Sebuah video yang menampilkan anak-anak sekolah harus digendong saat melintasi jembatan rusak di Dusun Dayakan, Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, viral di media sosial. Kondisi jembatan yang memprihatinkan membuat warga khawatir, lantaran di sisi kiri dan kanan terdapat jurang dengan kedalaman sekitar 20 meter.
Jembatan darurat berbahan kayu dan bambu sepanjang kurang lebih 15 meter itu menjadi satu-satunya akses penghubung antara Desa Wagir Lor dan Desa Wates. Namun, struktur jembatan dilaporkan rusak parah akibat lapuk dan tergerus air hujan, sehingga hanya menyisakan jalur sempit selebar sekitar 20 sentimeter.
Salah seorang warga, Sarmini mengatakan, kondisi jembatan sempat longsor dan tidak memungkinkan dilalui kendaraan. Bahkan, anak-anak sekolah terpaksa digendong warga saat berangkat karena takut terpeleset dan jatuh ke jurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak tidak berani lewat, jalannya sempit sekali. Akhirnya digendong satu-satu oleh warga," ujar Sarmini saat ditemui detikJatim, Rabu (14/1/2026).
Sarmini menyebut, perbaikan sementara dilakukan secara swadaya oleh warga karena jalur tersebut merupakan akses utama anak-anak menuju sekolah dan ke pusat kota. Jika harus memutar, jaraknya jauh dan memakan waktu lama.
"Kalau harus muter lewat Jenangan itu jauh. Ini jalan satu-satunya," imbuhnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Gunanto. Ia menuturkan bahwa jalan poros kabupaten tersebut sudah mengalami kerusakan sejak akhir 2023. Awalnya masih bisa dilewati kendaraan roda empat, namun kini hanya bisa dilalui sepeda motor.
"Selasa kemarin jembatan sempat ambrol karena hujan deras. Tinggal selebar 20 sentimeter di bagian tengah, makanya anak-anak harus digendong," kata Gunanto.
Meski kini jembatan sudah kembali bisa dilewati, Gunanto mengaku warga masih waswas. Pasalnya, pondasi penyangga jembatan berada di tebing yang rawan longsor, terutama saat hujan deras turun.
"Kayunya juga sudah lama, mulai lapuk. Kalau hujan deras terus, takutnya bisa putus total," jelasnya.
Gunanto menambahkan, warga sebenarnya sudah beberapa kali melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait. Namun hingga kini, belum ada perbaikan permanen dari pemerintah.
"Sudah sering dilaporkan, tapi belum ada tindak lanjut. Padahal ini jalan penghubung dua desa," pungkasnya.
