Indonesia bersiap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Tanah Air. Menyongsong PLTN pertama itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi PLN menggelar forum Capacity Building Awareness Nuklir 2026 demi memberi pemahaman objektif kepada masyarakat.
Wakil Rektor IV ITS Prof Agus Muhamad Hatta, mengakui tantangan terbesar PLTN adalah penerimaan publik. Menurutnya, banyak masyarakat yang menginginkan manfaat energi nuklir namun masih khawatir dengan risikonya.
"Kondisi tersebut menjadikan edukasi publik sebagai fondasi awal bagi masyarakat," kata Hatta di Auditorium Tower 2 ITS, Kamis (22/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hatta optimistis Indonesia mampu mengoperasikan PLTN dengan aman seperti negara maju lainnya. Saat ini, ITS pun mulai menyiapkan talenta dari berbagai disiplin ilmu untuk mendukung teknologi ini.
Terkait kesiapan nasional, Hatta menilai Indonesia memiliki kapasitas mengikuti jejak negara yang telah berhasil mengoperasikan PLTN secara aman. Menurutnya, keberhasilan negara lain membuka peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa.
"Untuk mendukung adopsi teknologi tersebut, ITS tengah menyiapkan talenta terbaik dari berbagai disiplin ilmu," ujarnya.
Wakil Rektor IV ITPLN, M Ahsin Sidqi mengatakan, keunggulan PLTN pada transisi energi, nuklir dapat menjadi diversifikasi sumber energi.
"Langkah tersebut berpotensi memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan kemandirian energi di Indonesia," kata Ahsin.
Sementara GM PLN Puslitbang Ketenagalistrikan Mochammad Soleh menilai Indonesia membutuhkan sumber energi baru terbarukan yang stabil. Menurutnya, karakteristik energi nuklir yang bersih dan dapat dikendalikan menjadikannya opsi yang relevan.
Pandangan ini sama dengan arah pengembangan energi nasional yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 - 2034. PLTN ditargetkan mulai beroperasi pada periode 2032 - 2034.
"Dengan waktu yang terbatas, kami berharap adanya keterlibatan aktif dari masyarakat, akademisi, dan peneliti," pungkasnya.
Kolaborasi antara ITS dan PLN mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khusunya untuk poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Selain itu, upaya ITS dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang energi baru terbarukan turut berkontribusi pada SDGs poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau.
