Tradisi Unik Peringatan Isra Mikraj di Indonesia

Tradisi Unik Peringatan Isra Mikraj di Indonesia

Anastasia Trifena - detikJatim
Jumat, 09 Jan 2026 19:00 WIB
Tradisi Unik Peringatan Isra Mikraj di Indonesia
Ilustrasi tradisi Isra Mikraj di Indonesia. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Perayaan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW akan diperingati pada 16 Januari 2026. Peringatan ini mengingatkan tentang perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa itu menjadi momen diterimanya perintah salat lima waktu bagi umat Islam.

Di Indonesia, Isra Mikraj tidak hanya dimaknai sebagai hari keagamaan. Terdapat beberapa perayaan di berbagai wilayah Indonesia yang menjadi ruang ekspresi budaya. Sejumlah daerah merayakannya dengan tradisi khas yang diwariskan secara turun temurun dan masih lestari hingga kini.

Tradisi Isra Mikraj di Indonesia

Mulai dari ritual doa bersama, arak-arakan simbolik, hingga sajian khas daerah, tradisi-tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia merawat makna Isra Mikraj melalui praktik budaya yang sarat kebersamaan dan identitas lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Rejeban Peksi Buraq - Yogyakarta

Keraton Yogyakarta memiliki cara tersendiri memperingati Isra Mikraj lewat tradisi Rejeban Peksi Buraq. Dua burung Buraq sebagai simbol kendaraan Nabi Muhammad dibuat dari kulit jeruk Bali, dan disusun di atas gunungan buah seperti manggis, rambutan dan tebu.

Gunungan ini diarak abdi dalem Kaji Selusin dari Bangsal Kencana menuju serambi Masjid Gede Kauman, sebelum akhirnya diperebutkan warga sebagai simbol berkah.

ADVERTISEMENT

2. Nyadran - Siwarak, Semarang

Tradisi Nyadran berasal dari kata 'Sraddha' yang berarti keyakinan. Suasana kampung di Semarak pasti semarak saat tradisi ini digelar.

Warga beramai-ramai mengikuti kirab budaya dengan membawa replika burung Siwarak dari hasil bumi. Tradisi Nyadran juga diisi dengan kegiatan pembersihan makam, tabur bunga, hingga selamatan sebagai wujud penghormatan dan doa bersama.

3. Nganggung Dulang - Bangka Belitung

Semangat kebersamaan terasa kuat dalam tradisi Nganggung di Bangka Belitung. Warga membawa aneka hidangan di atas dulang yang ditutup tudung saji menuju masjid balai desa.

Makanan kemudian disantap bersama usai doa dan pengajian. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong yang terus dijaga masyarakat setempat.

4. Ambengan - Magelang

Dalam bahasa Magelang, 'ambengan' artinya makan. Bagi warga Magelang, momen Isra Mikraj tak lengkap jika tak ada momen makan bersama.

Setiap keluarga membawa makanan dari rumah untuk dikumpulkan di masjid atau musala. Kemudian, hidangan tersebut dinikmati bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus menjadi momen untuk mempererat silaturahmi antar warga.

Selain Magelang, berbagai daerah di Jawa Timur juga merayakan Isra Mikraj dengan menggelar Ambengan. Meski dalam bentuk yang berbeda, tradisi ini tetap memiliki makna perayaan yang sama.

5. Kerja Tahun - Karo, Sumatera Utara

Masyarakat Karo di Sumatera Utara menyatukan nuansa adat dan keagamaan lewat tradisi Kerja Tahun. Pesta rakyat yang berakar dari syukuran panen ini kerap dirangkai dengan peringatan hari besar Islam, salah satunya Isra Mikraj. Selain ritual adat, acara diisi doa bersama sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah.

7. Rajaban - Cirebon

Tradisi Rajaban menjadi penanda datangnya Isra Mikraj di Cirebon. Peringatan diawali dengan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Setelah itu, warga mengikuti pengajian dan pembagian nasi berkat sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan.

8. Khatam Kitab Arjo - Temanggung

Peringatan Isra Mikraj di Temanggung berlangsung khidmat lewat tradisi Khatam Kitab Arjo. Kitab berbahasa Jawa berhuruf Arab Pegon yang mengisahkan perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW dibacakan secara tuntas. Pembacaan dipimpin tokoh agama dan diikuti masyarakat dalam suasana khusyuk.

9. Ngusiran - Lombok, Nusa Tenggara Barat

Di Lombok, Isra Mikraj dirayakan dengan tradisi Ngusiran atau cukur rambut bayi. Bayi di bawah 6 bulan dibawa ke masjid untuk dicukur rambutnya dan dipegang kepalanya secara bergantian oleh seluruh tamu sebagai simbol pembersihan diri dan doa keselamatan. Tradisi ini masih dijalankan hingga kini oleh masyarakat Sasak.

10. Pawai Obor - Bandung

Malam Isra Mikraj di Bandung identik dengan pawai obor. Ribuan warga berjalan beriringan membawa obor sambil melantunkan selawat. Cahaya obor yang menerangi jalan menciptakan suasana religius, sekaligus menjadi simbol penerangan dan perjalanan spiritual.




(hil/irb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads