Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 yang digelar selama tiga hari, 14-16 Februari lalu, berlangsung sukses dan dipadati ribuan pengunjung. Festival dalam rangka perayaan Imlek itu digelar di kawasan pecinan Kembang Jepun dan menghadirkan berbagai tenant kuliner serta hiburan.
Keramaian tidak hanya dirasakan para tenant di jalur utama festival, tetapi juga warga yang tinggal di sekitar lokasi. Salah satunya Rumiana (40), warga gang buntu Kampung Kembang Jepun yang berada tepat di area acara. Ia mengaku penjualannya meningkat signifikan selama festival berlangsung.
"Sangat membantu. Kalau ada acara pasti rame, apalagi waktu Imlek selalu rame," kata Rumiana saat ditemui di depan gang pada Minggu (15/2).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumiana sehari-hari menjual minuman botolan dan es dalam kantong plastik secara sederhana. Di depan gang kecil selebar sekitar satu meter itu tampak rentengan minuman kemasan menggantung berjejer, lengkap dengan peralatan memasak di sepanjang sisi gang. Usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang sudah ada jauh sebelum kawasan Kya-Kya dikenal sebagai destinasi wisata kuliner.
"Umi lahir di sini itu tahun 30-an dan sudah menetap di gang buntu ini. Jadi, awalnya umi (nenek) dulu yang berjualan di sini, terus sekarang saya. Sudah lama sekali, berarti kan sebelum saya lahir juga sudah ada," ujarnya.
Dalam satu gang buntu tersebut, usaha dijalankan oleh satu keluarga besar yang terdiri dari tujuh Kartu Keluarga (KK). Mereka tetap berjualan setiap hari, dari pagi hingga malam, meski kondisi Kya-Kya di luar momen acara relatif sepi.
"Kya-Kya memang buka tiap minggu dari hari Jumat sampai Minggu, tapi kita jual setiap hari. Tapi, kalau nggak ada acara ya sepi, paling yang beli warga sekitar, pelanggan kami juga dari grosir eceran sebelah. Apalagi ini kan cuma event beberapa hari saja," katanya.
Menurut Rumiana, kondisi Kya-Kya saat ini berbeda dibandingkan masa awal pengelolaannya. Ia menilai dulu kawasan tersebut lebih ramai karena tidak hanya diisi tenant makanan, tetapi juga berbagai hiburan dan aktivitas lain.
"Cuma, beberapa bulan ini agak sepi, semenjak liburan kemarin. Dulu waktu awal dibangun Kya-Kya itu rame. Sekarang lebih banyak makanan saja. Kalau dulu ada aksesoris segala macam, serba ada lah," ujarnya.
Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat menambah frekuensi acara agar kawasan Kya-Kya semakin hidup dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pedagang kecil di sekitarnya.
"Harapannya ada acara lagi, jangan cuma pas event besar seperti Natal dan Imlek. Biar lebih rame dan hidup, tidak monoton," pungkas Rumiana.
Festival Kya-Kya sendiri merupakan agenda tahunan saat perayaan Imlek yang selalu menjadi magnet wisatawan. Di luar momen tersebut, kawasan ini tetap beroperasi setiap akhir pekan, namun tingkat kunjungannya tidak sebesar saat perayaan besar.
Bagi Rumiana, keramaian selama tiga hari festival menjadi momentum penting untuk menambah penghasilan keluarga. Festival tahunan itu pun menjadi berkah yang selalu ia nantikan dari gang buntu Kembang Jepun.
(ihc/ihc)
