Lebih Setengah Abad, Siti Aisyah Menjaga Tradisi Nyekar Jelang Ramadan

Lebih Setengah Abad, Siti Aisyah Menjaga Tradisi Nyekar Jelang Ramadan

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 19 Feb 2026 09:00 WIB
Penjual bunga di depan makam Samaan Kota Malang ketiban berkah jelang Ramadan 2026
Penjual bunga di depan makam Samaan Kota Malang ketiban berkah jelang Ramadan 2026. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Di sudut kecil depan TPU Samaan, Kota Malang, jemari renta Siti Aisyah (70) masih tampak lincah. Dengan telaten, ia memadukan kelopak mawar merah, melati, hingga kenanga ke dalam bungkusan-bungkusan kecil.

Bau harum bunga-bunga segar itu seolah menjadi napas hidupnya sejak tahun 1959. Bagi Siti, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga momen 'panen' yang penuh syukur.

Di saat masyarakat berbondong-bondong melepas rindu pada leluhur melalui tradisi ziarah, Siti hadir sebagai jembatan doa lewat bunga yang dijualnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah, tahun ini benar-benar berkah. Kalau sudah mau masuk puasa, pembeli tidak berhenti datang," tutur Siti Aisyah ditemui wartawan di lapak jualannya, Rabu (18/2/2026).

Kesetiaan Siti selama lebih dari enam dekade bukan tanpa hasil. Meski hanya memiliki lapak sederhana, ia telah membangun jejaring pemasok dari Kota Batu hingga Bangil, Kabupaten Pasuruan.

ADVERTISEMENT

Ketekunan ini berbuah manis tahun ini, omzetnya meroket hingga 10 kali lipat. Dari yang biasanya hanya laku belasan bungkus, kini ia bisa melepas lebih dari 100 bungkus bunga setiap harinya.

Meski permintaan meledak, Siti tak ingin curang. Ia tetap menjaga kualitas bunganya yang dikirim langsung dari petani langganannya di Batu, Lawang, hingga Bangil. Baginya, bunga yang layu adalah janji yang diingkari kepada peziarah.

"Bunganya harus segar. Kasihan yang mau kirim doa kalau bunganya sudah layu," ucap warga Pakis, Kabupaten Malang, ini.

Di lapak kecilnya, Siti bukan hanya menjual bunga mawar atau sedap malam. Ia menjual kenangan.

Banyak peziarah yang kini sudah berambut putih, dulunya adalah anak-anak yang digandeng orang tuanya saat membeli bunga di lapak Siti puluhan tahun silam.

"Ada yang dulu kecil beli di sini, sekarang sudah bawa cucu. Mereka masih kenal saya," katanya dengan mata berbinar.

Bagi Siti Aisyah berjualan bunga bukan lagi soal mencari untung semata, melainkan menjaga denyut tradisi di Kota Malang yang tak pernah pudar meski zaman telah berganti.

Selama hampir 67 tahun, Siti telah melihat perubahan zaman dari era Bung Karno hingga teknologi canggih tahun 2026. Namun baginya, satu hal yang tidak pernah berubah adalah ketulusan orang-orang yang datang membawa doa.

"Senang kalau mau Ramadan gini. Bukan cuma karena uangnya, tapi melihat orang-orang masih ingat sama orang tuanya, sama leluhurnya. Itu yang bikin saya semangat jualan," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads