Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan melakukan kunjungan kerja maraton selama tiga hari di Jawa Timur. Kunjungan kerja ini untuk memastikan akselerasi program ketahanan pangan nasional.
Zulhas, sapaan akrabnya mengatakan, ada lima pilar utama yang menjadi instruksi Presiden Prabowo Subianto. Kelima pilar ini untuk mengubah wajah ekonomi pedesaan dan kemandirian pangan Indonesia ke depan.
Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya fokus pada ketersediaan beras, tetapi juga pada ekosistem hulu ke hilir yang melibatkan masyarakat desa secara langsung. Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi penyuplai utama dalam transformasi di wilayah pedesaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zulhas, pemerintah menargetkan pembangunan 30 ribu Koperasi Desa Merah Putih hingga Mei 2026, dari total target 80 ribu unit. Koperasi ini dirancang untuk menjadi off-taker (pembeli siaga) bagi produk-produk UMKM lokal.
"Kita ingin setiap desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Nantinya, Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) tidak boleh lagi dipasok oleh grosir besar. Harus koperasi desa atau BUMDes yang menyuplai," tegas Zulkifli usai meninjau SPPG di Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (12/2/2026).
Di luar itu, alih fungsi lahan sawah juga menjadi sorotan. Zulkifli menyatakan bahwa lahan sawah berkelanjutan tidak boleh diganggu gugat. Pemerintah tengah menyisir perubahan lahan yang terjadi dalam 10 tahun terakhir.
"Bagi pihak yang telah mengubah fungsi sawah, diwajibkan melakukan penggantian lahan hingga tiga kali lipat," tegasnya.
Sementara untuk meningkatkan produktifitas pangan. Perbaikan irigasi dan distribusi pupuk menjadi prioritas untuk mendongkrak produktivitas tahun ini.
Pasca swasembada beras, lanjut Zulkifli, pemerintah mengalihkan fokus pada produksi ikan dan telur untuk mendukung program makan bergizi nasional.
Dengan proyeksi 82,9 juta penerima manfaat, kebutuhan pangan harian menjadi sangat masif.
"Kita butuh 82,9 juta butir telur dan potongan ikan setiap hari. Ini harus disuplai dari kampung nelayan dan budidaya bioflok yang dikelola masyarakat," jelasnya.
Menurut Zulkifli, jika sirkulasi ketahanan pangan tersebut sudah berjalan optimal. Sampah akan menjadi tantangan yang harus diselesaikan.
Zulkfli mengatakan, dalam pengelolaan sampah dan food waste. Targetnya, dalam dua tahun ke depan, pemilahan sampah organik dan anorganik harus selesai di tingkat rumah tangga.
"Perintah Bapak Presiden, dua tahun mendatang harus kita merubah peradaban kita, sampah mulai dari rumah sudah mulai dipisah. Organik bisa jadi pupuk, diolah. Kalau anorganik didaur ulang yang di tempat pembuangan akhir kita rubah sampah itu jadi listrik," tuturnya.
Selama di Jawa Timur, Menko Pangan juga memantau langsung implementasi SPPG untuk memastikan program berjalan aman dan tepat sasaran bagi anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat utama.
"Langkah ini adalah perintah Bapak Presiden untuk memastikan rakyat tidak hanya kenyang, tapi juga sehat dan ekonomi desanya tumbuh," pungkasnya.
