Kata Pak Ribut Soal Pegawai MBG yang Diangkat Jadi PPPK

Kata Pak Ribut Soal Pegawai MBG yang Diangkat Jadi PPPK

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Rabu, 28 Jan 2026 20:30 WIB
Kata Pak Ribut Soal Pegawai MBG yang Diangkat Jadi PPPK
Pak Ribut (Foto: Nur Hadi Wicaksono/detikJatim)
Lumajang -

Di tengah polemik pengangkatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Gizi Gratis (MBG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), seorang guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun turut menyampaikan pandangannya.

Ribut Santoso, guru yang mengabdi sebagai honorer sejak 2003 hingga 2024 dan kini berstatus PPPK paruh waktu sejak 2025, mengaku tidak mempersoalkan polemik tersebut secara pribadi. Di tengah ramainya perbincangan di kalangan honorer, ia memilih menyikapinya dengan tenang.

"Saya tidak iri dengan rezeki orang lain. Karena apa, rezeki kita itu sih ada yang nentukan, takdirnya masing-masing," jelas pria yang kerap disapa Pak Ribut itu pada detikJatim, Rabu (28/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menegaskan tidak ingin kesejahteraan guru selalu dibandingkan dengan sektor lain, termasuk program Makan Gizi Gratis. Baginya, setiap orang memiliki porsi rezeki yang berbeda.

"Kalau aku ya milih bersyukur aja. Jadi saya nggak mau kayak istilahnya dikaitkan dengan MBG. Misalkan MBG gajinya tinggi, guru sedikit yaudah memang itu rejeki saya, mau gimana lagi tetap saya jalani, tetap saya syukuri," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, Ribut berharap pemerintah ke depan dapat memberikan perhatian yang lebih merata terhadap kesejahteraan berbagai profesi, termasuk guru. Ia menaruh harapan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden agar kebijakan yang dibuat tidak menimbulkan kesenjangan antar pekerjaan.

"Tapi saya sebagai guru, ya mudah-mudahan dengan Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo dan Wakil Presiden, ya siapa tahu sih, guru bisa disepertikan MBG gajinya. Disejahterakan, kan kalau misalkan semuanya sejahtera. Kan kita sebagai masyarakat Indonesia kan senang semua pastinya," tambahnya.

Diketahui di lingkungan kerja Ribut Santoso yaitu SDN Pagowon 01, Kecamatan Pasrujambe, Lumajang untuk tenaga honorer mayoritas sudah diangkat menjadi PPPK paruh waktu. Saat ini, hanya tersisa satu yang masih berstatus honorer karena keterbatasan jumlah tenaga pendidik.

"Cuman kalau honorer sekarang itu enak. Misalkan gajinya, itu nggak sama kayak zamanku. Kalau sekarang kan langsung Rp 300-250 ribu. Kalau aku kan nggak, dari 25 ribu," jawabnya.

Secara ekonomi, honor sebagai guru honorer diakuinya memang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, ia tetap bertahan dan bersyukur karena memiliki pekerjaan sampingan yang menopang penghasilannya, mulai dari usaha persewaan baju tari, hingga aktivitas lain di luar mengajar.

"Terus ketika saya viral saya menjadi guru tambah senang lagi, kenapa? Karena saya punya pekerjaan lain sampingan seperti endorse, influencer Kan itu bisa yang saya dapatkan dari keberkahan guru selama ini saya mengabdi Kak," tambahnya.

Ribut juga menilai program Makan Gizi Gratis merupakan kebijakan pemerintah yang layak didukung selama membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

"Misalkan anak-anak yang nggak bisa makan, bisa jadi makan enak, bisa menjadi makan banyak gizi, ya tetap kita dukung," ujarnya.

Meski demikian, Ribut berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada satu program saja. Ia berharap Presiden Prabowo juga dapat memperjuangkan kesejahteraan guru, khususnya mereka yang belum diangkat secara penuh.

"Ya mudah-mudahan Bapak Prabowo bisa mensejahterakan guru yang belum diangkat kayak PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu , biar semuanya itu bisa disejahterakan semua. Tidak hanya MBG saja, guru kalau bisa, karena kan guru adalah pondasi yang bisa menjadikan anak-anak itu cerdas dan sukses. Kalau kita nggak ada guru, kita nggak mungkin pintar loh Kak," pungkasnya.




(auh/abq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads