Mahasiswa Untag Bikin Alat Pengering Gabah dengan Sensor Suhu

Mahasiswa Untag Bikin Alat Pengering Gabah dengan Sensor Suhu

Anastasia Trifena - detikJatim
Sabtu, 14 Feb 2026 21:45 WIB
Mahasiswa Untag Membuat Alat Pengering Gabah dengan Sensor Suhu
Mahasiswa Untag Membuat Alat Pengering Gabah Foto: Istimewa
Surabaya -

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali menciptakan inovasi di bidang teknologi pertanian. Kali ini, Nur Ahmad Justine Ivana merancang alat pemisah dan pemanas padi berbasis sensor suhu dan kelembapan untuk membantu proses pascapanen petani.

Mahasiswa yang akrab disapa Justin itu memang telah menaruh minat pada perkembangan teknologi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ketertarikannya tak hanya sebatas teknis, tetapi juga berangkat dari kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitarnya, khususnya kehidupan petani saat musim hujan.

"Saya ingin skripsi ini bisa membantu petani, terutama saat musim hujan. Dengan alat pemanas padi ini, gabah bisa langsung dikeringkan setelah panen sehingga kualitasnya tetap terjaga dan petani tidak merugi," ujarnya kepada detikJatim, Sabtu (14/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alat rancangan Justin bekerja menggunakan sistem mikrokontroler yang terintegrasi dengan sensor suhu dan kelembapan. Kedua parameter tersebut menjadi acuan utama dalam proses pengeringan gabah agar kadar air tetap stabil dan sesuai standar.

ADVERTISEMENT

Sebagai sumber panas, alat ini memanfaatkan heater yang dikontrol secara otomatis. Sistem akan menjaga kestabilan suhu secara real time sehingga proses pengeringan berlangsung merata. Dengan kontrol suhu yang presisi, risiko gabah terlalu kering atau masih terlalu lembap dapat diminimalkan.

Tak hanya berfungsi sebagai pengering, alat ini juga dilengkapi mekanisme pemisahan gabah dan ampas. Proses tersebut memanfaatkan aliran udara dari blower untuk memisahkan butiran gabah berkualitas dengan sisa kotoran atau ampas. Dengan demikian, proses pascapanen menjadi lebih efisien dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada panas matahari.

Musim hujan kerap menjadi tantangan besar bagi petani karena proses pengeringan gabah biasanya masih mengandalkan sinar matahari. Ketika cuaca tidak menentu, kualitas gabah bisa menurun dan berdampak pada harga jual.

Melalui inovasi alat pemanas dan pemisah padi berbasis suhu dan kelembapan ini, Justin berharap petani dapat menjaga kualitas hasil panen sekaligus menekan potensi kerugian.

Di balik kesibukannya mengerjakan tugas akhir yang tergolong kompleks, Justin juga bekerja sebagai Building Management di Trans Property (Trans Group). Ia menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa kelas malam dan berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,5.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa inovasi teknologi bisa lahir dari perpaduan kepedulian sosial, ketekunan akademik, dan manajemen waktu yang baik.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads