Kue keranjang tidak pernah absen dalam perayaan tahun baru Imlek. Dalam bahasa Mandarin, kue ini disebut nian gao yang secara harfiah berarti kue tahunan. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula dengan tekstur lengket kenyal, serta sering dikukus dalam cetakan bambu yang memberi nama 'keranjang' di Indonesia.
Kehadiran kue keranjang tidak semata sebagai hidangan wajib, tetapi juga simbol doa dan harapan dalam perayaan Imlek. Kue ini biasa disajikan saat sembahyang, dibagikan kepada kerabat, serta dinikmati bersama keluarga sebagai penanda datangnya tahun baru dan harapan akan keberuntungan serta keharmonisan.
Asal-usul Kue Keranjang
Kue keranjang memiliki beberapa asal-usul yang erat dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat Tionghoa sejak ratusan tahun lalu. Melansir dari laman Kemendikdasmen, kue keranjang diyakini sebagai penyelamat dari makhluk buas bernama Nian yang sering menakuti dan mencelakai penduduk setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kue keranjang dibuat sebagai persembahan untuk makhluk tersebut sehingga mereka dapat hidup tentram dan aman. Selain legenda Nian, situs China Highlight mencatat kue keranjang juga berkaitan dengan kepercayaan terhadap Dewa Dapur yang bersemayam di setiap rumah.
Baca juga: Tahun 2026 Shio Apa yang Paling Beruntung? |
Menjelang tahun baru Imlek, Dewa Dapur diyakini akan menyampaikan laporan tahunan kepada Kaisar Giok mengenai kehidupan sebuah keluarga. Kue keranjang kemudian dihidangkan sebagai simbol doa agar laporan yang disampaikan bersifat baik.
Dikutip dari detikNews, legenda lain menyebut kue keranjang telah dikenal sejak 2.500 tahun lalu. Hal ini berkaitan dengan tokoh Kerajaan Wu, Wu Zixu. Setelah wafatnya sang jenderal, Raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu dan menyebabkan penduduk terjebak dalam pengepungan panjang tanpa persediaan makanan.
Dalam kondisi tersebut, warga teringat pesan Wu Zixu yang menyarankan agar menggali bagian bawah tembok kota saat kehabisan makanan. Fondasi tembok yang terbuat dari bahan berbasis tepung beras ketan kemudian dimanfaatkan dan berhasil menyelamatkan banyak orang dari kelaparan.
Sejak itu, masyarakat dipercaya membuat nian gao setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap Wu Zixu, yang kelak berkembang menjadi hidangan khas perayaan tahun baru Imlek.
Baca juga: 7 Simbol Imlek yang Sarat Makna |
Makna Kue Keranjang Saat Perayaan Imlek
Secara bahasa, kata nian (εΉ΄) berarti tahun, sementara gao (η³) artinya kue. Namun, pelafalan gao juga menyerupai kata ι« yang berarti "tinggi" atau "meningkat". Karena itu, selain memiliki arti sebagai kue tahunan, nian gao juga dimaknai sebagai harapan agar kehidupan, rezeki, dan pencapaian seseorang menjadi lebih baik dari tahun ke tahun (nian nian gao sheng εΉ΄εΉ΄ι«ε).
Tekstur kue keranjang yang lengket juga mengandung filosofi tersendiri. Kelengketan melambangkan eratnya hubungan keluarga, keharmonisan, dan persatuan. Makna ini selaras dengan nilai utama perayaan Imlek yang menekankan kebersamaan keluarga dan mempererat tali persaudaraan.
Bentuk kue keranjang yang umumnya bulat turut memperkuat simbol tersebut. Bentuk bulat dalam budaya Tionghoa melambangkan keutuhan dan kesempurnaan, serta doa agar keluarga tetap utuh dan hidup berjalan seimbang di tahun yang baru.
Selain sebagai simbol doa, kue keranjang juga mencerminkan rasa syukur dan berbagi rezeki. Setelah Imlek, kue ini biasanya dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan sahabat sebagai wujud harapan akan keberuntungan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama.
(hil/irb)











































