Cuaca ekstrem yang memicu hujan lebat, banjir, hingga longsor masih menjadi perhatian masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur. Upaya mitigasi terus dilakukan untuk menekan dampak yang bisa mengganggu aktivitas harian.
Salah satu langkah yang digunakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Menurut data BMKG, curah hujan di Jawa Timur pada Januari 2026 meningkat tiga kali lipat dibanding Desember 2025.
OMC dilakukan sebagai langkah mitigasi agar intensitas hujan tidak terkonsentrasi di satu wilayah dan memicu bencana hidrometeorologi. Upaya serupa juga pernah dilakukan sebelumnya pada Desember tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan curah hujan di wilayahnya pada bulan tersebut tercatat sekitar 20 persen. Angka itu dinilai relatif rendah karena adanya OMC yang membantu mengendalikan intensitas hujan agar tidak terlalu deras.
Terbaru, Pemprov Jatim memperpanjang OMC hingga akhir Januari 2026 untuk mengantisipasi meningkatnya curah hujan dan potensi cuaca ekstrem. Ia juga menyebut efektivitasnya cukup tinggi.
"Saat ini OMC terus dilakukan dan rencananya hingga akhir Januari 2026. Efektifitasnya tinggi karena OMC itu mematangkan awan sebelum sampai daratan salah satunya hingga air hujan turun di laut," kata Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, Jumat (23/1/2026).
"Keputusan memperpanjang OMC ini dilakukan atas arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, setelah melihat potensi cuaca ekstrem yang akan berlanjut hingga awal tahun 2026. Kami juga melanjutkan langkah strategis penanganan cuaca ekstrem, berupa OMC, yang akan berlangsung hingga 31 Januari," imbuhnya.
Apa Itu OMC?
Dikutip @infobmkg, OMC merupakan upaya manusia dalam mengubah proses di atmosfer yang bertujuan menambah atau mengurangi curah hujan. OMC dilakukan dengan menyemai awan menggunakan pesawat terbang, dengan zat-zat tertentu seperti perak iodida, garam, dan bahan higroskopis lainnya.
Waktu paling tepat melakukan OMC yakni pada masa peralihan dari musim hujan ke kemarau. Pada periode tersebut, awan hujan masih tersedia sehingga dapat dimanfaatkan untuk proses modifikasi. Melalui upaya ini, OMC berperan membantu manusia dalam mengurangi dampak perubahan iklim serta cuaca ekstrem.
Manfaat OMC
Melalui teknologi ini, distribusi curah hujan dapat diatur agar tidak terpusat di satu area tertentu, sehingga diharapkan mampu menekan risiko banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya. Terdapat sejumlah manfaat dari Operasi Modifikasi Cuaca sebagai berikut.
- Mengatasi kekeringan dan meningkatkan ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi, PLTA, industri, dan air minum.
- Meningkatkan produksi pertanian, energi listrik, pertambangan, dan perkebunan.
- Mencegah atau meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan dan kabut asap
- Mengamankan pembangunan infrastruktur strategis nasional dan mendukung kelancaran event kenegaraan di area outdoor
Tahapan OMC
Dalam praktiknya, ada sejumlah strategi khusus untuk mengendalikan curah hujan. Pertama, awan dengan potensi menurunkan hujan deras akan dihujankan lebih awal saat masih berada di atas laut agar tidak sampai ke daratan.
Sedangkan, awan yang tumbuh di daratan akan disemai untuk menghambat pertumbuhannya. Dengan demikian curah hujan di wilayah tersebut bisa dikurangi. Berikut mekanisme cara kerja OMC yang dilakukan BMKG.
- BMKG memberi informasi lokasi awan target dan arah/kecepatan angin kepada flight scientist dan pilot yang akan bertugas on board dalam misi.
- Pesawat membawa muatan garam yang akan ditaburkan di awan target.
- Sebisa mungkin hujan akan diturunkan pada wilayah yang diinginkan, sesuai dengan keperluannya.
- Intensitas hujan terkurangi di daerah target bertambah/berkurang, tergantung tujuannya.
(hil/irb)











































