Potret Sunyi Kampung Ilmu Surabaya yang Kian di Memprihatinkan

Potret Sunyi Kampung Ilmu Surabaya yang Kian di Memprihatinkan

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 25 Jan 2026 14:00 WIB
Kampung Ilmu Surabaya
Kampung Ilmu Surabaya/Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim
Surabaya -

Saat memasuki Kampung Ilmu di Jalan Semarang, Nomor 55 Kota Surabaya, deretan lapak toko buku tampak sepi pengunjung. Bahkan, tidak ada aktivitas jual beli di dalamnya.

Pantauan detikJatim, beberapa toko buku tampak tutup. Hanya tersisa lapak-lapak buku yang masih setia menunggu pembeli.

Menurut Dian, penjual buku di Kampung Ilmu, kondisi ini sudah dirasakan sejak COVID-19. Hingga kini, situasi itu belum pulih sepenuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sekarang sepi, sejak COVID-19 itu terasa sekali. Kalau sekarang satu-dua masih ada," kata Dian kepada detikJatim, Kamis (8/1/2026).

ADVERTISEMENT
Kampung Ilmu SurabayaKampung Ilmu Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Dian merasakan perbedaan penjualan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaku penjualannya menurun hampir 50%. Meski begitu, ia tidak lantas menyerah. Ia mencoba bertahan dengan banting setir menjual buku secara online. Dengan harapan lebih banyak diminati.

"Kalau sekarang ini jualan offline sepi, kalau online ya dikit-dikit masih ada," imbuh Dian.

Hal serupa dirasakan Likah, penjaga toko buku di Kampung Ilmu. Menurutnya, sepinya penjualan disebabkan karena masyarakat lebih memilih mencari buku melalui marketplace atau secara online.

"Benar-benar sepi kalah dengan yang online itu," ujarnya.

Likah mengaku tidak menjual buku di online shop, karena tidak terbiasa menggunakannya. Alhasil, kondisi penurunnya jauh lebih memprihatinkan.

"Saya gak bisa online soalnya," kata Likah.

Meski memasuki awal semester baru pun, harapan kenaikan penjualan buku juga tak kunjung datang. Hal ini juga banyak dirasakan oleh pedagang buku Kampung Ilmu. Likah dan Dian berharap kondisi ini bisa segera pulih dan minat baca bisa lebih ditingkatkan lagi.

Di sisi lain, Ragil, pelanggan toko buku di Kampung Ilmu merasakan kondisi serupa. Ia mengaku sering melihat lapak-lapak toko kosong pembeli.

Kampung Ilmu SurabayaKampung Ilmu Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Pihaknya juga turut menyoroti minat baca buku yang ada di Kota Surabaya. Mengingat, Kota Pahlawan ini menjadi Ibu Kota Jawa Timur, yang seharusnya tingkat literasinya jauh lebih tinggi.

"Di sini kan terlihat banyak, ya, ruko-ruko penjual buku. Bahkan ada 10 lebih atau mungkin bisa 20. Cuman yang saya lihat, yang saya soroti itu pengunjungnya. Maksudnya dengan sebesar ini kok pengunjungnya sedikit. Bahkan bisa dihitung lewat jari kan," ujar Ragil.

"Ini yang perlu menjadi PR buat pemerintah juga untuk meningkatkan literasi. Khususnya di Surabaya. Kan Surabaya itu kan Ibu Kota Jawa Timur ya. Jadi harusnya itu tingkat literasi kita itu sangat tinggi kok. Justru kampung yang banyak menjual buku. Buku pengetahuan, buku novel, segala macem kok tambah sepi. Ya memperhatikan," imbuhnya.

Ragil berharap, pemerintah bisa memberikan subsidi buku. Agar seluruh elemen masyarakat bisa memiliki akses baca yang mudah. Selain itu, pemberian bantuan ini dapat meningkatkan literasi masyarakat.

"Untuk pemerintah sendiri. Kalau bisa tolong lah subsidi buku itu diturunkan. Karena kan kita itu cari buku bekas itu agar lebih murah. Kita lihat buku-buku yang baru itu mahal sekali. Ini pemerintah ini nggak mau ngasih subsidi. Ya andai kata misalkan dikasih subsidi secara signifikan. Pasti, saya yakin itu literasi bakal naik. Itu yang pertama," kata Ragil.

"Terus yang kedua, menurut saya. Memang ini berawal dari sejak dini. Kalau misalkan anak kecil itu sudah diterapkan atau sudah ditanamkan sebuah pemikiran literasi, ya mungkin dikasih baca-bacaan ringan dulu lah. Nah itu bisa meningkatkan anak kecil untuk suka membaca," pungkasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads