Menu MBG di Kota Malang Diganti Makanan Kering Tanpa Santan Selama Ramadan

Menu MBG di Kota Malang Diganti Makanan Kering Tanpa Santan Selama Ramadan

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 20 Feb 2026 15:20 WIB
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cinere Depok membolehkan siswa memilih menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG). (ANTARA/Lintang BP)
Foto: Ilustrasi menu MBG (ANTARA/Lintang BP)
Malang -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang akan menyesuaikan selama Ramadan. Mulai dari menu sampai dengan pendistribusian kepada penerima manfaat.

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Malang, Muhammad Athoillah mengatakan mayoritas menu MBG akan diganti makanan kering dan siap santap yang lebih tahan lama selama Ramadan.

Menurut Athoillah, kebijakan itu merupakan tindak lanjut dari arahan Badan Gizi Nasional (BGN). "Untuk menu puasa kita kirimkan dalam bentuk kemasan. Seperti buah, roti, telur, susu," tutur Athoillah saat dikonfirmasi, Jumat (20/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Athoillah mengungkapkan, penyesuaian ini dilakukan untuk mencegah makanan basi. Sehingga menu yang dibagikan tetap layak dikonsumsi hingga waktu berbuka puasa.

"Intinya kami siapkan makanan yang bisa awet selama penyimpanan seharian hingga waktu berbuka puasa," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Athoillah menambahkan, menu keringan tetap memenuhi standar kecukupan gizi harian. Isi paket bisa berupa sumber karbohidrat seperti roti, lauk tahan lama seperti abon atau telur, buah non-potong, kacang-kacangan, dan kurma yang sifatnya opsional.

Ia menegaskan bahwa makanan yang mudah rusak dalam hitungan jam, seperti kentang goreng, akan dinilai kembali berdasarkan daya tahannya.

"Dilihat dari daya tahannya, apakah kuat sampai satu hari atau tidak," tegasnya.

Sementara untuk kelompok 3B yakni Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui, layanan MBG tetap menggunakan menu basah seperti hari biasa. Untuk kelompok ini, makanan basah dalam kemasan ompreng tetap diberikan pada hari tertentu.

"Khusus 3B kita kirimkan hanya Kamis dan Senin saja. Bentuknya normal seperti biasa, karena mereka kan tidak berpuasa," ungkapnya.

Untuk skema pendistribusiannya dilakukan secara bergantian antara makanan basah dan makanan kemasan sesuai dengan kesepakatan kader setempat.

"Misalkan pada Senin dibagikan ompreng, lalu Selasa dan Rabu diberikan makanan kemasan. Begitu pula pada Kamis, kita kirimkan menu makanan basah di ompreng sedangkan Jumat Sabtu makanan kering," bebernya.

Athoillah mengaku telah menerbitkan surat edaran (SE) kepada seluruh SPPG guna menjaga kualitas makanan selama Ramadan. Salah satu poin yang ditekankan adalah menghindari penggunaan bahan yang tidak tahan lama, seperti santan.

"Terkait mekanismenya sudah kami sampaikan melalui surat edaran. Terutama makanan kemasan, kalau bisa tidak menggunakan santan dan sejenisnya," akunya.

Tak hanya menu, jadwal pendistribusian juga mengalami penyesuaian. Selama Ramadan, pengiriman makanan akan dilakukan sedikit lebih siang, agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

"Untuk pendistribusiannya setiap hari tidak ada perubahan. Bedanya, waktu pengiriman cenderung pagi, kalau bulan puasa mungkin agak siang agar tidak mengganggu jawal pelajaran," bebernya.

Namun, bagi sekolah yang mayoritas siswanya non Muslim, menu dan waktu pendistribusian tidak mengalami perubahan.

"Jika mayoritas siswa tidak berpuasa, maka kita akan berikan menu basah seperti biasa menggunakan ompreng," tambahnya.

Sementara itu, mekanisme berbeda diterapkan untuk SPPG yang berada di wilayah pondok pesantren. Menu yang diberikan tetap berupa makanan basah menggunakan ompreng. Namun, waktu memasak dan pendistribusian disesuaikan dengan jadwal berbuka puasa.

"Sementara ini hanya ada satu di Ponpes Bahrul Magfiroh, itu kita siapkan menu ompreng yang didistribusikan menjelang buka puasa," pungkasnya.




(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads