِيُّ: رَتَّبَ عَلَى كُلٍّ مِنَ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ أَمْرًا وَاحِدًا، وَهُوَ الْغُفْرَانُ تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّهُ نَتِيجَةُ الْفُتُوحَاتِ الْإِلَهِيَّةِ وَمُسْتَتْبَعٌ لِلْعَوَاطِفِ الرَّبَّانِيَّةِ قَالَ - تَعَالَى - ﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا - لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ﴾ [الفتح: ١ - ٢] الْآيَةَ
Artinya: Imam Ath-Thibi berkata, Nabi menyatukan tiga perkara (puasa, mendirikan salat malam, dan menghidupkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan) dengan satu hal, yaitu ampunan Allah. Hal ini bertujuan untuk menegaskan bahwa ampunan Allah adalah hasil dari penyingkapan Ilahi dan buah dari sifat kelembutan Tuhan, sebagaimana Allah berfirman: 'Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu - supaya Allah mengampunimu' (Al-Fath: 1-2).
Semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadi ajang bagi kita untuk mendapatkan ampunan Allah, sehingga kita kembali suci dan bersih dari segala macam noda, sebagaimana saat kita dilahirkan ke dunia. Amin, ya Rabbal 'alamin.
3. Ramadhan Tiba, Saatnya Hati Bergembira dan Amal Dilipatgandakan
Marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah swt kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah ayat 21)
Alhamdulillah, kita kembali diberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan rahmat. Bulan segala pahala amal kebaikan kita akan dilipat gandakan. Bulan diwajibkan bagi kita untuk berpuasa. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan dan keberkahan. Begitu banyak karunia yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-Nya di bulan yang mulia ini. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللّٰهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ
Artinya: Wahai umat manusia, telah ada di hadapan kalian bulan agung yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan berpuasa di dalamnya sebagai kewajiban dan menghidupkan malam-malamnya sebagai kesunnahan. Bulan yang merupakan bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga.. (HR Al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan lainnya).
Maka, dengan banyaknya keberkahan, rahmat, ampunan, dan kebaikan lainnya yang ada di bulan Ramadhan tersebut, sudah semestinya bagi kita untuk merasakan kebahagiaan dan menjadikan semangat untuk berbuat kebajikan.
Allah SWT telah menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki kualitas dan menambah kuantitas amal saleh yang kita kerjakan. Sebab selama sebulan penuh, Allah menurunkan kepada para hambanya keberkahan yang sangat melimpah.
Ganjaran pahala ditingkatkan, pintu surga dibukakan, gerbang neraka dikuncikan, dan setan dibelenggu agar tidak dapat mengganggu manusia. Apalagi terkhusus dalam ibadah Ramadhan, Allah SWTmemberikan pahala yang besar bagi siapa saja yang mengerjakannya dengan penuh keikhlasan dan mengharapkan ridha-Nya.
Imam Dhiyauddin Al-Maqdisi dalam kitabnya, Fadhailul-'A'mal, Terbitan Al-Jami'ah Al-Islamiyyah, Madinah, Tahun 2010, halaman 168, menyebut sejumlah keistimewaan puasa Ramadhan.
Di antaranya yakni kelak di akhirat, akan dibukakan pintu surga yang bernama pintu ar-Rayyan, yang dikhususkan bagi orang yang berpuasa. Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadis:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُونَ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةَ
Artinya: Di surga itu, ada satu pintu yang disebut dengan pintu ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa masuk surga pada hari Kiamat. (HR. Al-Bukhari-Muslim).
Demikianlah, keterangan singkat mengenai pentingnya untuk menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan serta semangat untuk berbuat kebaikan. Marilah kita manfaatkan momentum yang penuh berkah pada bulan Ramadhan ini dengan memperbanyak amal kebaikan.
Marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan dan kemudahan kepada kita semua untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah, serta dijauhkan dari segala fitnah, penyakit, musibah, dan marabahaya. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
4. 2 Tanda Puasa Ramadhan Diterima Oleh Allah
Menjadi hamba yang jerih payah ibadah puasanya diterima merupakan tujuan utama dalam bulan Ramadhan. Pasalnya, puasa adalah ibadah yang cukup berat dalam pelaksanaannya.
Selain menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan syariat, seperti makan, minum, dan hubungan intim suami istri bagi yang telah menikah, aspek lain seperti kejujuran menjadi hal krusial saat menjalankan ibadah puasa.
Oleh karena itu, mendapatkan penerimaan dari Allah atas ibadah puasa sangatlah penting. Apalagi, puasa adalah satu-satunya ibadah yang pahalanya sepenuhnya bergantung pada penilaian Allah semata.
Begitu juga sebaliknya, ibadah puasa yang tidak diterima menjadi hal yang harus dihindari sekaligus ditakuti oleh seorang hamba. Usaha yang dilakukan dari terbitnya fajar kedua (berkumandangnya adzan subuh) sampai terbenamnya matahari (berkumandangnya adzan maghrib) menjadi sia-sia.
Bahkan puasa yang dilakukan menjadi tidak bernilai sama sekali. Nabi sudah memperingatkan, bahwa fenomena seseorang yang berpuasa namun hanya menyisakan lapar dan haus benar adanya. Sebagaimana sabda beliau:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya: Begitu banyak seseorang yang sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus, (HR. Imam Ibnu Majah).
Kita berpotensi melaksanakan ibadah puasa dengan menyisakan lapar dan dahaga. Seyogyanya, kita dari awal menyadari akan hal ini. Bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah diri kita sendiri.
Beruntungnya, para ulama merumuskan tanda diterimanya puasa seseorang. Kendatipun segala hal yang berkaitan dengan puasa sepenuhnya ada dalam prerogatif Allah, terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan Allah menerima ibadah puasa seseorang.
Salah satu ulama dari kalangan Hanabilah (madzhab Hanbali) bernama Ibnu Rajab menjelaskan tanda-tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa. Dalam kitabnya Lathaiful Ma'arif setidaknya dijelaskan bahwa ada dua tanda ibadah puasa seseorang diterima.
Walaupun tanda yang dijelaskan tidak absolut, kemungkinan diterimanya cukup besar. Uniknya, tanda-tanda itu berdasar pada pola tindakan seseorang dalam berpuasa, bukan dari eksternal.
Salah satu tanda seseorang diterima ibadah puasanya selama bulan Ramadhan adalah melanjutkan berpuasa di bulan Syawal. Lebih tepatnya hari kedua pada bulan Syawal sampai pada hari ketujuh.
Tidak hanya mendapatkan keutamaan-keutamaan berpuasa di bulan Syawal seperti setara berpuasa selama satu tahun penuh, namun menjadi indikator diterimanya puasa seseorang.
أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صَامَ رَمَضَانَ عَلاَمَةٌ عَلىَ قَبُولِ صَوْمِ رَمَضَانَ؛ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالى إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ
Artinya: Memiliki kebiasaan berpuasa setelah puasa bulan Ramadhan (puasa bulan Syawal) merupakan tanda dari diterimanya puasa Ramadhan. Sebab Allah menerima amal seseorang bergantung pada amal shalih sesudahnya, (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma'arif, [Riyadh, Dar Ibnu Khuzaimah: 2007], halaman 494).
Berdasar pada kaidah suatu amal saleh dapat diterima jika melaksanakan amal saleh setelahnya menjadikan berpuasa di bulan Syawal menjadi salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan.
Hal yang sama berlaku pada setiap amal. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk terus melakukan amal saleh terus menerus secara berturut-turut untuk memungkinkan diterimanya amal. Sehingga dalam kehidupan sehari-harinya selalu diiringi dengan amal saleh.
Berbeda ketika melakukan amal buruk setelah amal saleh. Jika seseorang mulanya beramal saleh namun diakhiri dengan amal yang buruk, maka amal saleh yang sebelumnya dilakukan akan tertolak dengan sendirinya (Lathaiful Ma'arif, halaman 494).
Tanda berikutnya memiliki kecondongan hati untuk tidak mengulangi maksiat di waktu mendatang. Hal ini poin utama dalam bertobat. Melaksanakan peribadatan berbanding lurus dengan komitmen untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan, baik maksiat yang pernah dilakukan, maupun yang belum pernah dilakukan.
Hanya saja, kondisi hati yang masih cenderung untuk mengulangi maksiat memiliki konsekuensi tersendiri. Kendatipun secara tampak seseorang sedang melaksanakan suatu peribadatan tetapi kondisi hatinya masih condong pada kemaksiatan, peribadatan yang demikian tidak dapat diterima.
Begitu pun dalam beribadah puasa di saat Ramadhan. Seseorang benar-benar harus memiliki keteguhan hati untuk tidak melakukan maksiat di luar waktu bulan puasa. Sebab seseorang yang berpuasa lalu berucap istighfar namun hatinya bertautan pada kemaksiatan, potensi diterimanya ibadah puasa sangat kecil.
فمَنِ اسْتَغْفَرَ بِلِسَانِهِ وَقَلْبُهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ مَعْقُوْد، وَعَزْمُهُ أنْ يَرْجِعَ إلَى المَعَاصِي بَعْدَ الشَّهْرِ ويَعُوْدُ؛ فَصَوْمُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ، وَبَابُ القَبُولِ عَنْهُ مَسْدُوْدٌ
Artinya: Siapa yang meminta ampunan secara lisan akan tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta merencanakan untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup. (Lathaiful Ma'arif, halaman 484).
Tajuddin As-Subki mengutip pernyataan salah satu ulama syafi'iyah bernama Abu Ali Al-Ashbahani. Dalam sebuah majelis, Al-Ashbahani ditanya oleh seseorang mengenai tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan.
Beliau menjawab, bahwa tanda ibadah puasa diterima ketika seseorang meninggal di bulan Syawal tanpa melakukan tindakan buruk (maksiat). Al-Ashbahani meninggal pada bulan Syawal di hari Senin pada tahun lima ratus dua puluh lima hijriah, (Thabaqatus Syafi'iyah, [Beirut, Dar Ihya': 1992], Juz VII, halaman 26).
Dua tanda yang sudah dipaparkan dapat dijadikan acuan serta indikasi puasa Ramadhan kita akan diterima Allah atau tidak. Walakin, sekali lagi, segala pertimbangan ibadah puasa sepenuhnya bergantung pada Allah, setidaknya kita memiliki gambaran atas kualitas puasa kita sendiri. Semoga puasa tahun ini dan puasa tahun-tahun berikutnya diterima oleh Allah. Amin. Wallahu A'lam.
Baca juga: Doa Buka Puasa Arab dan Artinya |
5. Dua Perbuatan yang Paling Bermanfaat Selama Bulan Ramadhan
Prinsip Islam berkaitan dengan kehidupan manusia menekankan pentingnya bermoral dan bermanfaat bagi sesama. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan keselarasan hidup di lingkungan masyarakat yang tumbuh dan berkembang dalam perbedaan kelas ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Manusia yang telah dianugerahkan berbagai kelebihan selama hidup diharapkan dapat berbagi manfaat dengan apa yang mereka miliki. Misalnya, orang kaya dapat berdonasi kepada orang yang membutuhkan melalui infak, zakat, serta sedekah.
Begitu juga orang berilmu dapat menyalurkan pengetahuan kepada orang lain melalui majelis taklim yang dimilikinya dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, Islam dapat memastikan kehidupan manusia bisa berjalan secara harmonis.
Bahkan telah masyhur disebutkan bahwa siapa saja yang bermanfaat bagi sesama akan diberikan predikat manusia terbaik. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Al-Qadha'i dalam Musnad Asy-Syihab:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama. (HR. Al-Qadha'i)
Kaitannya dengan bulan suci Ramadhan, masa ini adalah kesempatan terbaik yang bisa dipergunakan oleh siapa pun untuk bermanfaat bagi sesama. Berikut ini dua perilaku penting yang perlu dilakukan selama bulan Ramadhan untuk menebar kebermanfaatan dan meningkatkan ganjaran pahala.
1. Mengajarkan Al-Qur'an
Seluruh ulama sepakat bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan suci Ramadhan. Sehingga sering kali disebut juga sebagai bulan Al-Qur'an. Oleh karenanya, seyogianya umat Islam memanfaatkan momentum ini untuk mengajarkan kepada orang lain membaca Al-Qur'an.
Karena keberkahan yang ada di bulan ini, diharapkan bisa mempermudah orang lain untuk bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar. Sebagaimana pada zaman dulu, Nabi SAW bersama Jibril melangsungkan pembelajaran Al-Qur'an setiap kali Ramadhan tiba. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عليه السلام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang paling dermawan. Kedermawanannya yang paling nampak itu ada pada bulan suci Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril bertemu dengan Nabi Muhammad dalam setiap malam pada bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur'an. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang dermawan dengan kebaikan melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari)
Begitu juga dalam hadis yang lain dijelaskan bahwa siapa saja yang mengajarkan Al-Qur'an, maka ia akan termasuk dalam golongan manusia terbaik, Sebaik-baik kalian adalah ia yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR Ahmad)
Ditambah lagi, Al-Qur'an satu-satunya bacaan umat Islam yang tidak akan pernah mendatangkan kejenuhan tatkala membacanya. Sehari-semalam dibaca 17x setiap sholat merupakan contoh kecil Al-Qur'an tidak akan pernah terlupakan. Apalagi kajian yang mengupas tuntas kandungannya yang selalu relevan dengan zaman.
Dengan demikian, ilmu Al-Qur'an tidak hanya bermanfaat bagi yang mengajarkan, akan tetapi bisa dirasakan juga oleh orang lain yang masih awam. Satu hal penting, ketika mengajarkan ilmu yang bermanfaat, ganjarannya bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Sebagaimana sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Apabila manusia meninggal dunia, maka catatan amal terputus dari dirinya kecuali tiga hal: 1) sedekah jariyah, 2) ilmu yang bermanfaat, dan 3) anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)
2. Bersedekah
Selain mengajarkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan, bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan adalah perbuatan baik yang sangat bermanfaat. Tidak perlu memulai dengan mengeluarkan harta yang banyak, cukup dengan cara sederhana, Allah SWT pasti akan memberikan pahala melimpah.
Misalnya, berbagi takjil atau hidangan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa. Dikatakan dalam hadis bahwa siapa saja yang melakukannya, maka ganjaran pahala yang diperoleh akan setara dengan orang yang berpuasa tersebut.
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كَانَ لَهُ - أَوْ كُتِبَ لَهُ - مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya: Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, dari Nabi Muhammad SAW: Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang sedang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. (HR. Ahmad)
Al-Munawi dalam kitab Faydhul Qadir menjelaskan bahwa tidak perlu mengeluarkan makanan yang mewah dan bermacam-macam untuk sekedar berbagi hidangan berbuka, namun seukuran sebiji buah kurma atau jika dalam kesulitan, segelas air minum pun sudah cukup. Pahalanya akan tetap setara dengan orang yang berpuasa yang diberikan sedekah tersebut. (Al-Manawi, Faydhul Qadir [Mesir: Maktabah at-Tijariah al-Kubra, 2010], jilid VI, hlm. 187).
Namun, perlu dipahami bahwa apa yang dijelaskan di atas merupakan kriteria standar untuk melakukan sedekah. Jika mempunyai rezeki yang lebih banyak, maka utamanya bersedekah menyesuaikan dengan kemampuan tersebut.
Selain itu, selama bulan Ramadhan kaum Muslim juga dianjurkan untuk berbagi dengan cara lain, seperti berdonasi kepada korban bencana, membantu operasional masjid, santunan anak yatim, dan lain sebagainya. Sebab, Ramadhan adalah masa paling utama untuk bersedekah, sebagaimana dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
عن أنسٍ قال: سُئل النبيُّ صلى الله عليه وسلم: أيُّ الصَّومِ أفضلُ بعد رمضانَ؟ قال: شعبان لِتعظيمِ رمضانَ. قال: فأيُّ الصَّدَقةِ أفضلُ؟ قال: صدَقةٌ في رمضانَ
Artinya: Dari Anas, ia berkata, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan? Nabi menjawab, Puasa Sya'ban untuk memuliakan kedatangan Ramadhan. Orang tersebut bertanya lagi, Sedekah apa yang paling mulia? Nabi menjawab, Sedekah pada bulan Ramadhan. (HR. Tirmidzi)
Kedua perbuatan di atas adalah opsi terbaik untuk melakukan amal yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mengoptimalkan potensi Ramadhan ini dengan maksimal. Wallahu a'lam.
6. Mengenal Hikmah Disyariatkannya Puasa
Salah satu ciri khas keutamaan bulan Ramadhan yang dapat kita rasakan bersama adalah keberadaannya yang selalu menjadi istimewa bagi umat Islam. Pada bulan mulia ini, kita bisa melihat masjid seolah menjadi lebih hidup, Al-Qur'an lebih sering dibaca dan terdengar di mana-mana, dan ibadah ditunaikan dengan lebih khusuk.
Dari sekian banyak ibadah yang dilakukan di dalamnya, puasa menjadi ibadah paling menonjol dan lebih terasa daripada ibadah-ibadah yang lain. Mengapa demikian? Karena puasa tidak hanya tentang menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi melibatkan pengendalian diri secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.
Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut perihal hikmah-hikmah diwajibkannya puasa. Sehingga kita tidak hanya merasakan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar meresapi makna puasa dengan sebenar-benarnya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, puasa memiliki hikmah yang sangat luar biasa. Ia merupakan sarana untuk membersihkan diri dari dosa, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa melatih kita untuk bersabar, jujur, dan peduli terhadap sesama. Ia juga menjadi momentum untuk introspeksi diri, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Setidaknya ada empat hikmah luar biasa di balik disyariatkannya puasa yang penting untuk kita ketahui bersama, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitab Rawai'ul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam halaman 93, yaitu sebagai berikut.
1. Bentuk Penghambaan
Hikmah pertama dari puasa adalah wujud penghambaan diri kepada Allah SWT. Puasa mengajarkan kita untuk tunduk dan patuh sepenuhnya terhadap perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam puasa, seseorang harus meninggalkan makan, minum, dan berbagai kenikmatan yang sebenarnya halal bukan karena tidak mampu, tetapi semata-mata karena ketaatan kepada Allah. Hal ini berdasarkan salah satu hadis Rasulullah, yaitu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
Artinya: Rasulullah SAW bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku'. (HR. Ahmad).
Melalui puasa, manusia dilatih untuk benar-benar merasakan dirinya sebagai hamba yang senantiasa berserah diri kepada keputusan dan ketetapan Allah. Dan inilah puncak tujuan dari semua ibadah, yaitu menumbuhkan sikap tunduk, patuh, dan pasrah kepada Rabb semesta alam.
2. Mendidik Jiwa dan Melatih Kesabaran
Hikmah kedua dari disyariatkannya puasa adalah untuk mendidik jiwa dan melatihnya agar terbiasa bersabar serta tabah dalam menghadapi kesulitan di jalan Allah. Puasa menumbuhkan kekuatan tekad dan kemauan.
Serta menjadikan manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan keinginannya. Dengan berpuasa, kita tidak menjadi budak jasmani atau tawanan syahwat, tetapi mampu berjalan di atas petunjuk syariat Islam dan akal sehat.
3. Menumbuhkan Rasa Cinta, Kasih Sayang, dan Empati
Hikmah ketiga dari disyariatkannya puasa adalah menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan kepekaan sosial dalam diri manusia. Puasa menjadikan hati lebih lembut, jiwa lebih peka, dan perasaan lebih halus terhadap penderitaan orang lain.
Karena rasa lapar dan haus yang kita rasakan tidak hanya bentuk pengekangan diri, melainkan sarana untuk membangkitkan energi spiritual agar kita mampu merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan.
Dari sinilah tumbuh dorongan untuk berbagi, mengulurkan bantuan, menghapus air mata orang-orang yang lemah, serta meringankan beban mereka yang tertimpa kesusahan.
Dengan puasa pula, ia akan menjadi pribadi yang dermawan dan penuh empati, karena hati yang telah ditempa oleh ibadah puasa tidak akan tega berpaling dari penderitaan sesama.
Demikianlah salah satu contoh yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf alaihissalam. Meski ia pernah memegang perbendaharaan negaranya, namun ia tidak pernah makan hingga sangat kenyang dan senantiasa merasakan lapar, hingga suatu saat ia ditanya perihal alasan dari perbuatan itu, maka ia menjawab:
أَخْشَى إِنْ أَنَا شَبعْتُ أَنْ أَنْسَى الْجَائِعَ
Artinya: Aku khawatir jika aku kenyang, aku akan melupakan orang yang kelaparan.
4. Menyucikan Jiwa dan Mencapai Derajat Takwa
Hikmah keempat dari disyariatkannya puasa adalah untuk menyucikan jiwa manusia dengan menanamkan rasa takut kepada Allah, serta kesadaran akan pengawasan-Nya.
Baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, puncaknya adalah menjadikan orang-orang yang berpuasa menjadi hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).
Dan ini pula alasan mengapa Allah SWT pada ayat di atas menegaskan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia meraih derajat takwa, bukan agar manusia merasakan lapar, dahaga, atau sekadar memperoleh manfaat jasmani.
Lebih dari itu, puasa agar tumbuh dalam dirinya sikap takwa yang sejati. Dan inilah manfaat terbesar yaitu kesiapan jiwa untuk kembali menjadi hamba Allah yang senantiasa berkomitmen untuk menjalani perintah-Nya, dan konsisten menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah kultum Ramadhan tentang hikmah disyariatkannya puasa. Semoga apa yang telah dijelaskan ini tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan dan nasihat di lisan saja, tetapi benar-benar meresap ke dalam hati dan terwujud dalam perilaku keseharian kita. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
7. Menghidupkan Hati dengan Tadarus Al-Qur'an
Sebagai mukjizat paling agung yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur'an hadir sebagai kompas sejati bagi umat manusia dalam menghadapi kompleksitas kehidupan.
Lembaran sejarah mencatat bahwa momen sakral turunnya kalam ilahi yang kita kenal sebagai peristiwa Nuzulul Qur'an ini bermula di tengah keagungan bulan suci Ramadhan.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan titik awal di mana cahaya petunjuk mulai menerangi jalan manusia menuju kebenaran. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS. Al-Baqarah: 185)
Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, memberikan klasifikasi mengenai waktu turunnya kitab-kitab samawi yang semuanya berpusat pada bulan Ramadan.
Mengutip sabda Rasulullah melalui jalur periwayatan Watsilah bin Asqa', beliau merinci bahwa Shuhuf Ibrahim hadir pada malam pertama, Taurat pada tanggal keenam, dan Injil pada tanggal ketiga belas Ramadhan.
Informasi ini memperkuat argumen teologis mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur'an, karena secara historis, bulan ini memang dipilih sebagai waktu diturunkannya cahaya petunjuk bagi umat manusia lintas zaman. (Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, [Beirut, Muassasah Ar-Risalah: 2006], jilid. III, halaman 161).
Bulan suci Ramadhan hadir sebagai momentum emas bagi setiap muslim untuk kembali merajut kedekatan dengan Al-Qur'an. Mengingat kaitan erat antara Ramadhan dan Al-Qur'an, memperbanyak tadarus bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menghidupkan kembali hati kita di bulan yang penuh berkah tersebut. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra':
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya: Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian. (QS Al-Isra': 82)
Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam kitab Khawathir Haulal Qur'an-nya memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagai berikut.
وَالشِّفَاءُ: أَنْ تُعَالِجَ دَاءً مَوْجُودًا لِتَبْرَأَ مِنْهُ. وَالرَّحْمَةُ: أَنْ تَتَّخِذَ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ مَا يَضْمَنُ لَكَ عَدَمَ مُعَاوَدَةِ الْمَرَضِ مَرَّةً أُخْرَى، فَالرَّحْمَةُ وِقَايَةٌ، وَالشِّفَاءُ عِلَاجٌ.
Artinya: Syifa' (penawar/obat) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah mengobati penyakit yang sedang ada agar sembuh darinya. Sedangkan maksud dari 'Rahmat' adalah mengambil sebab-sebab pencegahan (preventif) yang menjamin Anda tidak akan tertular atau kambuh oleh penyakit itu lagi. Jadi, Rahmat adalah pencegahan, sedangkan Syifa' adalah pengobatan. (Khawathir Haulal Qur'an, [Kairo, Mathabi' Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid XIV, halaman 8712)
Syekh Sya'rawi menawarkan distingsi yang sangat tajam sekaligus cerdas dalam membedah makna Syifa' dan Rahmat pada ayat tersebut. Beliau memandang Syifa' sebagai penawar bagi luka atau penyakit yang tengah merundung jiwa, sementara Rahmat adalah bentuk proteksi Ilahi yang menjaga kita agar tidak terperosok kembali ke dalam kesalahan yang sama.
Dalam konteks ini, tadarus Al-Qur'an menghasilkan dampak ganda: ia tidak hanya menyembuhkan penyakit hati yang sedang diderita, tetapi juga menjadi perisai preventif yang menghidupkan hati dan menjaganya dari mati suri.
Namun, apakah kesembuhan (syifa') dari Al-Qur'an itu hanya bersifat maknawi (psikologis) untuk penyakit hati dan gangguan jiwa, sehingga membebaskan seorang Muslim dari kecemasan, kebingungan, dan rasa iri, serta mencabut akar dendam, kedengkian, dan hasad dari dalam jiwanya, ataukah ia juga merupakan obat bagi hal-hal fisik dan penyakit badan?
Menurut Syekh Asy-Sya'rawi, pendapat yang paling kuat, bahkan yang dipastikan tanpa keraguan sedikit pun, adalah bahwa Al-Qur'an merupakan 'obat' dalam makna yang umum dan menyeluruh bagi kata tersebut.
Lalu, apa yang dimaksud dengan hidupnya hati lantaran bertadarus Al-Qur'an? Hati yang hidup adalah hati yang mudah merasakan sensitivitas spiritual. Ia akan mudah merasakan manis, pahit, dan asamnya spiritualitas sehingga hatinya merasakan kelezatan ibadah dan kepedihan atas kesempatan ibadah yang luput.
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam-nya menyebut salah satu dari beberapa tanda kematian hati:
مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ
Artinya: Salah satu tanda kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kekhilafan yang pernah dilakukan.
Syekh Ibnu Ajibah menyebutkan tiga tanda kematian hati: pertama, tidak bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; kedua, tidak menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan ketiga, persahabatan dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya. (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], jilid. I, halaman 82).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tadarus Al-Qur'an bukanlah sekadar rutinitas membaca saja, akan tetapi merupakan aksi nyata sebuah metode pengobatan menyeluruh yang bekerja secara serentak.
Ia berfungsi sebagai solusi penyembuhan untuk penyakit hati yang ada, sekaligus menjadi benteng pencegahan agar hati tidak mengalami degradasi spiritual atau bahkan 'mati suri', sehingga akan hidup dan mudah merasakan sensitivitas spiritual, seperti bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan tidak akan bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.
Menyitir perspektif Syekh Asy-Sya'rawi, tadarus menawarkan kesehatan yang bersifat holistik; ia memulihkan stabilitas psikologis dari jeratan kecemasan serta hasad, dan secara pasti diyakini membawa energi pemulihan bagi kesehatan fisik. Melalui keselarasan syifa' dan rahmat ini, Al-Qur'an hadir sebagai penjaga keutuhan manusia secara lahir dan batin.
Momentum Ramadhan adalah ruang terbaik untuk menghidupkan hati dan memperkuat iman melalui tadarus yang konsisten. Mari kita sambut ajakan kebaikan ini dengan tekad yang bulat untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an di sepanjang bulan suci ini. Wallahu a'lam.
8. Bulan Puasa, Waktu Terbaik untuk Saling Memaafkan
Memperbaiki hubungan dengan sesama, terutama di bulan Ramadhan, adalah salah satu tujuan utama dalam memperdalam makna ibadah dan memperkuat tali persaudaraan.
Bulan Ramadhan, sebagai bulan penuh berkah, bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, baik itu dengan keluarga, teman, tetangga, atau bahkan orang yang mungkin pernah kita berselisih dengannya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۖ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Artinya: Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.
Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya jilid 22, halaman 293, menjelaskan uraian ayat ini:
ذَلِكَ هُوَ الْإِصْلَاحُ بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ
Artinya: Yaitu mendamaikan di antara mereka dengan cara yang adil.
Penjelasan ini selaras dengan semangat Ramadhan, bulan yang dikaruniakan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Salah satu wujud perbaikan diri adalah menata kembali hubungan dengan sesama. Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Araf ayat 199 terkait pentingnya saling memaafkan:
Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan ampunan, menjadikannya waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa memaafkan orang lain adalah jalan untuk meraih ampunan dari Allah SWT.
Ketika kita menghadapi masalah atau perselisihan, Ramadhan mengajak kita untuk membuka hati dan melepaskan dendam. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 178:
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.
Berdasarkan ayat di atas, Imam Ibrahim An-Nakha'i pernah menjelaskan sifat pemaaf yang dimiliki oleh orang beriman, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir jilid 25 halaman 114:
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا، وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا
Artinya: Karakter orang-orang beriman tidak suka jika dihina, namun ketika mereka bisa memilih, mereka memilih untuk memaafkan.
Selain itu, dalam rangka menjaga hubungan dengan sesama, kita dianjurkan untuk banyak berbagi, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, seperti menyediakan makanan berbuka puasa bagi mereka yang kurang mampu, menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat tali persaudaraan. Tindakan ini mencerminkan kepedulian dan kasih sayang, yang pada akhirnya memperkuat hubungan antarumat manusia.
Bulan Ramadhan juga mengajarkan kita untuk bersabar, baik dalam menghadapi cobaan hidup maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Alih-alih cepat menghakimi, kita diajak untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk berubah dan memperbaiki diri.
Sikap sabar ini akan menciptakan lingkungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa dihargai dan diterima. Semakin kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah melalui ibadah yang lebih berkualitas, semakin baik pula hubungan kita dengan sesama.
Keikhlasan dalam beribadah melahirkan sikap positif yang tercermin dalam interaksi sehari-hari. Sikap tersebut, yang terwujud dalam tindakan nyata, akan memperbaiki dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain.
Mari manfaatkan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan sesama. Dengan menjadi lebih sabar, pemaaf, peduli, serta menjaga lisan, kita dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota lainnya akan ikut merasakan susah tidur dan demam.
Semoga Allah memberi kekuatan agar kita benar-benar menghayati bahwa hubungan antarsesama laksana satu tubuh, sehingga kita senantiasa menjaga kebaikan dengan orang di sekitar. Mari pererat tali persaudaraan, semoga kita termasuk golongan yang bertakwa. Amin ya Rabbal Alamin.
9. Muhasabah Diri di Bulan Penuh Kemuliaan
Pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriah, Allah SWT mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan kepada umat Islam. Sebelumnya Rasulallah Saw senantiasa mengerjakan puasa tiga hari dalam setiap bulannya (Ayyamul Bidh). Rasulallah Saw Bersabda:
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Artinya: Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta'ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa telah dilaksanakan oleh para nabi dan umat terdahulu, sebagaimana misalnya Nabi NUH AS melaksanakan puasa setelah Allah Swt menurunkan petaka kepada kaumnya, Nabi NUH AS melaksanakan puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas keselamatan yang diberikan kepada orang orang yang beriman.
Contoh lain misalnya umat Nabi MUSA AS mereka melaksanakan puasa tanggal 10 Muharram sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt yang telah menyelamatkan mereka dari kejaran Fir'aun dan balatentaranya. Sebagaimana hal ini termaktub dalam firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah: 183).
Setiap bulan memiliki keutamaan dan hikmah tersendiri, begitu juga dengan bulan Ramadhan. Allah Swt memberikan banyak kemuliaan dan keutamaan yang ada pada bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Mari kita simak Khutbah Rasulallah SWT terkait kemuliaan bulan suci Ramadhan:
Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, Rasulallah SAW berkata:
Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepada mu bulan Allah, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Ramadhan adalah bulan yang paling mulia (Utama) di sisi Allah di antara bulan lainnya. Hari-hari yang ada di bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan hari lainnya. Malam-malamnya sebaik-baiknya malam. Waktunya adalah sebaik baiknya waktu. Bulan yang di mana seseorang dipanggil Allah untuk menjadi tamu tamunya, dan kalian dijadikan sebagai ahli kemuliaan Allah.
Keluar masuk nafas mu dihitung bacaan tasbih, tidurmu dinilai sebagai ibadah, amal perbuatan mu diterima, doa-doa mu diijabah. Maka mintalah kepada-Nya di hari-hari Ramadhan itu dengan niat yang benar, hati yang suci. Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada mu dengan menjalankan puasanya dan membaca firman-firman-Nya yaitu (Al-Qur'an).
Sesungguhnya orang yang celaka adalah mereka yang tidak memperoleh ampunan di bulan yang sangat agung yaitu Ramadhan, jadikanlah lapar dan dahagamu di bulan Ramadhan sebagai lapar dan dahaga di hari kiamat, dan bersedekahlah kepada kalangan fakir dan miskin. Hormatilah orang tua mu dan kasihilah anak-anak mu sambutlah tali persaudaraan di antara mu.
Jagalah lisan-lisan mu, jagalah pandangan mata mu dari yang tidak halal, jagalah telinga mu dari perkara yang haram didengar, belas kasihanilah anak anak yatim agar mereka mendapatkan kasih sayang, bertaubatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosamu, angkatlah kedua tangan mu untuk memanjatkan doa dalam setiap waktu shalat mu, kamu berada di waktu yang paling utama.
Allah SWT memperhatikan mu dengan naungan rahmatnya. Allah SWT menerima permintaan hamba hambanya dan menyambutnya.dengan senang bagi yang meminta dan mengabulkan bagi mereka yang memintanya.
Wahai manusia, sesungguhnya jiwa jiwa kalian tegadaikan dengan amal perbuatan kalian, maka tebuslah dengan senantiasa membaca istighfar, tulang punggung kalian berat dengan dosa yang kalian pikul, ringankanlah dengan memperbanyak sujud (sholat), dan ketahuilah Allah SWT tidak akan menyiksa orang-orang yang senantiasa melaksanakan sholat dan ahli sujud (melaksanakan sholat sunah). Begitupun Ahli Shalat dan dan Ahli Sujud tidak merasa takut dengan api neraka di hari manusia dibangkitkan dan menghadap Rabb alam semesta.
Wahai manusia, barang siapa yang memberi makan berbuka orang yang berpuasa di bulan Ramadhan maka di sisi Allah pahala mereka seperti pahalanya orang yang memerdekakan hamba sahaya (Budak) dan mereka mendapatkan pengampuan atas dosa-dosanya.
Wahai manusia, barang siapa di antara kalian memperbaiki dirinya maka ia akan mendapatkan kemudahan, keberuntungan melewati jembatan Shirath, di saat banyak manusia tergelincir.
Barang siapa yang senantiasa berbuat baik di bulan Ramadhan maka ia akan diringankan hisabnya, dan barang siapa yang yang menahan diri dari perbuatan dosa, maka Allah Swt akan menahan amarah-Nya di hari ia menghadap.
Barang siapa yang yang menyambung tali persaudaraan karena Allah, maka Allah akan menyambungnya dengan rahmat-Nya, dan barang siapa yang memutus tali persaudaraan maka Allah SWT akan memutus pula rahmat-Nya.
Barang siapa yang melaksanakan ibadah shalat sunah, Allah SWT akan memuliakan dirinya terbebas dari api neraka, barang siapa mereka yang yang melaksanakan ibadah wajib maka ia akan memperoleh pahala seperti ia melakukan 70 tujuh puluh kali di bulan yang lain.
Barang siapa yang memperbanyak selawat kepadaku di bulan Ramadhan maka kelak akan berat timbangan kebaikannya di saat orang lain ringan timbangannya. Dan barang siapa yang yang membaca Al-Qur'an, maka ia akan memperoleh pahala seperti ia telah mengkhatamkannya di bulan yang lain.
Wahai manusia, sesungguhnya pintu pintu syurga dibuka pada bulan Ramadhan, maka mohonlah kepada Allah SWT semoga pintu itu tidak tertutup untuk kalian, dan pintu neraka tertutup maka mintalah kepada Allah agar pintu itu tidak terbuka untuk kalian. Dan sesungguhnya pada bulan itu setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Allah agar ia tidak menguasai kalian.
Demikianlah sebagian kutipan khutbah Rasulullah SAW, yang sejatinya merupakan karunia yang Allah berikan kepada kita semua Umat Nabi Muhammad SAW. Sebagai penutup mari simak sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
Artinya: Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut ar rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, Mana orang yang berpuasa. Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya
10. Spirit Ramadhan Bagi Orang yang Beriman
Bulan Ramadhan merupakan bulan rahmat dan ampunan dari Allah Swt barang siapa yang meminta ampunan maka Allah Swt akan mengampuni dosa dosanya. Bulan Ramadhan tidak akan terasa berat dijalani apabila dalam iman di hatinya sangat kuat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al- Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Lantas, pertanyaannya adalah siapakah yang disebut orang beriman? Dalam hal ini Nabi SAW pernah bersabda:
,ِ وَمَلاَئِكَتِھِ , وَكُتُبِھِ , وَرُسُلِھِ , وَالْیوَْمِ الآخِرِ , وَ تؤُْمِنَ باِلقْدَرِْ خَیرِْه وَ شَرِّه قاَلَ : أَنْ تؤُْمنِ باِ
Artinya: Rasulullah menjawab, Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim).
Disamping itu dirasa penting mengetahui ciri-ciri orang beriman sebagaimana syekh Nawawi mengatakan ciri orang beriman terdapat dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 1-5:
الۤمّۤۚ ١ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ٢ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ ٣ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ٤ اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ٥
Artinya: Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Ciri pertama orang beriman yang akan dengan mudahnya melaksanakan ibadah puasa dengan berbekal kecintaan kepada Allah adalah orang Islam yang percaya tanpa keraguan terhadap Al-Qur'an, bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah dan meyakini bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa yang juga berarti sebagai rahmat sehingga mau belajar dan membaca Al-Qur'an.
Yaitu orang islam yang percaya kepada hal Ghaib dan membenarkannya seperti kebenaran tentang adanya surga, adanya neraka, jembatan sirath, hari pertimbangan amal manusia yaumul mizan, dsb. Sehingga mereka berupaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Mereka yang beriman dengan hatinya bukan hanya dengan mulutnya sehingga tulus ikhlas dalam menjalankannya. Mereka yang mau mengerjakan shalat yang berarti menyempurnakan shalat lima waktu dengan syarat , rukun dan sunah sunahnya.
Mereka yang mau menafkahkan sebagian rezekinya, sebagian harta bendanya kepada orang orang yang berhak menerimanya. Orang-orang yang percaya kepada kitab kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an (injil, Zabur, Taurat serta suhuf-suhuf) sebagaimana puasa pun telah diwajibkan kepada orang orang terdahulu.
Mereka yang percaya akan adanya kehidupan akhirat dan juga membenarkan segala sesuatu tentang akhirat, adanya kebangkitan alam kubur sesudah kematian, perhitungan amal yaumul hisab, nikmat dan siksa kubur dan kenikmatan surga.
Mereka yang mau membuka pintu hidayah sehingga mau menerima petunjuk dari Allah SWT dan merekalah orang orang yang beruntung, selamat dari murka dan siksa Allah SWT.
Dengan menilik ciri ciri keimanan seseorang tersebut maka Imam Al-Ghazali Hujjatul Islam mengatakan puasa orang yang sempurna, yaitu mereka yang menjalankan ibadah puasa atas dasar keimanan dan kecintaan kepada Allah SWT, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Sehingga mereka tidak berat mengerjakannya, bertambah amal kebaikannya, meningkat ibadahnya, memperbanyak melaksanakan shalat sunah, membantu orang lain, tadarus Al-Qur'an sehingga mereka yang menjalankannya kembali kepada kesucian.
Dan, ganjaran yang akan mereka dapatkan adalah ketakwaan dan kemuliaan. Sebagaimana Firman Allah SWT:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Artinya: Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At-Thalaq: 2-3).
Oleh karena itu, mari jadikan Ramadhan sebagai sarana penghapusan dosa, mari jadikan Ramadhan sebagai bulan penghambaan kepada Allah SWT agar kita menjadi hamba-hamba yang dikasihi dan disayangi-Nya.
(hil/irb)











































