- Mengenal Rubu' Mujayyab, Komputer Analog Sang Ahli Falak
- Bagian-bagian Rubu' Mujayyab
- Kitab Rujukan dan Logika Astronomi 1. Tiryaqil Aghyar (Syekh Bisri Musthofa, Rembang): 2. I'anatul Muhtaj (Syekh Ahmad Abdul Hamid, Kendal) 3. Ayatul Kubro fi Syarh Qisshotil Mi'raj (Imam Suyuthi)
- Sintesis Iman dan Ilmu
Peristiwa Isra Mikraj tidak hanya dipandang sebagai dogma teologis dalam tradisi intelektual Islam di Nusantara, tetapi juga menjadi ruang refleksi keilmuan, khususnya dalam kajian ilmu falak.
Para ulama tidak sekadar mengisahkan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, melainkan menghadirkan pendekatan nalar untuk memahami relasi ruang dan waktu melalui instrumen astronomi kuno yang presisi pada masanya, yakni Rubu' Mujayyab.
Mengenal Rubu' Mujayyab, Komputer Analog Sang Ahli Falak
Rubu' Mujayyab, atau yang secara teknis dikenal sebagai quadrant, merupakan perangkat astronomi berbentuk seperempat lingkaran yang digunakan untuk menghitung fungsi trigonometri, serta memproyeksikan peredaran benda langit pada lingkaran vertikal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alat yang umumnya terbuat dari kayu atau papan ini merupakan evolusi dari astrolabe, instrumen astronomi kompleks dari abad pertengahan yang kerap disebut sebagai salah satu bentuk komputer analog awal.
Jika astrolabe digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit melalui lubang pengintai dan piringan skala derajat, Rubu' Mujayyab hadir sebagai piranti yang lebih praktis, namun tetap fungsional.
Tokoh falak seperti Ibn Asy-Syatir, ahli astronomi dari Syam pada abad ke-14, dikenal memperagakan pergerakan harian benda angkasa melalui sistem benang dan bandul yang presisi.
Sejak abad ke-16, Rubu' Mujayyab banyak digunakan di dunia muslim untuk menyelesaikan persoalan dasar astronomi, mulai dari penentuan waktu salat, arah kiblat, hingga pembacaan posisi matahari dan bintang.
Bagian-bagian Rubu' Mujayyab
Secara teknis, Rubu' Mujayyab terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing memiliki fungsi krusial, mencerminkan ketelitian para ulama dalam memahami alam semesta. Berikut bagian-bagian Rubu' Mujayyab.
- Markaz: Titik sudut siku-siku sebagai pusat koordinat.
- Qousul Irtifa': Busur skala 0-90 derajat untuk mengukur ketinggian.
- Jaib Tamam dan Sittin: Garis-garis sinus yang memetakan grid-grid perhitungan.
- Khoit dan Syakul: Benang dan bandul yang berfungsi sebagai penunjuk posisi matahari atau bintang.
Kitab Rujukan dan Logika Astronomi
Ulama Nusantara memproyeksikan berbagai kitab dalam menghubungkan sisi spiritual Isra Mikraj dengan ketelitian observasi langit. Beberapa literatur yang menjadi acuan utama antara lain sebagai berikut.
1. Tiryaqil Aghyar (Syekh Bisri Musthofa, Rembang):
Melalui tulisan Pegon, ia menjelaskan bahwa waktu yang ditempuh dalam Isra begitu singkat, sementara Mikraj digambarkan dengan posisi koordinat yang sangat presisi antara hamba dan Pencipta.
2. I'anatul Muhtaj (Syekh Ahmad Abdul Hamid, Kendal)
Kitab ini secara rinci memetakan jalur perjalanan darat (Isra) sebelum memasuki fase perjalanan vertikal (Mikraj). Pendekatan ini selaras dengan penggunaan Rubu' Mujayyab yang mengandalkan pemetaan ruang dan garis lintang.
3. Ayatul Kubro fi Syarh Qisshotil Mi'raj (Imam Suyuthi)
Kitab ini menjadi inspirasi bagi ulama Nusantara dalam mengklasifikasikan fenomena langit secara sistematis, mirip dengan metode grid data lintang yang dikembangkan para astronom seperti Najm al-Din al-Misri dan Ibn al-Sarraj.
Sintesis Iman dan Ilmu
Penggunaan Rubu' Mujayyab sebagai pendekatan reflektif dalam memahami Isra Mikraj menghadirkan dua perspektif penting. Pertama, peristiwa sakral ini dipahami terjadi dalam koordinat waktu yang nyata, meski melampaui hukum fisika biasa.
Penggunaan alat ini menunjukkan bahwa para ulama tidak mempertentangkan mukjizat dengan hukum alam (sunatullah), melainkan menempatkannya dalam satu kesatuan kehendak Allah SWT.
Kedua, sebagaimana tersirat dalam berbagai kitab falak, Mikraj dipahami sebagai peristiwa yang menegaskan keterhubungan antara langit dan bumi. Rubu' Mujayyab mengajarkan bahwa setiap derajat di langit dan setiap jengkal di bumi berada dalam satu sistem matematis yang teratur, ciptaan Sang Khaliq.
Mempelajari Isra Mikraj melalui perspektif ilmu falak dan Rubu' Mujayyab menyadarkan kita bahwa Islam sangat menghargai nalar pengetahuan. Para kiai Nusantara telah mengajarkan bahwa untuk memahami kebesaran Allah yang tak terbatas, ilmu pengetahuan justru menjadi penguat iman.
Hingga kini, Rubu' Mujayyab tetap dikenang sebagai simbol kecerdasan intelektual muslim dalam membaca alam semesta, tanpa mengurangi kemuliaan mukjizat perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus lapisan-lapisan langit.
