Menjelang waktu berbuka, suasana sore di bulan Ramadhan selalu terasa berbeda. Ada yang jalan santai, berburu takjil, atau menyiapkan menu berbuka selagi menunggu azan magrib.
Nah, kegiatan ini dikenal dengan istilah ngabuburit, tradisi yang sudah lama melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Tapi sebenarnya, dari mana asal kata ngabuburit dan bagaimana sejarahnya berkembang? Simak selengkapnya ya, detikers!
Arti Ngabuburit
Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Mengutip Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ini berasal dari frasa ngalantung ngadagoan burit, yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ngabuburit atau mengabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa saat Ramadan.
Secara bahasa, kata ngabuburit terdiri dari dua unsur, "nga" sebagai imbuhan awal, dan "burit" yang berarti waktu sore, senja, atau menjelang magrib.
Ketua Lembaga Budaya Sunda Universitas Pasundan Hawe Setiawan menjelaskan bahwa istilah ini unik karena keterangan waktu seperti burit bisa berubah menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan. Dari sinilah muncul kata ngabuburit, yang maknanya terus digunakan sampai sekarang.
Sejarah Ngabuburit
Ngabuburit bukanlah tradisi baru. Istilah ini sudah ada sejak lama, sejak nilai-nilai Islam mulai menyatu dengan budaya Sunda. Tidak ada catatan tanggal pasti, karena kebiasaan ini berkembang secara alami melalui tradisi lisan masyarakat.
Sekitar abad ke-16, saat Islam mulai menyebar di Tanah Sunda, masyarakat sudah punya cara sendiri untuk mengisi waktu sore sebelum berbuka. Anak-anak bermain permainan tradisional seperti layangan atau meriam bambu.
Sementara orang dewasa berkumpul, berbagi cerita, atau mengikuti kegiatan keagamaan. Pada masa itu, ngabuburit lebih banyak diisi aktivitas keluarga dan komunitas.
Popularitas istilah ngabuburit semakin meningkat pada era modern, terutama sekitar tahun 1980-an di Bandung. Kala itu, banyak acara musik Islami yang digelar menjelang berbuka dan diberi nama "ngabuburit".
Acara-acara tersebut menjadi ruang berkumpul anak muda sambil menunggu waktu berbuka. Karena sering digunakan, kata ngabuburit pun makin dikenal luas dan akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Peran media juga membuat istilah ini mudah diterima oleh masyarakat, bahkan oleh mereka yang bukan penutur bahasa Sunda.
Sebutan Ngabuburit di Berbagai Daerah Indonesia
Meski istilah ngabuburit populer secara nasional, beberapa daerah memiliki sebutan khas masing-masing untuk tradisi menunggu berbuka. Berikut beberapa istilah ngabuburit di berbagai daerah.
- Minangkabau: malengah puaso, yaitu melakukan aktivitas untuk mengalihkan rasa lapar dan haus.
- Banjar (Kalimantan Selatan): basambang, yang berarti berjalan-jalan saat senja.
- Madura: nyarè malem atau nyarè bhuka'an, yang berarti mencari makanan berbuka.
Walau berbeda nama, esensinya tetap sama, yaitu mengisi waktu menjelang berbuka dengan kegiatan yang menyenangkan.
Kini Ngabuburit Terasa Berbeda
Kalau dulu ngabuburit identik dengan permainan tradisional dan kegiatan komunal, kini aktivitasnya jauh lebih beragam. Perkembangan teknologi, media sosial, dan gaya hidup modern ikut mempengaruhi cara orang mengisi waktu menjelang berbuka.
Mengutip riset berjudul "Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit di Kalangan Generasi Muda" yang dimuat dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia, cara orang menikmati ngabuburit ternyata ikut berubah seiring bertambahnya usia.
Banyak yang merasa momen menunggu azan magrib tidak lagi seistimewa dulu, terutama setelah beranjak dewasa. Waktu masih kecil, ngabuburit identik dengan seru-seruan bareng teman.
Biasanya mereka mengaji bersama di masjid atau musala, lalu dilanjut main congklak, ular tangga, monopoli, dan permainan lainnya. Aktivitas itu terasa seperti momen sosial yang dinanti setiap sore Ramadan.
Namun, memasuki usia sekitar 18-21 tahun, perspektifnya mulai bergeser. Ngabuburit lebih sering dimaknai sebagai waktu untuk rehat sejenak sambil menunggu waktu berbuka.
Di balik berbagai aktivitasnya, esensi ngabuburit bagi generasi muda bergantung pada cara mereka memaknai waktu sebelum berbuka. Teknologi memang membuat pilihan aktivitas makin beragam, tapi bukan berarti tradisinya hilang.
Justru banyak yang tetap menjaga kebiasaan lama, hanya dikemas lebih modern, misalnya berburu takjil dari rekomendasi medsos, lalu dibagikan lagi jadi konten seru.
(hil/irb)











































