Langit ke-1 Bertemu Siapa? Ini Nabi yang Ditemui Rasulullah Saat Mikraj

Langit ke-1 Bertemu Siapa? Ini Nabi yang Ditemui Rasulullah Saat Mikraj

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Rabu, 14 Jan 2026 11:45 WIB
Langit ke-1 Bertemu Siapa? Ini Nabi yang Ditemui Rasulullah Saat Mikraj
Ilustrasi peristiwa Isra Mikraj. Foto: Freepik/@pikisuperstar
Surabaya -

Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW hanya dijalankan dalam satu malam. Peristiwa penting ini sekaligus menandai diperintahkannya shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Dalam perjalanannya, Rasulullah didampingi Malaikat Jibril. Ia singgah di beberapa tempat dan menembus tujuh langit serta bertemu dengan para nabi terdahulu. Lantas siapa saja Nabi yang ditemui Rasulullah SAW? Berikut penjelasannya.

Awal Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

Ketika melakukan perjalanan Isra Mikraj, Rasulullah mengawali perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dengan mengendarai Buraq. Rasulullah singgah di lima tempat, setiap tempat ia singgah sejenak untuk melaksanakan salat dua rakaat. Perjalanan Rasulullah selama Isra Mikraj diabadikan dalam QS Al Isra ayat (17):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

ADVERTISEMENT

Pertemuan Rasulullah dengan Nabi Terdahulu di Langit Pertama

Setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW menemui para nabi. Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam AS. Dikutip dari buku bertajuk Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat sejak Adam AS hingga Muhammad SAW oleh Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, dikisahkan ketika Rasulullah SAW pertama kali bertemu Nabi Adam, baginda belum mengenalinya.

Sewaktu ditemui, Nabi Adam bersebelahan dengan roh zuriat di samping kanan dan kiri. Nabi Adam menjelaskan, "Inilah roh yang baik dan nafsu yang dijadikan dari ilyyin (takwa). Jika dia melihat roh-roh zuriatnya yang kafir, berkatalah dia, "Inilah roh jahat dan nafsu jahat yang dijadikan dari sijjin (api neraka)".

Roh zuriat di sebelah kanan adalah beberapa manusia yang keluar dari satu pintu dan mengeluarkan bau yang sedap (harum). Sedangkan, sebelah kirinya ada beberapa manusia yang keluar dari satu pintu dan mengeluarkan bau busuk.

Apabila Nabi Adam menoleh ke kanan, maka dirinya akan tersenyum dan gembira. Namun, jika Nabi Adam menengok ke kiri, ia bersedih dan kecewa.
Di awal perjumpaan, Rasulullah SAW memberi salam ke Nabi Adam AS. Lantas Nabi Adam AS menjawab, "Selamat datang Anda orang saleh dan Nabi yang saleh".

Kemudian, Nabi SAW kembali bertanya kepada Malaikat Jibril. Lalu, Malaikat Jibril menjelaskan, "Bahwasanya itulah bapak kamu, yaitu Adam AS. Yang kanannya itu adalah beberapa manusia dari zuriatnya yang terdiri dari ahli-ahli surga, manakala di sebelah kirinya pula ialah zuriatnya yang menjadi ahli Neraka. Dia menoleh ke kanan dan merasa gembira lantas senyum karena zuriatnya itu memasuki surga, dan jika dia menoleh ke kiri, dia merasa sedih serta kecewa karena melihat zuriatnya memasuki neraka. Adapun pintu yang keluar bau harum itu ialah pintu surga, dan pintu yang keluar bau busuk itu ialah pintu neraka."

Rasulullah mengajukan pertanyaan lagi, "Wahai Jibril, siapa dia?" Jibril menjawab, "Dia Adam, dan mereka itu anak keturunannya. Saat melihat ke sebelah kanan, mereka adalah para penghuni surga, Adam tertawa, dan saat melihat ke sebelah kiri, mereka adalah para penghuni neraka, Adam menangis".

Pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Adam disambut dengan hangat. Bahkan, Nabi Adam juga mendoakan Rasulullah agar senantiasa diberkahi dalam setiap urusan. Selain Nabi Adam, Rasulullah juga berjumpa dengan beberapa nabi lainnya.

Rasulullah SAW Bertemu dengan Nabi Lain Ketika Isra Mikraj

Perjalanan Rasulullah dilanjutkan ke langit kedua. Di sana, Baginda berjumpa dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Keduanya saling mendoakan Rasulullah agar senantiasa diberkahi dalam setiap urusan.

Setelah mendapat doa, Rasulullah SAW kembali melanjutkan perjalanan ke langit ketiga. Baginda berjumpa Nabi Yusuf AS, yang dikenal manusia tertampan yang diciptakan Allah SWT di bumi. Nabi Muhammad disambut dengan hormat dan penghargaan mendalam.

Bahkan, Nabi Yusuf juga memberikan separuh dari ketampanannya kepada Rasulullah SAW. Sebelum Rasulullah kembali meneruskan perjalanan, Nabi Yusuf mendoakan baginda agar senantiasa diberkahi dalam setiap urusan.

Di langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris AS. Ia merupakan manusia pertama yang mengenal tulisan dan nabi yang berdakwah kepada Bani Qabil serta masyarakat di Memphis, Mesir. Pertemuan itu disambut dengan hormat dan mendoakan kebaikan Nabi Muhammad agar diberkahi dalam setiap urusan.

Setelah itu, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan ke langit kelima. Baginda bertemu dengan Nabi Harun AS, yang dikenal mendampingi saudaranya, Nabi Musa AS, selama berdakwah kepada kaum Bani Israil. Nabi Harun turut menyertakan doa kepada Nabi Muhammad, ia memohon agar Rasulullah diberi kebaikan dan keberkahan dalam setiap perbuatan yang dilakukan.

Di langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa, yang dikenal mempunyai jasa luar biasa dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan membimbing mereka menuju kebenaran.

Pertemuan Nabi Musa dan Rasulullah SAW berlangsung akrab. Seolah keduanya seperti dua sahabat yang lama tidak berjumpa. Sebelum pergi, Nabi Musa AS memberikan doa kebaikan agar urusan yang dihadapi Rasulullah lantas dan diberkahi.

Rasulullah kembali melanjutkan ke langit ketujuh. Di sana, Baginda bertemu dengan Nabi Ibrahim AS, bapaknya para nabi. Kala itu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Makmur, tempat yang disediakan Allah SWT untuk para malaikat. Setiap hari, 70 ribu malaikat masuk ke dalam.

Nabi Ibrahim AS lalu mengajak Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha (pemisah antara dunia ciptaan Allah SWT dan alam yang lebih tinggi). Dinamakan muntaha (akhir) karena menjadi batas akhir perjalanan yang tidak ada satu makhluk pun, kecuali Rasulullah yang bisa melampauinya.

Rasulullah SAW menggambarkan Sidratul Muntaha seperti pohon besar dengan daun lebar mirip telinga gajah dan buah yang menyerupai tempayan besar. Namun, keindahan pohon itu berubah sewaktu Allah SWT hadir.

Menciptakan perubahan luar biasa hingga Nabi Muhammad tidak mampu menggambarkannya. Di tempat itulah, Rasulullah SAW berdialog langsung dengan Allah SWT, untuk mendapat perintah salat lima waktu dalam sehari.

Awalnya, Allah SWT memerintahkan salat 50 waktu. Namun, setelah mendapat nasihat dari Nabi Musa yang mengingatkan kemampuan umat, Rasulullah kembali memohon keringanan kepada Allah. Akhirnya, perintah tersebut diringankan menjadi lima waktu dalam sehari semalam.

Sejak saat itu, umat Islam diwajibkan melaksanakan salat lima waktu. Ibadah ini tak hanya menjadi rutinitas harian, tetapi menjadi sarana membangun kedekatan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Peristiwa Isra Mikraj sekaligus menjadi momentum penting dalam sejarah umat Islam menandai perintah salat lima waktu.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads