Pelaku UMKM berbasis syariah di Jawa Timur berpeluang mendapat akses lebih luas ke pasar ekspor. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Syariah menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memperkuat kesiapan UMKM, termasuk dukungan subsidi logistik dan pembukaan akses pasar luar negeri.
Kerja sama ini dibahas dalam pertemuan di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (11/2). Wakil Sekretaris Umum BPP HIPMI Syariah, Fahmi Rafif, menyampaikan rencana menjadikan HIPMI Syariah sebagai agregator UMKM, termasuk dari daerah-daerah dengan basis usaha kuat seperti Jawa Timur.
Langkah tersebut diarahkan untuk mengatasi persoalan klasik UMKM, mulai dari pemenuhan standar kualitas, konsistensi produksi, hingga pendampingan teknis agar produk lokal siap bersaing di pasar global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 38 Hotel di Surabaya Kini Pakai Produk UMKM |
"Potensi UMKM syariah kita sangat besar. Masalahnya ada pada persiapan dan struktur pendampingan. Kami ingin mengambil peran itu agar produk mereka benar-benar siap saat dipasarkan secara global," ujar Fahmi saat berdialog dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Dalam kolaborasi ini, Kemendag memberikan komitmen dukungan konkret berupa pembukaan akses pasar serta subsidi logistik untuk komoditas dan wilayah tertentu. Skema ini dinilai penting bagi pelaku UMKM di Jawa Timur yang selama ini terkendala biaya pengiriman saat menembus pasar ekspor.
Selain sektor perdagangan, kerja sama juga menyasar pengembangan sumber daya manusia. Melalui HIPMI Perguruan Tinggi (PT), mahasiswa dari kampus-kampus di Jawa Timur berkesempatan mengikuti program magang internasional di negara-negara mitra Indonesia yang telah memiliki nota kesepahaman (MoU).
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, penguatan daya saing produk Indonesia di pasar global membutuhkan peran aktif pengusaha muda yang memahami tantangan di lapangan.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan pembinaan UMKM di daerah agar kualitas produk memiliki standar yang seragam dan sesuai dengan kebutuhan pasar internasional. Dengan begitu, produk UMKM dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, memiliki peluang yang sama untuk menembus etalase ritel global.
(irb/hil)
