Banjir di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Jero, Lamongan masih berlangsung. Tinggi muka air sungai terpantau melampaui ambang batas Siaga Merah, sehingga ribuan rumah warga di lima kecamatan masih terendam.
Berdasarkan data UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kuro, pantauan papan duga air (peilschaal) di Kali Blawi menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Pada Minggu (18/1/2026), elevasi muka air tercatat di angka +0,74 meter. Hingga Rabu (21/1/2026) pukul 06.09 WIB, ketinggian air kembali meningkat menjadi +0,77 meter, jauh di atas ambang batas atas Siaga Merah yang ditetapkan pada elevasi +0,50 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banjir Bengawan Jero Lamongan Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim |
Kepala Bagian Komunikasi dan Informatika (Kabag Kominfo) Lamongan, Sugeng Widodo menjelaskan, kenaikan debit air Bengawan Jero dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Lamongan dalam beberapa hari terakhir.
"Curah hujan cukup tinggi terjadi secara merata di Lamongan. Air dari sejumlah wilayah ini kemudian bermuara ke Bengawan Jero sebelum akhirnya mengalir ke Bengawan Solo. Kondisi ini menyebabkan debit air meningkat signifikan," kata Sugeng Widodo kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Sementara itu, rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan mencatat, luapan Bengawan Jero berdampak pada 5.188 rumah warga dan 7.125 hektare lahan pertanian yang tersebar di lima kecamatan. Selain permukiman dan sektor pertanian, banjir juga berdampak pada dunia pendidikan. Puluhan lembaga pendidikan dilaporkan terdampak genangan air.
"Sebanyak 15 pompa air diaktifkan untuk atasi genangan air di sejumlah titik yang ada di wilayah Lamongan. Kapasitas pompa yang siaga berada di Rolak Kuro sebesar 8.500 lt/dt, terbagi menjadi beberapa kewenangan pusat, provinsi, dan kabupaten. Per 14 Januari 2025 kemarin, sebagai upaya penanggulangan banjir atas dasar masuknya siaga merah, ditambahkan sehingga menjadi 9.900 lt/dt yang terdiri dari 15 pompa," paparnya.
Sugeng melanjutkan, Pemkab Lamongan melalui BPBD terus melakukan pemantauan intensif, menyiagakan personel di wilayah terdampak, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk kesiapsiagaan evakuasi serta penyaluran bantuan darurat bagi warga.
"Dalam penanganan genangan air, fokus tidak hanya pada menurunkan tinggi muka air. Tetapi juga mengurangi durasi lama genangan, agar aktivitas masyarakat dapat tetap berjalan secara normal meskipun terjadi hujan dengan intensitas tinggi," lanjutnya.
Selain mengaktifkan pompa air, penanganan genangan juga dilakukan melalui pembuangan air secara gravitasi melalui Kali Corong, Kali Wangen, Kali Tebaloan, dan Kali Bendungan.
(auh/hil)












































