Hari Valentine pastinya jadi hari yang dinanti banyak orang di berbagai belahan dunia. Kenapa tidak, pasalnya, hari ini selalu dirayakan manis dengan ungkapan cinta yang seringnya lewat kartu ucapan, bunga, sampai hadiah manis seperti cokelat.
Namun, di balik tradisi yang kini lekat dengan budaya pop, perayaan hari Valentine ini ternyata lahir dari seorang tokoh sejarah. Bahkan, kartu ucapan Valentine pun menyimpan sejarah yang unik.
Mengenal Sosok Valentine dan Kisahnya
Nama Valentine yang kita kenal dari Valentine's Day sebenarnya berakar dari kisah seorang martir Kristen di Roma pada abad ke-3. Masalahnya, catatan sejarahnya nggak banyak dan sebagian besar ceritanya bercampur antara fakta dan legenda rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, yang sampai ke kita sekarang lebih mirip potongan kisah yang dirangkai dari berbagai versi. Ceritanya bermula di masa Kekaisaran Romawi, sekitar pertengahan abad ke-3 Masehi, ketika Roma dipimpin Kaisar Claudius II yang dijuluki Gothicus.
Baca juga: Fakta Unik Hari Valentine di Berbagai Negara |
Saat itu, Roma sedang sibuk berperang dan umat Kristen mengalami penganiayaan. Claudius punya keyakinan bahwa prajurit muda sebaiknya tidak menikah, karena menurutnya, laki-laki yang sudah berkeluarga jadi kurang berani dan terlalu terikat secara emosional.
Maka, pernikahan untuk tentara muda pun dilarang. Di sinilah muncul sosok Santo Valentine, seorang imam yang dalam beberapa versi disebut sebagai uskup dari Kota Terni. Valentine menentang aturan ini diam-diam.
Ia percaya bahwa pernikahan itu suci, jadi ia tetap menikahkan pasangan-pasangan muda secara rahasia dengan ritual Kristen. Pernikahan bawah tanah inilah yang kemudian membuat namanya dikenal.
Lama-kelamaan, aktivitas Valentine tercium pihak berwenang. Selain menikahkan pasangan secara diam-diam, Valentine juga disebut-sebut aktif menyebarkan ajaran Kristen. Ia akhirnya ditangkap sekitar tahun 269-270 M dan dipenjara.
Di penjara, ia bertemu dengan kepala sipir bernama Asterius, yang memiliki seorang putri buta. Menurut legenda, Valentine mendoakan gadis itu hingga penglihatannya pulih.
Selama dipenjara, Valentine juga menjalin hubungan hangat dengan putri sipir penjara, yang dalam beberapa cerita diberi nama Julia. Mereka saling bertukar catatan kecil.
Dari sinilah muncul legenda paling terkenal. Konon, sebelum dieksekusi, Valentine menulis surat terakhir untuk Julia, dan menandatanganinya dengan kalimat, "From Your Valentine."
Akhir hidupnya tragis. Karena menolak meninggalkan imannya dan dianggap mengkhianati negara, Valentine disiksa, dipukuli, dilempari batu, lalu dipenggal. Eksekusinya diyakini terjadi pada 14 Februari tahun 270 M.
Menariknya, sejarah mencatat kemungkinan ada lebih dari satu Santo Valentine, satu imam di Roma, dan satu uskup dari Terni yang wafat pada tanggal yang sama. Seiring waktu, kisah mereka menyatu menjadi satu figur legendaris.
Pada tahun 496 M, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentine, sekaligus menggantikan festival kesuburan Romawi kuno bernama Lupercalia.
Baru berabad-abad kemudian, terutama di abad pertengahan, makna romantis mulai melekat. Penyair Inggris Geoffrey Chaucer pada abad ke-14 menulis tentang burung-burung yang mulai mencari pasangan di pertengahan Februari. Dari sana, Valentine perlahan diasosiasikan dengan cinta dan pasangan.
Awal Kemunculan Kartu Ucapan Valentine
Awalnya kartu ucapan Valentine bukan kartu lucu siap beli di toko, tapi surat cinta tulisan tangan yang dibuat diam-diam di Eropa pada abad pertengahan. Salah satu surat Valentine tertua yang masih tersimpan sampai hari ini berasal dari tahun 1415.
Saat itu, Charles, Duke of Orleans, menulis puisi cinta berbahasa Prancis untuk istrinya dari balik penjara Menara London. Dalam suratnya, ia memanggil sang istri dengan sebutan manis, "My Very Gentle Valentine".
Beberapa dekade kemudian, tepatnya tahun 1477, muncul surat Valentine berbahasa Inggris tertua. Surat itu ditulis Margery Brews untuk tunangannya, John Paston, isinya curhat soal cinta, harapan, dan kekhawatirannya karena ia tidak punya mas kawin besar.
Dilansir Britannica, kartu Valentine kertas dengan pesan tertulis awalnya berasal dari abad ke-16 dengan cetakan pertama diperkirakan berasal dari halaman depan sebuah buku puisi berjudul A Valentine Writer.
Buku tersebut diterbitkan sejak tahun 1669, menawarkan bantuan kepada mereka yang kesulitan mengungkapkan perasaan. Tradisi tersebut kemudian berkembang melalui karya seniman plat tembaga, seperti Francesco Bartolozzi yang menghadirkan ilustrasi tangan dan diminati kalangan bangsawan.
Setelahnya, teknik ukiran kayu dan litografi berukuran kuarto mulai digunakan, sebagian dihiasi bingkai timbul yang mempercantik tampilannya. Masuk ke era 1700-an di Inggris, kartu Valentine makin kreatif.
Para kekasih membuat kartu buatan tangan dengan penuh puisi, teka-teki kecil, pinggiran kertas seperti renda, gambar bunga, cupid, dan burung merpati. Semua ini diselipkan secara anonim, yang kadang ditaruh di bawah pintu karena menunjukkan cinta secara terang-terangan masih dianggap tabu.
Salah satu kartu cetak tertua yang masih ada hingga kini berasal dari tahun 1797, tersimpan di York Castle Museum, dan masih diwarnai manual satu per satu. Floriografi ala era Victoria, alias bahasa bunga juga punya peran besar atas sejarah surat Valentine.
Di masa ketika orang sulit mengungkapkan perasaan secara langsung, bunga jadi kode rahasia. Mawar merah berarti cinta membara, mawar pink melambangkan kekaguman, lily putih tanda kemurnian, sementara mawar kuning bisa berarti persahabatan atau kecemburuan.
Bunga-bunga ini sering dirangkai jadi tussie-mussies, buket kecil yang disematkan di pakaian atau dikirim sebagai pesan tak terucap. Mirip emoji zaman sekarang, tapi versi klasik. Kode bunga ini lalu meresap ke desain kartu Valentine.
Ilustrasi mawar, forget-me-not (cinta sejati), atau ivy (kesetiaan dalam pernikahan) muncul berdampingan dengan puisi romantis. Buku-buku seperti Language of Flowers karya Kate Greenaway ikut mempopulerkan makna-makna ini, sampai akhirnya mawar merah resmi jadi ikon Valentine di akhir 1800-an.
Pertukaran kado Valentine pun meningkat ketika mulai diperkenalkannya perangko dan amplop seharga satu penny di Inggris pada 1840, begitu pula dengan penggunaan kertas renda yang dihiasi dengan indah menjadi begitu populer.
Di Amerika Serikat, kartu Valentine berbahan kertas renda yang diimpor dari Inggris perlahan menggantikan kartu ukiran kayu kasar produksi Robert H Elton dan Thomas W Strong dari New York.
Kartu Valentine dengan harga lebih terjangkau kemudian diperkenalkan pada 1850 oleh Esther Howland dari Worcester, Massachusetts, yang menjadi pelopor produksi massal kartu Valentine di AS.
Kartu Ucapan Mulai Diproduksi Secara Komersil
Memasuki 1860-an, kartu Valentine mulai diproduksi secara komersial. Produk awalnya berupa kartu dengan ornamen Natal dan ayat-ayat puitis, disusul lembar surat serta amplop timbul. Menurut Britannica, kartu-kartu tersebut sejatinya merupakan kartu kunjungan liburan.
Kartu kunjungan yang berasal dari Eropa sejak abad ke-16 digunakan sebagai media penyampaian pesan kasih sayang, rasa hormat, atau belasungkawa, memberikan sentuhan personal yang menenangkan bagi penerimanya.
Berbeda dengan kisah cinta, beberapa sejarawan yang disebut dalam Britannica.com, valentine berasal dari tradisi kartu persahabatan Jerman dengan sebutan Freundschaftskarten yang dipertukarkan selama hari tahun baru, ulang tahun, dan hari jadi lainnya.
Oleh karena itu, orang Eropa dan Amerika mulai bertukar kartu persahabatan pada hari Valentine di sekitar abad ke-18. Hingga pada pertengahan abad ke-19, terutama di Inggris, praktik ini meningkat saat dikenalkannya pos murah yang membuat pengiriman kartu valentine lebih terjangkau.
Di sisi lain, teknologi percetakan semakin meningkat sehingga dapat memperluas pasar. Konsumen di Eropa dan AS misalnya, mereka dapat memilih berbagai pilihan kartu valentine, termasuk yang dirancang oleh tokoh-tokoh seniman kartu ucapan.
Perjalanan industri kartu ucapan sempat mengalami persaingan ketat akibat perbedaan biaya produksi antara Eropa dan Amerika Serikat. Namun sekitar 1910, kartu buatan AS kembali populer. Sejak saat itu, kebiasaan bertukar kartu untuk momen musiman maupun peristiwa personal menjadi lazim di Negeri Paman Sam.
Tradisi tersebut melampaui batas negara. Meski kartu elektronik dan media sosial mendominasi cara orang merayakan momen spesial, industri kartu ucapan tetap bertahan. Pada 2010-an, rumah tangga di AS membeli sekitar tujuh miliar kartu setiap tahun dengan nilai penjualan ritel mencapai lebih dari US$7,5 miliar.
(hil/irb)











































