Banyak Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Komnas PA Minta Ortu Waspada

Banyak Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Komnas PA Minta Ortu Waspada

Aprilia Devi - detikJatim
Sabtu, 10 Jan 2026 14:00 WIB
Banyak Anak Terpapar Ideologi Ekstrem, Komnas PA Minta Ortu Waspada
Ilustrasi anak-anak/Foto: Getty Images/iStockphoto/kieferpix
Surabaya -

Belasan anak di Jawa Timur diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem lewat komunitas di media sosial. Komnas Perlindungan Anak Surabaya pun mengingatkan peran orang tua hingga sekolah.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya Syaiful Bachri mengingatkan orang tua agar tidak abai terhadap penggunaan gawai dan media sosial pada anak.

"Yang pertama bahwa terkait dengan adanya banyak penggunaan gawai, media sosial yang tanpa kontrol dari orang tua, ini juga jadi bahaya untuk anak-anak," ujar Syaiful, Sabtu (10/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam pengasuhan sehari-hari, termasuk soal penggunaan handphone.

ADVERTISEMENT

Komnas Perlindungan Anak, kata Syaiful, menyoroti masih banyak orang tua yang lengah hingga anak terlanjur kecanduan gawai.

"Jangan alay dan jangan abai terhadap apa yang ada pada anak terutama dengan dengan handphone. Jangan sampai ada banyak orang tua yang mengeluh anaknya menjadi kecanduan handphone manakala kasih sayang orang tua tidak bisa masuk pada mereka," tegasnya.

Menurutnya, minimnya kontrol dari orang tua berpotensi membahayakan anak, terutama di tengah masifnya arus konten digital.

"Orang tua juga harus tahu bagaimana dan tidak boleh HP tersebut di password," tambahnya.

Lebih jauh, Syaiful menegaskan tanggung jawab orang tua tidak berhenti sebatas melindungi. Menurutnya, orang tua harus siap dimintai pertanggungjawaban jika terjadi sesuatu pada anak.

"Makanya kemarin kita buat kita masih mengusulkan bahwa bagaimana kalau misalnya terjadi sesuatu terhadap anak yang menjadi sasaran pertanggungjawaban adalah orang tua," katanya.

Selain peran keluarga, Syaiful juga memberi catatan khusus bagi sekolah. Ia mendorong penguatan komunikasi serta kebijakan ketat penggunaan gawai di lingkungan pendidikan.

"Yang menjadi permasalahan kan semua sekarang menggunakan skema (penggunaan gadget) itu, menggunakan skema handphone, sehingga bagaimana dari pihak sekolah bisa melakukan dan mengaktifkan ruang multimedia secara baik dan efektif," tukasnya.

Untuk informasi, dilansir dari detikNews, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menemukan adanya komunitas media sosial yang terkait penyebaran ideologi kekerasan ekstrem melalui grup True Crime Community (TCC).

Temuan tersebut mengungkap setidaknya 70 anak terpapar ideologi kekerasan ekstrem dan tersebar di 19 provinsi, dengan jumlah terbanyak berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri, organisasi, maupun institusi. Tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional," kata Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Ekadalam, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026).

Adapun rinciannya, DKI Jakarta 15 anak, Jawa Barat 12 anak, Jawa Timur 11 anak, Lampung 1 anak, Jawa Tengah 9 anak, DIY 1 anak, Bali 2 anak, NTT 1 anak, Aceh 1 anak, Sumut 1 anak, Kepri 1 anak, Riau 1 anak, Sumsel 2 anak, Banten 2 anak, Kalbar 2 anak, Kalteng 2 anak, Kalsel 3 anak, Sulteng 1 anak, dan Sultra 2 anak.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads