26 Ribu Warga Usia Produktif di Kota Malang Masih Menganggur

26 Ribu Warga Usia Produktif di Kota Malang Masih Menganggur

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 02 Feb 2026 15:45 WIB
Ilustrasi pengangguran atau pencari kerja
Ilustrasi pengangguran (Foto: Getty Images/iStockphoto/byryo)
Malang -

Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Malang masih tergolong tinggi. Hingga akhir 2025, puluhan ribu warga usia produktif tercatat belum memiliki pekerjaan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran usia produktif di Kota Malang mencapai 25 ribu hingga 26 ribu orang per Desember 2025.

Usia produktif yang dimaksud berada pada rentang 17 hingga 50 tahun. Menurut Arif, kondisi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami hitung yang usia produktif, jumlahnya 25 ribu sampai 26 ribu dengan rentang usia 17 sampai 50-an tahun. Itu yang menjadi tugas kami untuk bisa menurunkan TPT," ujar Arif kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Meski begitu, Arif menyebut bahwa angka pengangguran sebenarnya telah mengalami penurunan. Sebelumnya terdapat sekitar 30 ribu dari total 400 ribu angkatan kerja yang menganggur.

ADVERTISEMENT

Secara persentase, TPT Kota Malang tercatat turun dari 6,1 persen menjadi 5,69 persen per 31 Desember 2025.

"Angkatan kerja di Kota Malang ini ada 400 ribu sekian. Artinya, masih ada 5 persen dari total angkatan kerja itu yang menjadi PR kami," sebutnya.

Arif membeberkan, gelaran job fair banyak membantu untuk menurunkan angka pengangguran terbuka. Rencananya, tahun ini pihaknya akan menggelar event yang sama, untuk mengurangi angka pengangguran terbuka.

"Salah satu yang mempengaruhi dari TPT turun kemarin adalah job fair. Makanya kami juga sampaikan, agar job fair tidak dihilangkan. Karena penyerapan tenaga kerja kemarin luar biasa," tegasnya.

Arif juga menyoroti banyaknya masyarakat yang telah bekerja, namun di sektor non informal. Misalnya, konten kreator, YouTuber, ataupun Selebgram. Di mana mereka bekerja dan memperoleh pendapatan, namun tidak tercatat sebagai pekerja.

Rencananya, pihaknya menggunakan data berdasarkan by name by address, sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Langkah itu akan melibatkan RT dan RW.

"Makanya kami usulkan ke depan, kami gunakan by name by address. Dengan data itu, kami bisa lihat seperti apa rilnya. rencana saya menggandeng dari Dasa Wisma. Dari RT/RW yang bisa pendataan langsung," ucapnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads