Perayaan Imlek tahun ini jatuh pada 17 Februari 2026. Tandanya, lampion-lampion akan segera dipasang, ornamen serba merah menghiasi sudut-sudut kota, serta angpao dan hiasan khas kembali disiapkan.
Namun, tahukah detikers, simbol-simbol tersebut ternyata mengandung suatu makna? Di balik kemeriahan Imlek, setiap simbol menyimpan filosofi yang merepresentasikan doa akan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.
Simbol-simbol Imlek
Beragam simbol khas dalam perayaan Imlek selalu sarat makna dan filosofi. Setiap simbol mengandung harapan serta doa akan keberuntungan, kemakmuran, dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Berikut simbol-simbol yang erat kaitannya dengan Imlek dan maknanya berdasar rangkuman detikJatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Warna Merah
Ilustrasi Monster Nian. Foto: (China Highlight) |
Warna merah menjadi elemen utama dalam perayaan Imlek karena diyakini membawa energi positif dan keberuntungan. Dalam legenda kuno, warna merah dipercaya mampu mengusir Nian, monster yang konon muncul setiap akhir tahun lunar dan menakuti penduduk desa.
Sejak saat itu, tradisi menggantung kain atau ornamen merah di pintu rumah dilakukan sebagai simbol perlindungan dari malapetaka. Filosofi merah juga terkait dengan elemen api dalam Wu Xing (lima elemen), yang melambangkan semangat hidup, keberanian, dan transformasi buruk menjadi baik.
Penggunaan warna merah pada baju baru, amplop angpao, dan dekorasi rumah menciptakan suasana optimis dan menandakan pembaharuan diri, serta harapan akan tahun baru yang penuh keberuntungan bagi semua anggota keluarga.
2. Warna Emas
Ilustrasi lampion warna merah dan emas. Foto: Dok. iStock |
Warna emas memiliki makna yang melengkapi warna merah, yakni melambangkan kekayaan material dan spiritual. Makna tersebut terinspirasi dari cahaya matahari yang menyinari bumi setelah musim dingin, di mana membawa kesuburan saat musim semi.
Dalam budaya Tionghoa, emas juga dikaitkan dengan elemen tanah yang stabil dan memberikan rasa aman secara finansial dan kemuliaan moral bagi pemiliknya. Kombinasi emas dengan merah menciptakan harmoni Yin-Yang.
Di mana, merah (aktif dan panas) diseimbangkan dengan emas (pasif dan hangat), sehingga tercipta filosofi Taoisme tentang keseimbangan alam semesta. Hiasan emas pada meja sembahyang atau pintu masuk diyakini 'menarik' chi positif, sehingga aliran rezeki dapat lancar sepanjang tahun baru.
3. Lampion
Ilustrasi lampion. Foto: Unsplash/@hngstrm |
Lampion merah berasal dari Dinasti Han. Awalnya digunakan untuk penerangan saat perayaan panen, tetapi kemudian berkembang menjadi simbol cahaya yang mengusir kegelapan dan roh pengembara.
Bentuknya yang bulat melambangkan langit dan kesempurnaan, sementara warna merahnya melambangkan perlindungan terhadap energi negatif. Pada hari ke-15 Imlek (Cap Go Meh), pelepasan ribuan sky lantern menyiratkan makna melepaskan beban masa lalu dan melayangkan doa untuk masa depan cerah.
4. Naga
Ilustrasi naga di perayaan Imlek. Foto: Tripa Ramadhan |
Dalam mitologi Tionghoa, naga dianggap sebagai dewa penguasa air, hujan, dan sungai. Saat parade barongsai, detikers akan melihat tarian naga menggoyang-goyangkan tubuhnya. Hal tersebut memiliki pesan bahwa sang naga dapat 'membangunkan' hujan dan memastikan panen yang melimpah bagi petani.
Sebagai Shio, naga dianggap membawa ambisi, karisma, dan kesuksesan bagi siapapun yang lahir saat tahun shio Naga. Sebagai simbol Yang, naga seimbang dengan phoenix (Yin) karena mengajarkan harmoni gender dan elemen kosmik dalam kehidupan sehari-hari.
5. Angpao
Ilustrasi angpao Imlek. Foto: Rifkianto Nugroho |
Angpao berasal dari tradisi Tiongkok Selatan, di mana koin tembaga dibungkus kain merah untuk diberikan anak-anak guna mengusir hantu saat tahun baru. Tradisi ini kemudian berevolusi menjadi uang kertas modern.
Pemberian dari orang tua atau yang lebih tua kepada yang muda melambangkan 'transfer' kebijaksanaan, kasih sayang, dan doa rezeki berlipat. Nominal angpao selalu genap (seperti 88 untuk kekayaan ganda) dan menghindari angka 4 yang dianggap membawa kesialan.
Filosofi numerologi Tionghoa menekankan pada kelimpahan hidup. Tradisi ini memperkuat ikatan keluarga yang multigenerasi, di mana nilai emosional dan kebersamaan lebih utama daripada jumlah yang diterima.
6. Huruf Fu
Huruf Fu (η¦) secara harfiah berarti keberuntungan atau kebahagiaan. Biasanya huruf ini ditulis dengan kaligrafi yang indah dan digantung terbalik karena pengucapan "fΓΉ dΓ o le" mirip dengan "keberuntungan datang".
Posisi terbalik tersebut disengaja sebagai permainan kata yang juga menyimbolkan kecerdasan rakyat dalam menyambut berkah tahun baru. Filosofi Konfusianisme di balik Fu menekankan harmoni sosial, kesehatan, dan kemakmuran keluarga.
Penempatan pada pintu utama bertujuan untuk menangkap energi positif dari jalan raya. Tradisi ini mengajarkan optimisme, di mana doa sederhana melalui simbol visual diyakini mempengaruhi realitas kehidupan sepanjang siklus lunar.
7. Bunga Plum dan Bambu
Bunga plum yang mekar pertama di musim dingin sebelum musim semi melambangkan ketahanan, harapan, dan kelahiran kembali di tengah kesulitan. Dalam puisi Tionghoa klasik, plum juga disebut sebagai 'bunga salju' yang tahan banting, sehingga melambangkan ketekunan dalam menghadapi cobaan hidup.
Sedangkan, bambu bermakna umur panjang, fleksibilitas, dan kemurnian karena batangnya tegak lurus, daunnya kecil, dan tidak pernah layu meski diterpa angin kencang.
Saat ditempatkan dalam vas, bunga plum dan bambu biasanya dilengkapi dengan pinus yang melambangkan kekuatan. Sehingga saat digabungkan, ketiga tanaman ini menjelma sebagai doa suatu keluarga yang memohon kekuatan, umur panjang, dan kemakmuran dalam rumahnya.
(irb/irb)
















































