Waspada Child Grooming, Komnas PA Surabaya Ungkap Tanda dan Cara Mencegah

Waspada Child Grooming, Komnas PA Surabaya Ungkap Tanda dan Cara Mencegah

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 16 Jan 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Pelecehan dan Penelantaran Anak
Ilustrasi Pelecehan dan Penelantaran Anak. (Foto: iStock)
Surabaya -

Fenomena child grooming belakangan ramai diperbincangkan dan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Hal ini berbahaya karena menyasar anak di bawah umur dengan cara membangun kepercayaan, lalu perlahan mengontrol korban dan menormalisasi perilaku tertentu.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya Syaiful Bachri mengingatkan orang tua untuk lebih waspada. Ia menilai salah satu kunci utama pencegahan terletak pada komunikasi yang terbangun di dalam keluarga.

"Pertama bangun komunikasi yang baik antara anak dengan keluarga, terutama dengan orang tua. Sehingga komunikasi ini akan membuat anak lebih nyaman untuk berbicara dan bisa curhat kepada teman yang ada di rumah yaitu orang tua," kata Syaiful saat dihubungi detikJatim, Kamis (15/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain komunikasi, orang tua juga diminta lebih peduli dengan perkembangan zaman dan isu yang sedang marak di lingkungan anak. Edukasi sejak dini dinilai penting agar anak memiliki bekal untuk menjauhi hal itu.

Lebih lanjut, Syaiful mengatakan minimnya kedekatan emosional sering membuat anak mencari perhatian di luar rumah.

ADVERTISEMENT

"Bisa jadi karena mereka merasa sendiri, tidak ada kedekatan secara emosional maupun kedekatan aktual kepada orang tua," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pembatasan dan pemantauan penggunaan media sosial dan gim daring. Pembatasan ini bukan semata larangan, melainkan bagian dari upaya melindungi anak dari pengaruh buruk.

Tantangannya, orang tua kerap dicap kolot atau tidak mengikuti zaman. Namun menurut Syaiful, hal itu bisa diatasi dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Orang tua pun diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Syaiful menyebut, tanda paling mudah dikenali apabila ternyata anak menjadi korban child grooming adalah perubahan sikap.

"Salah satu yang paling utama yang bisa kita lihat adalah perubahan. Baik perubahan sikap, perubahan dari gaya komunikasi, dari gaya berteman," jelasnya.

Anak yang menjadi korban biasanya cenderung lebih tertutup, sensitif, dan mudah bereaksi berlebihan karena kesulitan menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri. Apabila orang tua mendapati anaknya menjadi korban child grooming, Syaiful menyarankan agar mengajak anak berbicara secara terbuka dan menempatkan diri sesuai peran.

"Jadi, kita lihat dulu, ada batasan-batasan (memposisikan) anak sebagai anak, anak sebagai sahabat, anak sebagai teman," tuturnya.

Selain itu, orang tua perlu membekali diri dengan ilmu parenting agar mampu merespons perkembangan anak secara cepat dan tepat.

Tanggung jawab utama, kata Syaiful, tetap berada di pundak orang tua, bukan hanya untuk melindungi, tetapi juga membantu anak menyelesaikan masalahnya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memberikan apresiasi kepada anak.

"Dan yang paling penting adalah jangan sungkan untuk orang tua memberikan apresiasi kepada anak walaupun sekedar pujian," sarannya.

Komnas Perlindungan Anak Surabaya berharap dengan komunikasi yang hangat, pendampingan yang tepat, serta apresiasi yang cukup, anak tidak lagi haus pengakuan di luar rumah yang justru berpotensi menjerumuskan mereka pada hal-hal yang membahayakan.

"Karena banyak yang sekarang, maaf pencitraan atau mencari validasi di luar, termasuk di media sosial karena sejak awal enggak pernah diakui eksistensinya (oleh orang tua di rumah)," pungkasnya.



(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads