Cara Memaksimalkan Ramadhan Sesuai Ajaran Sahabat Nabi

Cara Memaksimalkan Ramadhan Sesuai Ajaran Sahabat Nabi

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 18 Feb 2026 09:00 WIB
Ramadan Kareem photography, Lantern with crescent moon shape on the beach with sunset sky, 2024 Eid Mubarak  greeting background
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/sarath maroli)
Surabaya -

Ramadhan sebentar lagi dan bagi sahabat Nabi SAW Ramadhan lebih dari sekadar menahan lapar dan haus. Sejak dulu, mereka memuliakannya dengan taat memaksimalkan ibadah dan meningkatkan akhlak.

Hal ini juga sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Ia menjelaskan bahwa memaksimalkan Ramadhan berarti membersihkan jiwa atau tazkiyatun nafs. Puasa lebih dari menahan makan dan minum, melainkan harus berdampak pada hati, perilaku, dan pikiran.

Lalu, bagaimana cara para sahabat Nabi memaksimalkannya? Simak penjelasannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulianya Puasa

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin, puasa punya tiga tingkatan. Tingkatan ini bertujuan membersihkan jiwa secara bertahap, dengan Ramadhan sebagai waktu ideal untuk mencapainya.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

ADVERTISEMENT

1. Puasa Orang Awam (Shaumul' Awam)

Tingkat terendah, yaitu menahan perut dari makan-minum, kemaluan dari jimak, serta hal-hal pembatal puasa lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ini puasa umum yang dilakukan mayoritas umat, tapi minim dampak batin karena tak mengendalikan nafsu lain.

2. Puasa Orang Khusus (Shaumul Khawas)

Tingkat menengah, yang dilakukan seperti puasa pada umumnya, namun juga menjaga mata dari zina pandang, telinga dari ghibah, lisan dari dusta atau kasar, tangan-kaki dari mencuri atau menyerang, serta makan secukupnya saat buka agar tak lalai.

3. Puasa Sangat Khusus (Shaumul Khawasul Khawas)

Tingkat tertinggi, puasa ini umumnya dilakukan oleh wali/ahli tasawuf. Puasa ini berfokus pada membebaskan pikiran dari hal-hal duniawi sepenuhnya dan menahan hati dari hal-hal selain Allah.

Kegiatan Sahabat Nabi dalam Memaksimalkan Ramadhan

Sahabat Nabi SAW memaksimalkan ibadah Ramadhan dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka menjadikan bulan suci sebagai puncak taqwa, sering kali mengorbankan urusan duniawi demi ibadah.

Para sahabat memuliakannya dengan:

1. Qiyamul Lail dan Tarawih

Rasulullah SAW memberikan anjuran kepada umat-Nya untuk melakukan sholat qiyamul lail sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan karena sholat qiyamul lail memiliki kemuliaan yang luar biasa.

Kisah Umar bin Khattab di malam Ramadhan sering diceritakan sebagai contoh kesungguhan ibadah.

Pada Ramadhan pertama khalifahnya, Umar melihat sahabat shalat tarawih berjamaah terpisah-pisah seperti masa Nabi. Umar lalu menyatukannya di Masjid Nabawi dengan imam Ubay bin Ka'ab RA dengan menunaikan shalat sebanyak 23 rakaat termasuk witir.

Umar juga menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat semampunya di rumah. Ia membangunkan istri dan anaknya di tengah malam untuk tahajud berjamaah.

2. Tilawah Al-Qur'an

Di masa sahabat, tilawah jadi rutinitas utama sepanjang Ramadhan. Qatadah dikenal mengkhatamkan Al-Qur'an tiap tiga malam, bahkan setiap hari di 10 malam terakhir.

Utsman bin Affan juga disebut mampu khatam harian, sementara Ibnu Umar lebih mengamalkan tadabbur. Mereka sering membaca bersama di masjid dan menargetkan minimal khatam sekali secara tartil.

Para ulama kemudian menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak tilawah di Ramadhan karena bulan ini adalah momen turunnya Al-Qur'an. Ditambah lagi, Nabi SAW dikenal lebih intens bertadarus bersama Jibril.

Dalam kitab Bughyah al-Insan fi Wadza'if Ramadhan, Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kebiasaan tadarus Nabi menunjukkan sunnah membaca Al-Qur'an berjamaah di malam Ramadhan.

3. Target Khatam Al-Qur'an

Qatadah bin Di'amah biasa khatam Al-Qur'an seminggu sekali di luar Ramadhan. Memasuki Ramadhan, targetnya naik menjadi setiap 3 hari dan ketika 10 malam terakhir beliah bahkan mampu khatam setiap malam.

Ada juga kisah Imam Syafi'i yang dikenal luar biasa disiplin. Disebutkan beliau bisa mengkhatamkan Al-Qur'an hingga 60 kali selama Ramadhan. Malam harinya pun dihidupkan dengan qiyamul lail. Muridnya pernah bercerita bahwa beliau bangun di sepertiga malam, membaca puluhan ayat di mana setiap ayat rahmat dipanjatkan doa, dan setiap ayat azab diiringi permohonan perlindungan.

4. Bersedekah

Para sahabat Nabi juga berlomba-lomba menjadi lebih baik dan murah hati saat Ramadhan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, misalnya, rela menginfakkan seluruh hartanya untuk membebaskan budak Muslim dan memberi makan fakir miskin. Semua demi memastikan setiap orang merasakan keberkahan bulan suci.

Dikisahkan juga bahwa Utsman bin Affan RA bahkan membeli sumur lalu mewakafkannya untuk umat Islam, agar siapapun bisa mendapatkan air saat kekeringan. Ia juga menyumbang ribuan unta, kuda, dan dinar untuk kepentingan umat.

Selain itu, Abdurrahman bin Auf RA, pedagang kaya, memborong semua bahan makanan di pasar Ramadhan dan membagikannya ke yang membutuhkan. Keuntungannya pun ia serahkan sepenuhnya agar harta tidak menghalangi jalan ke surga.

Bahkan, Ibnu Umar RA punya kebiasaan mengundang yatim dan miskin berbuka bersama, sementara suku Bani Adi selalu membawa makanan ke masjid supaya tak ada yang kesepian saat berbuka.

5. Berdoa Menyambut Ramadhan

Dalam riwayat Mu'alla bin Al-Fadhl tentang sahabat, dijelaskan bahwa 6 bulan sebelum Ramadhan tiba, sahabat Nabi SAW akan berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan. Kemudian, 6 bulan setelahnya, mereka kembali memanjatkan doa supaya amal mereka diterima.

Doa populer yang diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi'in seperti Mu'alla bin Al-Fadhl:

Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω… Ψ³ΩŽΩ„Ω‘ΩΩ…Ω’Ω†ΩΩŠ Ω„ΩΨ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩΩ…Ω’ Ω„ΩΩŠ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ وَΨͺΩŽΨ³ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩ…Ω’Ω‡Ω Ω…ΩΩ†Ω‘ΩΩŠ مُΨͺΩŽΩ‚ΩŽΨ¨Ω‘ΩŽΩ„Ω‹Ψ§

Arab Latin: Allahumma salimni lir Ramadhana, wa sallim Ramadhana lii, wa tasallamhu minni mutaqabbalan.

Artinya: "Ya Allah, sampaikan aku dengan selamat kepada Ramadhan, sampaikan Ramadhan kepadaku, dan terimalah (amal) Ramadhan dariku dengan diterima."

Selain memanjatkan doa, mereka juga senantiasa membersihkan hati dengan taubat nasuha, menyelesaikan perselisihan, memaafkan dendam agar cahaya Ramadan masuk tanpa halangan.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads