Kenapa Pacitan Rawan Gempa? Jalur Aktif Selatan Jawa-Potensi Megathrust

Kenapa Pacitan Rawan Gempa? Jalur Aktif Selatan Jawa-Potensi Megathrust

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 28 Jan 2026 01:00 WIB
House destroyed by the passage of a hurricane in Florida.
Ilustrasi gempa. Foto: Getty Images/CHUYN
Pacitan -

Gempa bumi kembali mengguncang Pacitan, Jawa Timur, Selasa (27/1/2026) pagi, dengan kekuatan Magnitudo 5,5 yang kemudian dimutakhirkan menjadi Magnitudo 5,7. Guncangan yang berpusat di darat sekitar 24 kilometer tenggara Pacitan ini mengingatkan bahwa wilayah pesisir selatan Jawa berada dalam aktivitas seismik.

BMKG menyebut Pacitan berada di kawasan tektonik aktif akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Artikel ini mengulas mengapa daerah tersebut termasuk rawan gempa, kilas balik kejadian seismik di sekitarnya, serta bagaimana para ahli memetakan potensi megathrust di selatan Jawa.

Pacitan Berada di Jalur Seismik Aktif Selatan Jawa

Indonesia termasuk salah satu negara di Asia Tenggara yang berada di kawasan seismik aktif, bahkan tercatat sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas gempa paling tinggi di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikelilingi pergerakan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Laut Filipina yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, serta memiliki lima pulau besar dan sejumlah semenanjung, Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana gempa bumi.

Termasuk Pacitan, yang berada di kawasan seismik aktif karena terletak di pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Secara geografis, Pacitan berada di bagian paling barat Provinsi Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

Di wilayah utara, Pacitan berbatasan dengan Ponorogo serta Wonogiri di Jawa Tengah. Di sisi timur, Pacitan berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Ponorogo. Sementara itu, di bagian selatan wilayahnya berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, dan di bagian barat berbatasan dengan Wonogiri.

Melansir jurnal "Earthquake Management and Mitigation at Pacitan Regency by Local Disaster Management Authority (BPBD) Pacitan Regency Using Seiscomp3 Software" karya Isna Putri Wulandari dan Oktiyas Muzaky Luthfi, pesisir Jatim menyimpan potensi sumber daya kelautan yang tak terlepas dari ancaman bencana.

Karakteristik pesisir Jatim memiliki sejumlah perbedaan dengan wilayah lainnya. Pacitan sebagai salah satu kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur memiliki ciri fisik pantai yang khas, antara lain pantai yang membentuk teluk.

Sementara teluk yang menyempit tersebut merupakan daerah rawan tsunami karena menjadi tempat berkumpulnya energi gelombang. Jika terjadi tsunami, gelombang dapat memiliki kekuatan lebih besar sehingga sapuannya mampu masuk lebih jauh ke arah daratan.

BPBD Pacitan melalui peta bahaya gempa bumi memperlihatkan bahwa wilayah Pacitan umumnya memiliki indeks gempa antara sedang hingga tinggi, sementara beberapa daerah dengan indeks cukup tinggi berada di sekitar sesar aktif.

Kabupaten Pacitan dilalui oleh Sungai Grindulu yang merupakan salah satu sungai besar di wilayah tersebut. Selain itu, salah satu jalur sesar utama di Pulau Jawa searah dengan alur Sungai Grindulu yang membentang dari kawasan pantai selatan hingga daerah hulu di Kecamatan Bandar.

Jalur sesar ini tergolong sangat rawan karena dapat menjadi media rambatan gempa akibat tumbukan antara lempeng benua di Pulau Jawa dan lempeng samudra di Laut Selatan. Kondisi tersebut membuat wilayah Pacitan kerap mengalami gempa.

Dilansir dari berbagai sumber, peta kedalaman bawah laut (batimetri) memperlihatkan adanya cekungan muka busur berupa depresi di lepas pantai selatan Pacitan yang secara drastis menyempit dibandingkan wilayah di selatan Yogyakarta.

Hal ini mengindikasikan di selatan Pacitan terdapat tekanan yang lebih kuat akibat morfologi tinggian atau tonjolan di dasar laut yang ikut terseret masuk ke zona subduksi.

Tonjolan-tonjolan tersebut kemudian menjadi ganjalan dalam proses subduksi sehingga pergerakan lempeng tertahan. Gempa bumi pun dapat terjadi ketika energi yang tersimpan dilepaskan secara tiba-tiba.

Oleh karena itu, Pacitan menjadi wilayah rawan gempa karena dilalui Sesar Grindulu, serta berada di kawasan megathrust yang menghasilkan aktivitas seismik tinggi dalam jangka panjang.

Kenali Apa Itu Megathrust?

Indonesia memiliki lima zona lempeng aktif, yakni Sumatran Megathrust, Java Megathrust, Banda Megathrust, Northern Sulawesi Thrust, dan Philippine Thrust. Kondisi ini membuat Indonesia rentan bencana karena dari lima zona tersebut terdapat sekitar 16 segmen aktif yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.

Dilansir dari laman BNPB, megathrust adalah istilah untuk menyebut gempa bumi yang terjadi di sepanjang batas subduksi, di mana saat satu lempeng tektonik bergerak ke bawah lempeng lainnya. Biasanya, gempa dengan jenis ini memiliki magnitudo sangat besar dan bahkan bisa di atas 8,0.

Potensi Megathrust Pacitan

Dilansir jurnal "Tsunami Risk Mapping and Sustainable Mitigation Strategies for Megathrust Earthquake Scenario in Pacitan Coastal Areas, Indonesia", Pacitan yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia disebut sebagai salah satu wilayah dengan risiko tinggi terhadap gempa megathrust serta potensi tsunami.

Di sepanjang selatan Jawa juga terdapat segmen seismic gap, bagian zona subduksi yang belum melepaskan energi besar dalam kurun waktu panjang, yang dinilai menjadi salah satu faktor risiko terjadinya gempa besar di masa depan.

BMKG menyebut sejumlah gempa tektonik di sekitar Pacitan bersumber dari aktivitas subduksi lempeng di zona megathrust di barat daya wilayah tersebut. Sistem tektonik di bawah selatan Jawa ini berkaitan erat dengan pergerakan Lempeng Indo-Australia yang terus menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, mekanisme utama pemicu gempa besar di zona subduksi.

Secara ilmiah, gempa bumi di wilayah seperti selatan Pacitan terjadi karena gerakan lempeng yang kerap terhambat oleh gesekan kuat di batas subduksi, sehingga energi elastis dapat terakumulasi selama ratusan tahun di dalam kerak bumi.

Ketika tekanan tersebut melampaui batas elastisitas batuan, dapat terjadi patahan besar yang melepaskan energi secara tiba-tiba, memicu gelombang seismik sangat kuat dan berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah pesisir.

Dengan posisi geografis yang berada tepat di atas jalur subduksi besar tersebut, kawasan selatan Jawa, termasuk Pacitan, terus menjadi fokus kajian ilmiah serta kebijakan mitigasi kebencanaan guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan infrastruktur pesisir.

Apakah Gempa Hari Ini Berkaitan dengan Megathrust?

BMKG menegaskan tidak setiap gempa yang terjadi di selatan Jawa berkaitan langsung dengan aktivitas megathrust. Gempa yang mengguncang Pacitan hari ini dipicu deformasi batuan di dalam lempeng atau aktivitas sesar di daratan maupun lepas pantai.

Meski demikian, para ahli menilai kejadian-kejadian gempa di wilayah selatan Jawa tetap menjadi pengingat bahwa kawasan ini berada di sistem tektonik aktif. Karena itu, pemahaman risiko dan kesiapsiagaan masyarakat tetap penting, terlepas dari apakah suatu gempa berkaitan langsung dengan megathrust atau tidak.

Bagaimana Mitigasi Gempa Bumi?

Mitigasi gempa bumi mencakup berbagai upaya untuk menekan risiko serta dampak bencana, dengan tujuan meminimalkan kerugian terhadap nyawa, harta benda, infrastruktur, dan keselamatan masyarakat.

BNPB bersama BMKG dan BPBD bertanggung jawab dalam perencanaan, pengawasan, dan pelaksanaan program mitigasi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sebagai bagian dari pengelolaan risiko bencana.

Jika gempa datang secara tiba-tiba dan evakuasi belum memungkinkan, masyarakat diimbau tetap tenang agar dapat bertindak secara tepat. Berikut sejumlah langkah mitigasi yang dapat dilakukan secara mandiri sebagai upaya awal saat guncangan terjadi.

Saat di Dalam Bangunan

  • Berlindunglah di bawah meja kokoh atau benda kuat untuk lindungi kepala dari puing jatuh.
  • Jauhi jendela, lemari, atau barang rawan runtuh.
  • Jangan panik atau buru-buru keluar, tunggu aman, lalu evakuasi setelah guncangan mereda.

Saat di Luar Ruangan

  • Jauhkan diri dari gedung, pohon, tiang listrik, atau struktur tinggi.
  • Hindari area retakan tanah atau permukaan tidak stabil.

Saat Berkendara

  • Hentikan mobil di lahan terbuka aman, jauhi jembatan atau lereng bukit.
  • Nyalakan lampu darurat dan tetap tenang hingga guncangan usai sebelum lanjut.

Saat di Pantai

  • Langsung tinggalkan pantai karena risiko tsunami dari gempa laut.
  • Pindah ke dataran tinggi yang aman.

Saat di Pegunungan

  • Hindari lereng atau tebing rawan longsor.
  • Waspadai suara pecah tanah atau batu.

Setelah gempa reda, pastikan untuk tetap siaga terhadap gempa susulan, kerusakan struktur, atau bahaya lanjutan meski guncangan utama berhenti. Jangan bertindak gegabah demi keselamatan diri dan orang lain. Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan setelah gempa reda.

  • Keluar tenang via tangga darurat, bukan lift, bantu korban luka dengan P3K.
  • Cek kebakaran, gas bocor, atau listrik rusak, matikan sumber api/listrik jika perlu, laporkan ke otoritas.
  • Jauhi struktur retak/miring, tunggu petugas SAR/BPBD sebelum masuk.
  • Pantau radio/TV/sumber pemerintah, cegah hoaks untuk hindari kepanikan.
  • Isi data dampak jika diminta pemerintah untuk pendataan.
  • Tenang, berdoa, dan rawat fisik/mental menghadapi situasi.



(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads