Mengapa Peristiwa Isra Mikraj Terjadi pada Malam Hari?

Mengapa Peristiwa Isra Mikraj Terjadi pada Malam Hari?

Chilyah Auliya - detikJatim
Selasa, 13 Jan 2026 16:00 WIB
Mengapa Peristiwa Isra Mikraj Terjadi pada Malam Hari?
Ilustrasi perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Foto: Freepik
Surabaya -

Sejarah Islam mencatat peristiwa Isra Mikraj sebagai salah satu mukjizat paling spektakuler yang dialami Nabi Muhammad SAW. Melalui firman-Nya dalam surah Al-Isra ayat 1, Allah SWT menegaskan bahwa perjalanan melintasi ruang dan dimensi ini terjadi pada malam hari (lailan).

Mengapa tidak terjadi di siang hari yang terang benderang agar lebih mudah disaksikan manusia? Merujuk pada pemikiran Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan para ulama dalam kitab Al-Ayatul Kubra, berikut hikmah mendalam di balik pemilihan waktu malam tersebut, detikers.

Alasan Isra Mikraj Terjadi Malam Hari

Dalam tradisi Islam, malam menjadi waktu yang sarat ketenangan, kekhusyukan, dan kedekatan spiritual, sehingga menjadi momen paling tepat bagi Nabi Muhammad SAW menerima mukjizat besar langsung dari Allah SWT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Malam Sebagai Ruang Privasi Ilahi

Malam merupakan waktu yang paling identik dengan ketenangan. Dalam tradisi spiritual, suasana hening malam adalah saat terbaik untuk membangun kedekatan khusus (khalwah) antara hamba dengan Sang Pencipta. Bagi Rasulullah SAW kesunyian malam menjadi waktu sempurna untuk menerima undangan istimewa ke Sidratul Muntaha tanpa adanya distraksi duniawi.

2. Menghapus Stigma Negatif tentang Waktu Malam

Dahulu, sebagian filsuf menganggap malam sebagai simbol keburukan atau waktu yang dipandang rendah. Namun, peristiwa Isra Mikraj hadir untuk memuliakan malam.

ADVERTISEMENT

Allah menampakkan momen-momen emas para Nabi justru terjadi di bawah langit gelap, seperti saat Nabi Ibrahim menemukan hakikat ketuhanan melalui pergerakan bintang, hingga diterimanya wahyu pertama Al-Qur'an di Gua Hira.

3. Manifestasi Kasih Sayang dan Ketenangan Jiwa

Secara naluriah, malam adalah waktu bagi manusia untuk beristirahat dan berkumpul dengan yang dicintai. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Furqan ayat 47, malam diciptakan sebagai pakaian untuk menenangkan jiwa.

Dalam konteks ini, Allah "menjemput" Rasulullah SAW pada waktu yang paling syahdu untuk memberikan ketenangan batin, sekaligus penghormatan tertinggi kepada dirinya.

4. Akumulasi Keistimewaan Waktu Malam

Malam memiliki privilese spiritual yang tidak dimiliki siang hari. Di antaranya sebagai berikut.

  • Lailatul Qadar: Malam yang nilainya melampaui seribu bulan.
  • Mustajabnya Doa: Waktu di mana pintu langit terbuka lebar bagi orang-orang yang bersujud, berbeda dengan siang yang umumnya hanya memiliki satu waktu mustajab pada hari Jumat.
  • Kewajiban Spiritual: Malam adalah waktu di mana perintah Qiyamul Lail diturunkan sebagai sarana penguatan jiwa.

5. Refleksi Keseimbangan Kehidupan

Penetapan malam sebagai waktu terjadinya Isra Mikraj juga mengingatkan manusia akan pembagian peran kehidupan. Jika siang adalah waktunya mencari nafkah atau ikhtiar lahiriah, maka malam adalah waktunya memanen kedamaian dan memperdalam aspek spiritual atau ikhtiar batiniah.

Malam pada peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar pergantian waktu, melainkan simbol bahwa dalam setiap kegelapan dan kesunyian, selalu ada cahaya mukjizat bagi hamba yang mau mendekat pada Sang Pemilik.




(hil/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads