Ratusan pedagang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1/2026). Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana relokasi aktivitas Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke wilayah Tambak Oso Wilangun.
Salah satu pedagang Pasar Pegirian, Ayu, menolak keras relokasi yang juga disetujui DPRD Surabaya. Menurutnya, lokasi baru dinilai tidak layak dan terlalu jauh dari lokasi sebelumnya.
"Tempatnya kecil, nggak layak dipakai. Kenapa baru sekarang dipindah, kami nggak mau pindah, rawan kecelakaan," kata Ayu kepada wartawan di depan DPRD Surabaya, Senin (12/1/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayu dan pedagang lainnya menegaskan, penolakan untuk dipindahkan ke tempat baru. Ia juga menyayangkan tidak adanya musyawarah, termasuk dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Padahal, Ayu mengaku telah berjualan selama 20 tahun. Namun, rencana relokasi tersebut disebut dilakukan tanpa sosialisasi, sehingga memicu kekecewaan hingga aksi demonstrasi.
"Nggak mau dipindah, Pak Eri. Kita rakyat kecil Pak Eri. Di sana rawan begal Pak Eri. Kasihan. Jualan sudah 20 tahun, baru sekarang dipindah, tempatnya nggak layak. Kok tidak musyawarah dengan masyarakat kecil, kok moro-moro langsung dikasih undangan dipidah di Oso Wilangun. Jauh. Andaikan Pak Eri bisa silaturahmi sama warga, dipindah di Suromadu aja nggak apa-apa, pak," jelasnya.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Khusnul Khotimah. Ia menilai jarak lokasi relokasi terlalu jauh dan tidak didahului sosialisasi.
"Habis lebaran mau dipindah. Sebelumnya nggak ada (sosialisasi), tiba-tiba udah mau dipindahkan," pungkas Khusnul.
Sebelumnya, ratusan pedagang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1/2026). Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana relokasi aktivitas Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian.
Dari pantauan detikJatim, massa datang menggunakan satu mobil komando. Mereka membawa sejumlah poster berisi penolakan relokasi serta replika keranda sebagai simbol matinya mata pencaharian jika relokasi tetap dilakukan.
Tak hanya itu, massa juga membawa seekor sapi sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan relokasi. Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian.
Dalam orasinya, para pedagang menyebut relokasi dinilai tidak memiliki alasan yang jelas dan dikhawatirkan justru akan mematikan penghidupan pedagang.
Para pedagang juga mempertanyakan dasar kebijakan relokasi yang dilakukan tanpa sosialisasi menyeluruh. Mereka menilai, pemindahan ke RPH ke kawasan Oso Wilangun tidak mempertimbangkan akses pembeli, jalur distribusi, serta potensi penurunan omzet.
