Limbah drum bekas pabrik di kawasan Jalan Waspada, Surabaya, diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Mulai dari tong sampah, penampungan air hingga tungku, hasil olahan drum tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sejumlah pekerja bengkel di lokasi tersebut.
Pantauan detikJatim, deretan drum logam dan plastik tampak menumpuk di sebuah bengkel yang berada di tepi Jalan Waspada, bersebelahan dengan SPBU. Drum-drum tersebut diolah secara manual menggunakan peralatan sederhana seperti palu, paku, kikir, dan pahat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pemotongan drum dilakukan secara bertahap, dengan durasi pengerjaan sekitar 30 menit per unit, tergantung tingkat kerumitan pesanan. Setelah dibentuk, drum kemudian masuk tahap pengecatan.
Tahap akhir pewarnaan dilakukan oleh Ismail, salah satu pekerja bengkel. Ia mampu menyelesaikan lebih dari 50 drum dalam sehari dengan waktu pengerjaan sekitar 10 menit per unit.
Pemilik bengkel, Herman, menjelaskan bahwa hasil olahan drum bekas tersebut dijual dengan beragam harga, menyesuaikan jenis dan fungsi produk.
"Untuk sebuah tong sampah model lebar-pendek atau ember modifikasi, pelanggan dipersilahkan merogoh dompet sebesar Rp 175.000. Sementara itu, untuk kebutuhan yang lebih krusial seperti penampungan air, tersedia tong plastik anti-bocor berkapasitas 270 liter seharga Rp 275.000. Produk lain seperti tungku atau godokan ayam juga menjadi komoditas yang paling dicari dengan kisaran harga Rp 250.000," ujar Herman kepada detikJatim, Kamis (29/01).
Drum-drum yang telah selesai diproses tampak dicat dengan warna mencolok, seperti merah di bagian luar dan biru di bagian dalam. Sebagian produk juga dimodifikasi dengan tambahan pegangan besi sesuai permintaan pelanggan.
Produk-produk tersebut dipasarkan ke berbagai daerah, baik menggunakan kendaraan pickup maupun jasa ekspedisi ke luar pulau.
(auh/abq)











































