Perbedaan Sholat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Perbedaan Sholat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Kamis, 19 Feb 2026 17:45 WIB
Sholat Tarawih di Masjid Al Akbar Surabaya.
Sholat Tarawih di Masjid Al Akbar Surabaya. Foto: Raihan Akbar Mahendra
Surabaya -

Memasuki bulan Ramadhan, terdapat ibadah khas yang dikerjakan umat Islam, yakni sholat Tarawih. Namun, sebagian orang melaksanakannya sebanyak 11 rakaat, sementara yang lain 23 rakaat. Lantas, apa perbedaan keduanya?

Sholat Tarawih merupakan sholat sunah yang khusus dikerjakan pada malam hari selama bulan Ramadhan. Ibadah ini dilaksanakan setelah sholat Isya, dan biasanya ditutup dengan sholat Witir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan Jumlah Rakaat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Dalam praktiknya, terdapat dua pendapat utama mengenai jumlah rakaat sholat Tarawih 11 dan 23 rakaat. Perbedaan tersebut muncul karena perbedaan beberapa riwayat hadis yang menjelaskan tata cara ibadah malam Rasulullah SAW.

Dikutip dari detikHikmah, perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih sebenarnya telah ada sejak lama. Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan bahwa jumlah rakaat sholat Tarawih bukan hanya seperti yang populer di Indonesia, yaitu 23 dan 11, bahkan ada yang 39 rakaat.

ADVERTISEMENT

Imam Syafi'I bahkan menyebutkan masyarakat Madinah pada masa dahulu melaksanakan sholat Tarawih hingga 39 rakaat. Ada pula riwayat yang menyebut 41 rakaat, 40 rakaat, bahkan 13 rakaat. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat Tarawih tidak hanya berkisar pada 11 dan 23 rakaat saja.

Para ulama sepakat perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih tidak seharusnya menimbulkan perpecahan. Baik 11 maupun 23 rakaat sama-sama memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang terpenting bukanlah jumlah rakaatnya, melainkan bagaimana umat Islam menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah, penuh kekhusyukan, serta menjaga kebersamaan.

Perbedaan Sholat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Pelaksanaan sholat Tarawih di Indonesia umumnya terbagi menjadi dua jumlah rakaat, yakni 11 dan 23 rakaat. Masing-masing didasarkan pada dalil serta tradisi keagamaan yang dianut organisasi Islam. Berikut penjelasan lengkapnya di bawah ini.

1. Tarawih 11 Rakaat

Muhammadiyah mengamalkan sholat Tarawih sebanyak 11 rakaat. Pelaksanaannya dilakukan dengan empat rakaat, lalu salam tanpa tahiyat awal, dilanjutkan empat rakaat dan salam, kemudian ditutup dengan sholat Witir tiga rakaat.

Merujuk pada laman resmi Muhammadiyah, menurut penelitian Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadis-hadis yang menyebut sholat Tarawih 23 rakaat dianggap sebagai hadis dhaif atau lemah.

Muhammadiyah mengamalkan sholat Tarawih dengan 11 rakaat karena berlandas pada hadis-hadis sahih riwayat Rasulullah SAW. Di antara hadis-hadis sahih di antara lain sebagai berikut.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً ... [رواه البخاري ومسلم] .

Artinya: Dari Abi Salamah Ibnu Abdir-Rahman (dilaporkan) bahwa ia bertanya kepada Aisyah RA tentang bagaimana sholat Rasulullah SAW di bulan Ramadan. Aisyah RA menjawab: Nabi SAW tidak pernah melakukan sholat sunah (tathawwu') di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya, kemudian beliau sholat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau sholat lagi tiga rakaat ... (HR Bukhari dan Muslim)

Dilansir dari buku "Kontroversi Shalat Malam, Witir, Dan Tarawih: Telaah Kritis atas Hadis-Hadis" karya Wawan Shofwan Shalehuddin, terdapat dua cara Nabi SAW melaksanakan sholat Tarawih 11 rakaat.

Yaitu hitungan 4-4-3 dan 2-2-2-2-1. Hitungan 4-4-3 didasarkan pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA yang menyebutkan:

"Nabi SAW tidak pernah melakukan sholat sunah pada Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian, beliau sholat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau sholat lagi tiga rakaat (witir),".

Sedangkan, untuk hitungan 2-2-2-2-2 ditambah 1 witir didasarkan hadis riwayat Muslim dari sahabat Ibnu Abbas yang berbunyi:

"Aku berdiri di samping Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah shalat dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah SAW sholat witir, kemudian Rasulullah SAW tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan azan. Maka bangunlah Rasulullah SAW dan sholat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan sholat Subuh,".

2. Tarawih 23 Rakaat

Sementara untuk Nahdlatul Ulama (NU) mengamalkan sholat Tarawih dengan 23 rakaat, yakni 20 rakaat sholat Tarawih dan 3 rakaat sholat witir. Dilansir NU Online, hal tersebut disebutkan dalam buku "ke-NU-an Ahlussunnah Waljama'ah An-Nahdliyyah" terbitan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama DI Yogyakarta.

Dijelaskan dalam buku tersebut bahwa Imam Maliki berpendapat sholat Tarawih 8 rakaat. Akan tetapi, mazhab Syafi'iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah sepakat bahwa sholat Tarawih adalah 20 rakaat.

Pendapat ini dinilai memiliki dasar yang lebih kuat serta didukung kesepakatan ulama. Landasan tersebut merujuk pada hadis dari Aisyah Ummul Mu'minin RA, Rasulullah bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Dari 'Aisyah Ummil Mu'minin RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, "Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila sholat ini diwajibkan pada kalian." Sayyidah 'Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan',". (HR Bukhari dan Muslim)




(hil/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads