Menjalani puasa Ramadhan untuk pertama kalinya tentu menjadi pengalaman baru bagi seorang mualaf. Selain menahan lapar dan haus, ada proses adaptasi fisik, mental, dan spiritual yang perlu dijalani secara bertahap.
Tips Puasa Pertama untuk Mualaf
Lantas apa saja yang perlu disiapkan oleh teman-teman mualaf supaya puasa Ramadhan? Simak selengkapnya ya!
1. Latihan Puasa Sunah Sebelum Ramadhan
Supaya tubuh dan mental lebih siap, kamu bisa mulai latihan lewat puasa sunnah di bulan Sya'ban. Misalnya puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah). Rasulullah SAW juga menyebut bahwa puasa tiga hari setiap bulan pahalanya seperti puasa setahun (HR. Muslim).
Mulai saja pelan-pelan sambil meluruskan niat dan berdoa agar diberi kemudahan. Namun, ingat untuk tidak mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya, sesuai anjuran Nabi SAW (HR Bukhari-Muslim).
Kalau siang terasa lemas, itu wajar. Coba atur aktivitas lebih ringan dan perbanyak ibadah ringan seperti zikir atau tilawah.
2. Sibukkan Diri dengan Ibadah
Agar waktu puasa terasa lebih ringan, coba isi siang hari dengan aktivitas ibadah seperti zikir, tilawah Al-Qur'an, atau dhikrullah. Selain membantu mengalihkan fokus dari rasa lapar dan lemas, kebiasaan ini juga membuat hati lebih tenang.
Dikutip dari Almanhaj, yang menjelaskan "Nasihat Menjelang Bulan Ramadhan" oleh Syaikh Utsaimin, ia merespons pertanyaan umat tentang persiapan Ramadhan dengan mengutip QS Al-Baqarah:183 tentang taqwa sebagai hikmah puasa sejati.
Ia menegaskan manfaat puasa bukan sekadar menahan lapar-haus, melainkan melaksanakan perintah Allah (seperti shalat dan bersuci) sambil menjauhi larangan (ghibah, dusta, tipu daya). Syaikh juga mengingatkan hadis Nabi SAW yang berbunyi:
"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan-minumannya" (HR. Bukhari no. 1903).
Jadi, manfaatkan waktu luang dengan beribadah supaya puasa tidak terasa berat.
3. Atur Pola Tidur
Pola tidur siang singkat bisa membantu menjaga energi tubuh selama puasa Ramadhan agar tidak mudah lemas. Praktik ini dikenal sebagai power nap, yaitu tidur sekitar 20-30 menit di sela aktivitas untuk memulihkan stamina dan mengurangi rasa kantuk.
Menurut pakar kesehatan dari Universitas Lambung Mangkurat Syamsul Arifin waktu yang ideal untuk tidur singkat berada di rentang pukul 13.00-15.00, karena dapat membantu tubuh kembali segar tanpa mengganggu ritme tidur malam.
4. Perbanyak Doa
Salah satu doa yang sering diamalkan adalah doa berikut ini.
اَللَّهُمَّ يَسِّرْ وَلَا تُعَسِّرْ
Arab Latin: Allahumma yassir wala tu'assir.
Artinya: Ya Allah, mudahkanlah dan janganlah Engkau persulit.
Doa ini adalah sebagai permohonan agar Allah SWT memberi kemudahan dan menjauhkan kesulitan, termasuk saat menghadapi rasa lemas di siang hari.
5. Terapkan Pola Makan Seimbang
Asupan gizi yang tepat saat sahur dan berbuka membantu menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Dikutip dari laman resminya, ahli gizi Universitas Airlangga Lailatul Muniroh menyarankan beberapa pola makan yang bisa diterapkan selama Ramadhan.
Saat sahur, utamakan makanan dengan karbohidrat seperti nasi merah, beras, coklat, oats, kentang, jagung, ubi jalar, atau pisang. Sementara saat berbuka awali dengan makanan atau minuman manis.
Takjil berbuka itu seperti kurma, kolak pisang, atau teh manis untuk mengembalikan energi dengan cepat. Setelah sholat magrib, lanjutkan dengan makanan utama yang seimbang, seperti nasi atau pengganti nasi, lauk pauk, sayur, dan buah.
Baca juga: Kenapa Ramadhan Disebut Bulan Penuh Berkah? |
Ketentuan Puasa bagi Mualaf di Tengah Ramadhan
Dikutip NU Online, jika seseorang baru masuk Islam di tengah bulan Ramadhan, ia tidak diwajibkan mengqadha puasa pada hari-hari sebelumnya. Hal ini karena kewajiban ibadah baru berlaku setelah memeluk Islam. Sejak hari masuk Islam, ia mulai menjalankan puasa hingga akhir Ramadhan sesuai kemampuannya.
Hukum Menahan Diri Saat Masuk Islam
Jika masuk Islam sebelum zuhur, menurut sebagian ulama sangat dianjurkan untuk menahan makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa hingga magrib sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu suci.
Namun, puasa pada hari itu tidak dihitung sebagai puasa penuh. Sementara jika masuk Islam setelah Dzuhur atau sore hari, diperbolehkan makan dan minum, lalu mulai menjalankan puasa wajib pada hari berikutnya.
Penjelasan fiqih dari Yahya ibn Sharaf al-Nawawi dalam kitab Majmū Syarḥ al-Muhażżab, seseorang yang baru masuk Islam dianjurkan menahan diri pada sisa hari sebagai penghormatan waktu (lihurmatil waqti), tetapi tidak diwajibkan mengqadha puasa sebelumnya karena dianggap memiliki uzur sebelum masuk Islam.
Simak Video "Video BGN Siapkan 4 Mekanisme Penyaluran MBG di Bulan Puasa"
(hil/irb)