Psikolog Ungkap Risiko Baby Blues-Depresi Postpartum pada Ibu Hamil

Psikolog Ungkap Risiko Baby Blues-Depresi Postpartum pada Ibu Hamil

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 05 Feb 2026 07:00 WIB
Psikolog Ungkap Risiko Baby Blues-Depresi Postpartum pada Ibu Hamil
Ilustrasi ibu melahirkan (Foto: Getty Images/Akacin Phonsawat)
Surabaya -

Kehamilan kerap dipersepsikan sebagai fase membahagiakan dalam hidup perempuan dalam menyambut kehidupan baru sebagai seorang ibu. Namun, di balik perubahan fisik, ibu hamil juga menghadapi tekanan psikologis yang tidak dapat disepelekan. Kondisi mental yang menjadi tidak stabil, apabila tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak serius bagi ibu maupun anak.

Di Indonesia, BKKBN tahun 2024 menunjukkan baby blues syndrome dialami 57% ibu baru, sementara SKI Kemenkes tahun 2023 mencatat depresi postpartum resmi 1,8% atau terjadi sebanyak 314 ribu kasus.

Psikolog Klinis dan Forensik Surabaya Riza Wahyuni menjelaskan, kerentanan mental pada ibu bisa terjadi sejak masa kehamilan hingga pasca melahirkan. Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari masalah rumah tangga, tekanan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kehamilan yang tidak direncanakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apalagi ketika kita membicarakan tentang terjadinya kekerasan terhadap anak di dalam rumah tangga. Di dalam hubungan ibu dengan anaknya itu banyak faktor yang bisa menyebabkan kenapa seorang ibu sampai tega melakukan hal tersebut," kata Riza.

Faktor yang dimaksud yaitu Baby Blues dan Postpartum Depression. Menurut Riza, penting untuk membedakan antara keduanya. Baby blues merupakan fase penyesuaian normal yang dialami sebagian besar ibu setelah melahirkan, terutama dalam satu hingga dua bulan pertama.

ADVERTISEMENT

"Tidak ada batasan minimal dalam kehamilan untuk kondisi ini. Siapapun orang yang melahirkan berisiko mengalami yang namanya baby blues, itu wajar dan normal. Meski demikian, ini bisa dicegah dengan dukungan keluarga terutama suami," ujar Riza.

Baby Blues terjadi akibat ibu mengalami perubahan ritme tidur, kelelahan, dan penyesuaian dengan peran baru. Misalnya dari yang tidurnya nyaman, setelah melahirkan seorang ibu harus bangun tengah malam untuk menenangkan bayinya.

Berbeda dengan baby blues, postpartum depression adalah gangguan kesehatan mental yang lebih serius bagi ibu. Riza menyebut kondisi ini bisa berlangsung bertahun-tahun pasca persalinan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor sebelumnya, seperti riwayat depresi, konflik rumah tangga, kekerasan yang dialami, atau ketidaksiapan menjadi orang tua.

"Apabila yang menjadi penyebab ini dialami secara terus-menerus, itu akan berdampak kepada kondisi psikologisnya sehingga dia menjadi labil, melakukan perilaku impulsif," ujar Riza.

Selain faktor biologis, tekanan sosial juga berperan besar terhadap kesehatan mental ibu. Kehamilan yang tidak diinginkan, baik dalam maupun di luar pernikahan, kerap memicu stres berat. Masalah ekonomi dan minimnya dukungan lingkungan turut memperparah kondisi psikologis ibu.

"Jika tidak ditangani secara profesional, dia menyalahkan dirinya terus menerus, lalu menyakiti dirinya sendiri, kemudian menyakiti bayinya," kata Riza.

Riza menegaskan, ibu hamil atau pasca melahirkan tidak perlu takut untuk mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater, baik secara langsung maupun daring, dapat menjadi ruang aman untuk menyalurkan emosi dan mendapatkan pendampingan yang tepat.

"Bercerita ke teman itu boleh, tapi profesional punya kode etik dan intervensi yang jelas," ujar Riza.

Hal ini tidak hanya penting diketahui bagi seorang ibu, melainkan suami sebagai pasangannya yang sudah seharusnya memberikan dukungan sebagai kunci menjaga kesehatan mental ibu.

Riza menekankan bahwa perempuan hamil berada dalam kondisi emosional yang sangat sensitif sehingga kehadiran, perhatian, dan sikap mau mendengarkan dari suami sangat dibutuhkan.

Ia juga menyampaikan bahwa perempuan ketika menjadi seorang ibu itu melelahkan, apalagi saat sedang dalam kehamilan baik secara fisik maupun mental. Kehadiran suami bisa menjadi penyangga utama agar kondisi mental istri tetap stabil.

"Tidak usah takut, tidak usah merasa lelah, yang namanya mendampingi istri apalagi sedang hamil itu ya lelah. Apalagi kalau kehamilan tambah besar. Kemudian belum lagi dia harus berhadapan dengan situasi-situasi sosial, berhadapan dengan keluarga mertua, lingkungan, dan sebagainya," Riza menegaskan.

Tidak hanya suami, Riza juga menekankan kepada keluarga besar yang juga diharapkan dapat berperan sebagai support system bagi ibu. Penting untuk memahami bahwa anaknya yang sudah menikah tersebut adalah laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa di mana seluruh tanggung jawab ada di pasangan suami istri itu sendiri.

Pemahaman inilah yang kemudian Riza sebut dapat membantu pasangan suami istri sebagai anak dari mereka (orang tuanya) untuk bisa berkembang dan tumbuh dengan baik di dalam rumah tangga yang sehat.

"Kita sebagai orang tua tidak usah ikut campur dalam proses pengambilan keputusan apalagi dalam pola asuh yang diterapkan anak kita sebagai pasangan. Jadilah orang tua yang selalu mendukung anak-anak kita, tapi tidak menjadi yang ikut campur dalam masalah rumah tangganya," pungkasnya.




(auh/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads