Kemendikdasmen Targetkan 70 Ribu Sekolah Direvitalisasi pada 2026

Kemendikdasmen Targetkan 70 Ribu Sekolah Direvitalisasi pada 2026

Eko Sudjarwo - detikJatim
Sabtu, 24 Jan 2026 21:40 WIB
Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI, Biyanto (baju merah)
Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI, Biyanto (baju merah). (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim)
Lamongan -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI menargetkan lebih dari 70 ribu sekolah di seluruh Indonesia akan menerima bantuan revitalisasi pada tahun anggaran 2026. Program ini difokuskan pada perbaikan infrastruktur pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kenyamanan proses belajar mengajar.

Target tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI, Biyanto, usai meresmikan gedung kelas SD Muhammadiyah Turi, Kecamatan Turi, Sabtu (24/1/2026). Biyanto menjelaskan, capaian program Revitalisasi Fisik (Refit) pada tahun sebelumnya bahkan melampaui target awal Presiden yang sebesar 14.440 sekolah, menjadi lebih dari 16.000 sekolah. Keberhasilan tersebut didukung oleh penerapan skema swakelola.

"Tahun ini program Refit tetap dilanjutkan. Sekolah yang sudah pernah menerima bantuan maupun yang belum sama sekali tetap punya peluang. Kami akan melihat data di Dapodik sebagai dasar pemberian bantuan," kata Biyanto kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain perbaikan bangunan, Kemendikdasmen juga menyalurkan dukungan teknologi pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis interaktif. Sementara itu, terkait kesejahteraan tenaga pendidik, Biyanto menyebut rencana kenaikan insentif guru swasta dari Rp 300 ribu menjadi Rp 400 ribu saat ini masih dalam pembahasan teknis.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Shodikin menyampaikan, pada tahun ini sebanyak 22 sekolah dasar di Lamongan telah rampung direvitalisasi. Ke depan, prioritas akan diberikan kepada sekolah-sekolah yang berada di wilayah rawan bencana, khususnya kawasan Bengawan Jero.

ADVERTISEMENT

Menurut Shodikin, terdapat 32 sekolah yang rutin terdampak banjir setiap tahun. Untuk itu, pihaknya mengusulkan penerapan desain bangunan khusus berupa sekolah panggung atau peninggian struktur bangunan.

"Kalau tidak sekolah panggung, lantainya ditinggikan sekitar satu meter dan atapnya juga dinaikkan. Dari kajian kami, itu cukup aman dari banjir," jelasnya.

Shodikin menegaskan, program revitalisasi ini bersifat inklusif dan tidak hanya diperuntukkan bagi sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta.

"Mudah-mudahan peluang yang disampaikan Kemendikdasmen ini bisa benar-benar terealisasi di Lamongan demi meningkatkan kualitas pendidikan," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads