Unit Induk Distribusi (UID) Perusahaan Listrik Negara Jawa Timur membuat terobosan untuk mempermudah pemantauan operasional. Salah satunya dengan menggunakan virtual journey to green power.
Dengan terobosan tersebut, kini UID PLN Jawa Timur bisa memantau Perkembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), Pembangkit Listrik Mikrohidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) tanpa harus ke lokasi.
General Manager (GM) UID Jawa Timur, Achmad Mustaqir mengatakan dengan teknologi virtual journey ini telah diterapkan di pembangkit listrik tenaga (PLT) di PLTP Ijen, PLTMH, dan PLTSa Benowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui virtual tersebut, pihaknya dapat mengetahui secara langsung bagaimana proses operasional, terutama dalam rangka menghasilkan energi listrik.
"Kita bisa tahu berapa kapasitasnya, kita juga bisa melihat langsung secara virtual, bagaimana mereka berproduksi. Misalnya kayak di PLTSa Benowo itu, bagaimana mereka mengolah sampah menjadi energi listrik," kata Mustaqir kepada wartawan di PLN UID Jatim, Surabaya, Jumat (16/1/2026).
PLN Jatim juga memiliki unit pelaksana pengatur distribusi yang dapat memonitor seluruh gardu induk di Jawa Timur. Aktivitas petugas dalam melakukan pemeliharaan atau pengoperasian dapat termonitor melalui teknologi tersebut.
Unit induk distribusi dapat mengontrol, mengoperasikan peralatan yang ada di gardu induk, termasuk peralatan yang ada di jaringan tegangan menengah 20 kV. Meski tak di PLT, tetap bisa memonitor performa komunikasi hingga melakukan tindakan.
"Sehingga kalau terjadi gangguan, kita bisa dengan cepat cepat dan mudah lewat teknologi digital tadi itu untuk melakukan tindakan-tindakan perbaikan maupun pengoperasian peralatan di lapangan. Itu sekarang kita sudah lakukan," jelasnya.
Salah satu bukti teknologi dari PLN Jatim yang menjadi percontohan nasional adalah PLTSa Benowo, Surabaya. Sebab di tempat tersebut pihaknya bisa menghasilkan listrik terbaik dari sampah.
GM PLN UID Jatim Achmad Mustaqir (Foto: Esti Widiyana/detikJatim) |
PLTSa Benowo yang beroperasi sejak 30 November 2015 mampu menyumbang energi bersih mencapai 166,1 Gigawatt hour (GWh). Pembangkit berbahan bakar sampah kota ini merupakan program pemerintah dalam percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah Lingkungan.
Setiap tahunnya, PLTSa Benowo berkontribusi memasok energi bersih sekitar 5,5 GWh dan 30 GWh untuk masing-masing pembangkitnya. Dalam sehari, 1.600 ton sampah dapat diubah menjadi energi listrik yang menghasilkan 12 megawatt (MW).
"Itu menjadi potensi yang cukup potensial di kota-kota yang produksi sampahnya cukup besar. PLTSa Benowo itu adalah PLTSa yang sering menjadi benchmark dari provinsi-provinsi lain," terangnya.
"Karena itu salah satu PLTSa yang dari sejak operasi sampai sekarang itu masih bisa berjalan dengan normal. Beberapa PLTSa di tempat lain sebagaimana yang kita katakan belum seoptimal operasionalnya seperti di PLTSa," sambungnya.
Terbukti Ramah Lingkungan
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Dedik Irianto mengatakan, terdapat dua teknologi pengelolaan sampah yang dilakukan di PLTSa Benowo. Pertama dengan landfill gas power plan, metodenya menyedot gas metan pada tumpukan sampah dan menghasilkan listrik sebesar 2 MW setiap harinya.
"Teknologi kedua adalah gasifikasi power plan yang menghasilkan listrik 9 MW," imbuh Dedik.
Pengolahan sampah menjadi listrik di PLTSa Benowo ini menarik pemerintah pusat dan memacu kota lain untuk mengadopsi teknologi serupa dalam mengatasi persoalan sampah yang ada.
Dedik menambahkan, Pemkot Surabaya tidak hanya memastikan PLTSa Benowo berjalan efisien, tapi juga seluruh prosesnya aman bagi warga sekitar. Hal ini terbukti dari udara di sekitar PLTSa tetap bersih dan sehat.
Hal tersebut didasarkan pada pengujian gas emisi, melibatkan parameter debu partikulat PM2.5 di area sekitar cerobong dan permukiman, serta emisi dari cerobong PLTSa itu sendiri.
Dalam pengujian, hasilnya di titik buang aktif atau di dekat cerobong (827 meter dari cerobong) sebesar 3,9 Β΅g/NmΒ³ dan di titik buang tidak aktif (448 meter) sebesar 2,8 Β΅g/NmΒ³. Angka ini jauh di bawah baku mutu udara ambien yang ditetapkan, yaitu 55 Β΅g/NmΒ³ melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 2021.
"Kemudian pengukuran di permukiman Jawar (1,2 km dari TPA Benowo) menunjukkan kadar PM2.5 sebesar 1,6 Β΅g/NmΒ³. Ini membuktikan bahwa lingkungan permukiman tetap aman dari paparan emisi," jelasnya.
Emisi yang dihasilkan dari tiga boiler PLTSa terpantau sangat rendah. Boiler 1 tercatat 2,0 mg/NmΒ³, boiler 2 sebesar 3,5 mg/NmΒ³, dan boiler 3 sebesar 2,5 mg/NmΒ³. Angka-angka ini jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 120 mg/NmΒ³ sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 15 Tahun 2019.
"Lalu, emisi dari LFG 1 sebesar 4,7 mg/NmΒ³ dan LFG 2 sebesar 1,4 mg/NmΒ³. Kedua hasil ini juga berada jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 95 mg/NmΒ³ melalui PermenLHK No. 11 Tahun 2021," pungkasnya.
(esw/abq)

