Penjelasan Pemkab Pasuruan Soal Ribuan Ikan Mati di Ranu Grati

Penjelasan Pemkab Pasuruan Soal Ribuan Ikan Mati di Ranu Grati

Muhajir Arifin - detikJatim
Rabu, 14 Jan 2026 21:45 WIB
Ikan mati di keramba budi daya kawasan Danau Ranu Grati
Ikan mati di keramba budi daya kawasan Danau Ranu Grati. (Foto: Muhajir Arifin/detikJatim)
Pasuruan -

Ribuan ikan mati di Ranu Grati, Pasuruan beberapa hari terakhir disebut karena fenomena sapon. Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Pasuruan mengungkap bahwa sapon adalah fenomena alam yang dipicu proses upwelling atau pengadukan arus di dalam danau.

Kabid Perikanan DKP3 Kabupaten Pasuruan, Wahid Setyantoro mengatakan upwelling menyebabkan lapisan air di dasar danau yang mengandung bahan organik terangkat ke permukaan. Kondisi ini membuat kadar oksigen terlarut menurun drastis sehingga ikan mengalami keracunan dan akhirnya mati mendadak.

"Secara ilmiah, sapon itu adalah upwelling. Terjadi pengadukan arus di dalam danau, sehingga bahan organik dari dasar naik ke atas. Akibatnya oksigen berkurang dan ikan tidak bisa bertahan," jelas Wahid Setyantoro, Rabu (14/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya fenomena ini sangat dipengaruhi faktor cuaca, khususnya angin barat yang belakangan kerap bertiup kencang. Angin itu memicu pergerakan massa air di danau sehingga sapon bisa terjadi kapan saja dan semakin sulit diprediksi.

"Kemarin sering muncul di waktu-waktu tertentu, sekarang sudah tidak bisa dipastikan. Selama angin barat masih aktif, sapon bisa datang tiba-tiba," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Dinas Perikanan mengimbau petambak untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca ekstrem. Meski sulit dicegah sepenuhnya pemantauan kondisi air dan pengurangan kepadatan ikan di keramba disebut bisa meminimalkan risiko kerugian.

Rusdi, petambak keramba di Ranu Grati menyatakan kematian ikan sering terjadi menjelang matahari terbit dan tenggelam. Terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

"Datangnya angin pagi dan sore. Kemarin satu kuintal mati, rugi Rp 3 juta. Sekarang tiga kuintal, rugi Rp 7 juta," terangnya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads