Puncak musim hujan masih berlangsung di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Februari 2026. BMKG Juanda mengingatkan curah hujan di beberapa daerah masih cukup tinggi dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
Prakirawan BMKG Juanda Agatha mengatakan, puncak hujan di Jawa Timur terjadi tidak bersamaan di seluruh wilayah. Sebagian besar berada pada Januari 2026.
Namun, beberapa wilayah di Jawa Timur mengalami puncak hujan pada Februari 2026, terutama di bagian barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa wilayah yang puncak hujannya terjadi pada bulan Februari 2026 terutama di Jatim bagian barat seperti Bojonegoro, Madiun, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan lain-lain," kata Agatha saat dikonfirmasi detikJatim, Kamis (5/2/2026) pukul 11.05 WIB.
Selain wilayah barat, kondisi serupa juga terjadi di wilayah selatan dan sebagian Tapal Kuda.
"Kemudian di wilayah selatan seperti Pacitan, Trenggalek, dan di sebagian Tapal Kuda yakni Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi," lanjut Agatha.
Di tengah puncak musim hujan ini, sebagian wilayah Jatim masih dibayangi potensi curah hujan yang cukup tinggi.
"Untuk bulan Februari 2026 ini curah hujan di sebagian Jatim masih cukup tinggi," ujarnya.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama musim hujan yang masih berlangsung. Sebab curah hujan tinggi berpotensi menimbulkan genangan, banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas dan transportasi.
"Hindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat hujan disertai angin kencang dan petir, serta waspadai jalan licin yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan," imbaunya.
Sebagai langkah antisipasi, warga juga diharapkan memastikan saluran air di lingkungan sekitar tetap bersih untuk mencegah genangan.
BMKG pun mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari kanal resminya.
"Masyarakat dan seluruh pihak terkait diminta untuk selalu memantau perkembangan informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG," pungkasnya.
(irb/hil)
