BMKG Ungkap Alasan Pacitan Sering Diguncang Gempa

BMKG Ungkap Alasan Pacitan Sering Diguncang Gempa

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Jumat, 06 Feb 2026 13:45 WIB
BMKG Ungkap Alasan Pacitan Sering Diguncang Gempa
Ilustrasi gempa. Mengapa Pacitan sering diguncang gempa? Foto: detikcom/Mindra Purnomo
Pacitan -

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut sepanjang Januari 2026 Kabupaten Pacitan sudah mengalami enam kali gempa. Pada Jumat (6/2/2026), Pacitan kembali diguncang gempa berkekuatan M 6,4 (dimutakhirkan M 6,2) yang terjadi sekitar pukul 01.06 WIB.

Guncangan dirasakan cukup luas. Di Bantul, Sleman, dan Pacitan mencapai skala IV MMI. Sementara di Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, hingga Banjarnegara terasa pada skala III MMI. Di Tuban dan Jepara tercatat skala II MMI.

Menurut Daryono, gempa tersebut termasuk jenis gempa megathrust dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Ia menambahkan, hal tersebut terlihat dari hasil analisis mekanisme sumber yang menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daryono, selaku Direktur BMKG juga menyebut patut disyukuri gempa tidak mencapai Magnitudo 7,0, karena jika lebih besar, maka bisa berpotensi memicu tsunami.

Apa Itu Zona Megathrust?

Daryono dalam postingannya di X menjelaskan zona megathrust merupakan patahan besar di batas lempeng tektonik, tempat lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua. Di area ini, lempeng saling menekan dan menyimpan energi elastik dalam jumlah besar.

ADVERTISEMENT

Istilah "mega" sendiri merujuk pada ukuran zona yang sangat luas, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan kilometer. Sementara "thrust" berarti dorongan naik, yaitu ketika lempeng atas terdorong secara vertikal akibat tekanan yang lama terkunci.

Dikutip dari postingan tersebut, dijelaskan bahwa saat bidang kontak ini patah secara tiba-tiba, terjadi pergeseran vertikal di dasar laut, melepaskan energi gempa sangat besar (>M8) dan dapat memicu tsunami dahsyat.

Faktor Geologis yang Membuat Pacitan Rawan Gempa

BMKG menjelaskan aktivitas gempa di Pacitan tergolong tinggi dalam beberapa tahun terakhir karena wilayah ini berada di jalur seismik aktif selatan Jawa dan dekat dengan sejumlah sumber gempa.

Meskipun begitu, Daryono mengatakan sulit menunjuk satu penyebab tunggal. Namun, secara geologis, Pacitan dipengaruhi beberapa faktor utama. Salah satunya adalah lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona megathrust Jawa, yaitu area tumbukan lempeng tektonik yang aktif.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan tim detikJatim, selain pengaruh megathrust, tingginya aktivitas gempa juga dipicu keberadaan sesar dasar laut di lepas pantai selatan Pacitan. Tercatat ada tiga sesar aktif yang menjadi faktor dominan pemicu gempa di wilayah tersebut.

Daryono menjelaskan di kawasan ini juga terdapat potensi deformasi batuan di dalam lempeng Indo-Australia yang turut memicu gempa. Karena itu, BMKG menegaskan tidak semua gempa di Pacitan berkaitan langsung dengan gempa besar megathrust.

Riwayat Tsunami dan Kondisi Geografis Pacitan

Dalam unggahannya di X, Daryono menjelaskan Pacitan kerap muncul dalam catatan tsunami historis karena beberapa faktor. Wilayah ini berhadapan langsung dengan megathrust Jawa, memiliki banyak teluk dan pantai sempit yang dapat memperkuat amplifikasi gelombang, serta diduga berada di atas segmen slab landai yang membuat kopling subduksi lebih kuat.

Bahkan, catatan sejarah menunjukkan tsunami pernah terjadi di kawasan ini, termasuk pada tahun 1840 dan 1859. Peristiwa tsunami 4 Januari 1840 di Jawa Timur tercatat dalam sejarah sebagai tsunami yang terjadi di wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya di daerah Pacitan.

"Tsunami terjadi setelah gempa besar yang dirasakan jauh hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kemudian diikuti gelombang pasang/tsunami di Pantai selatan Pacitan," jelas Daryono.

Sementara itu, peristiwa tsunami Pacitan pada 20 Oktober 1859 memang termasuk tsunami historis Jawa Timur yang korbannya tercatat. Meski demikian, dokumentasinya tidak sedetail kejadian modern.

Karena aktivitas gempa di selatan Jawa tergolong tinggi, masyarakat diharapkan tidak panik namun tetap waspada, serta memahami prosedur keselamatan dan mitigasi gempa sejak dini.




(irb/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads